Cermin Tanpa Kaca
H-1.071 Gurusiana
Cermin Tanpa Kaca
Berhias tanpa cermin bagai mematut diri tanpa kaca. Sudah dapat dibayangkan bagaimana hasilnya. Pasti tidak sesuai harapan. Karena itu untuk memperoleh hasil yang baik, dibutuhkan cermin, agar dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan. Sehingga hasilnya menjadi sempurna.
Jika dianalogikan bercermin adalah tingkah laku, dan kaca adalah kritikan atau masukan. Maka orang yang berakhlak sangat membutuhkan kritikan dan masukan. Sebagai pengendali perilakunya di saat menyimpang. Maka orang yang bijaksana tidak alergi terhadap kritik . Bahkan ketika dikritik , dijadikan sebagai ukuran kualitas perilaku kita.
Kadang kita merasa perilaku kita sudah benar. Tapi kebenaran itu bukan milik kita. Tapi milik mata-mata yang selalu mencari kelemahan dan kekuatan kita.
Tidak perlu demam atau alergi kritik, saran, dan masukan. Karena sejatinya kritik, saran, atau masukan adalah energi yang bergizi yang akan mengubah derajat kita menjadi lebih cantik dan menawan. Bernilai mulia, mahal dan profesional.
Jadilah cermin yang jernih. Agar dapat menunjukkan noda-noda hitam perilaku kita dan dapat memperbaikinya.
Sering-seringlah bercermin. Agar tak mudah menuduh orang lain salah.
Gambar: istock
Bandung, 30 Juni 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
