Mahalnya Kejujuran
H-1260 Gurusiana
Mahalnya Kejujuran
Entah kali ke berapa suami saya bilang bahwa saya teledor. Sering banget kehilangan mas, katanya waktu itu. Tapi saya tak marah karena setiap peristiwa kehilangan memang selalu bertumpu di genggaman saya.
Belum lama saya kehilangan kalung tujuh gram. Bukan sedang dipakai, tapi raib dari penyimpanan. Saya pikir lupa menyimpan. Tapi setelah dicari di semua ruang di rumah. Tetap tidak ketemu. Sebelum itu saya juga kehilangan cincin. Tiga gram. Jatuh entah di mana. Karena memang cincin itu agak longgar. Dan tadi pagi tiba-tiba saat berwudhu, baru ngeh bahwa pergelangan tangan saya kosong. Kemana gelangnya.
Wajar jika suami bilang bahwa saya lalai, teledor. Nyatanya semua kehilangan itu terjadi pada saya. Saya disarankan untuk tidak menggunakan perhiasan untuk sementara.
Sepanjang perjalanan ke kantor saya berpikir, di mana jatuhnya gelang sepuluh gram, dengan permata coklat yang sangat saya sukai itu. Namun tetap tak menemukan jawaban.
Setelah salat Duha, saya berdoa. "Ya Allah, jika kehilangan kali ke sekian ini, karena saya lalai dalam sedekah saya, dan Engkau ambil untuk menebus hal itu, saya ikhlas. Namun jika gelang kesukaan saya hilang karena kelalaian saya saat menggunakannya, saya mohon ampun, dan kembalikanlah. Karena barang itu memiliki nilai yang tak bisa diungkapkan maknanya.
Saat hendak bersiap pulang, seseorang datang bertanya. "Ibu ketinggalan sesuatu?" Tanyanya.
Saya jawab, tidak. Namun tangannya menyodorkan gelang saya yang hilang. Dia bercerita bahwa barang itu ditemukan di kamar mandi kantor. Rupanya jatuh saat berwudhu hari kemarin.
Lalu saya tanya, mau saya ganti berapa? Dia jawab "Gak usah Ibu, kemarin saya temukan di bawah kran, saya tahu itu punya Ibu, mau saya simpan di dalam laci meja ibu, tapi khawatir gak aman. Akhirnya saya bawa." Jawab OB yang setiap hari bersih-bersih di ruang kantor saya.
Kejujuran ini menjadi sangat mahal. Karena tidak setiap yang menemukan barang akan menyebarkan. Tetapi menjadi barang temuan yang bisa dinikmati. Padahal jika OB ini tidak jujur, Dia bisa menjualnya ke toko mas tanpa membawa suratnya. Dengan harga sekarang, sedikitnya sepuluh juta akan Dia kantongi. Tapi Dia tidak melakukannya. Melainkan menyerahkannya kepada pemilik nya. Di sinilah ketak kejujuran paling mahal. Bersyukur masih ada orang jujur di sekitar kita.
Cilegon, 7 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan