Siti Jamiatu Sholihah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bahagia di Usia Senja

H-1294 Gurusiana 

Bahagia di Usia Senja 

"Sudah berapa lama Anda menikmati masa purna" tanya Kamil kepada salah satu pensiunan yang sedang antre menunggu panggilan, mengambil gaji pensiunannya.

"Dua tahun" jawab bapak yang terlihat masih gagah dan gesit. Tidak seperti pensiunan yang lain, terlihat menyedihkan. Badan kurus seperti tidak sehat. Memakai tongkat, dan badannya dibalut jaket, serba semerbak aroma minyak angin khas yang biasa digunakan orang yang sudah tua dan sakit-sakitan. 

Bapak satu ini beda. Terlihat masih gagah, gesit, terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Hanya rambut yang sudah terlihat memutih. Tidak terlihat rona wajah yang susah. Begitu tenang menikmati hidup. 

Menguping percakapannya bersama sesama penunggu antrean, membuat saya membuka mata, membuka dunia yang selama ini sesak dengan teori. 

Menurutnya, hidup itu harus dinikmati. Sayang badan jika hanya dibebani pikiran yang melelahkan. Namun yang harus menjadi perhatian, semua urusan jangan berlebihan. 

Usia boleh tua, rangka badan boleh berubah, tapi pikiran tak boleh terganggu dengan sesuatu yang memberatkan.

Apa itu yang memberatkan? Kewajiban di luar kemampuan. Jika masih menanggung kewajiban di luar kemampuan, pasti tidak dapat hidup tenang. Mengapa? Karena dihantui berbagai bayangan. 

Bayangan apa saja? Bayangan sesak dengan kewajiban yang membuat pikiran mumet, bayangan raga yang terus dihantui penyakit, bayangan usia yang jika sampai waktunya pulang, masih menyisakan masalah. Belum lagi anak-anak yang masih butuh biaya dan masa depan, atau bahkan jika sampai waktunya purna, masih dikejar berbagai tagihan utang ini itu yang jelas akan menghilangkan rasa bahagia. 

Entah mengapa saya menjadi betah menjadi pendengar. Apa yang baru saja saya dengar, terasa begitu menampar. Mengapa banyak orang yang begitu memasuki purna, kehidupannya berubah drastis. Ternyata rahasianya terbongkar seperti apa yang dikatakan bapak tadi. 

Ketika dikonfirmasi apakah yang dilakukan selama dua tahun purna, sehingga terlihat bahagia. Ternyata yang utama adalah menerima setiap suratan dengan lapang dada, menikmati hidup mengalir tanpa khawatir, tidak memiliki utang, dan rezeki yang ada digunakan untuk kebahagiaan bersama pasangan. 

"Saya sesekali masih menggandeng tangan pasangan, sebagai wujud terima kasih saya, yang tidak bisa memberikan kebahagiaan yang maksimal. Setidaknya, kekurangbahagiaan hidup itu tidak hanya diderita pasangan, tetapi dinikmati berdua sebagai dinamika hidup dan kehidupan. 

Tidak membiarkan pasangan kita berpikir sendiri. Tapi saling menitipkan badan di sisa usia. Menua bersama saling memahami, saling menjaga, dan saling memberi kepercayaan. 

Jadi kebahagiaan itu harus diciptakan. Karena tidak akan datang sendiri. Bahagia itu tidak harus dari perkara yang besar, tetapi dari hal kecil yang menggembirakan. Biarkan hati selalu berkelana, tapi ke manapun kali melangkah, jangan pernah lupa menyertakan Tuhan. 

Cilegon, 10 Februari 2026

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post