Dialektika Rasa Antara Cemas dan Lega
H-1286 Gurusiana
Dialektika Rasa Antara Cemas dan Lega
(Draf Buku Purna Bukan Akhir Segalanya)
Senin Pagi ini terasa sepi. Seperti Senin-Senin sebelumnya selama puluhan tahun. Kadang hari Senin dianggap musuh. Tapi sekaligus pemacu adrenalin. Dengan mengejar tenggat waktu absen. Ya absen PUSAKA, ya absen khusus mengikuti upacara. Senin datang dengan tumpukan berkas, dering telepon dan chat WA yang tak putus, serta jadwal giat lain yang berhimpitan. Kadang saya sering mengutuknya, merindukan hari di mana Senin hanyalah nama hari tanpa beban.
Namun, saat masa purna itu tiba, Senin pertama yang benar-benar luang justru terasa lebih mengintimidasi daripada tenggat waktu mana pun. Ada keheningan yang terlalu riuh di ruang tamu. Secangkir teh melati yang biasanya saya teguk terburu-buru, kini mengepul tenang tanpa interupsi. Namun rasanya justru menjadi hambar. Tiba-tiba saya menyadari sebuah kebenaran yang getir: ternyata yang lebih menakutkan daripada rutinitas yang melelahkan, adalah hilangnya rutinitas itu sendiri. Di sinilah rasa cemas mulai menelusup, membisikkan pertanyaan yang selama ini bungkam di balik kesibukan: 'Setelah ini, saya harus ke mana, saya harus mengerjakan apa, dan saya harus koordinasi dengan siapa'
Rutinitas yang menjadi identitas harian telah hilang. Bagaimana bergelut dengan laptop dan berinteraksi dengan klien, menjadi refleksi bagaimana pekerjaan itu menjadi muka saya.
Siapa saya tanpa Jabatan?: dan karena jabatan ini, saya sampai di titik ini.
Kini saya mulai kehilangan irama. Dan harus memulai bagaimana menata ulang detak jantung harian saya secara mandiri. Tanpa emosi yang menggebu, tanpa dibuu-buru jadwal dan target yang baku.Lega karena bisa berdamai dengan jeda.
Istirahat bukanlah dosa. Mengubah pola pikir bahwa tidak produktif secara korporasi bukan berarti tidak berharga secara personal. Membangun ritual baru mulai dari hal kecil yang selama ini tidak dilirik. Karena alasan tidak terjangkau waktu. Saya bisa berkebun, menulis, atau sekadar jalan pagi tanpa terburu-buru menikmati hangatnya mentari dengan rasa lega..
Ibarat kanvas kosong. Saya memiliki kebebasan untuk menemukan jati diri baru tanpa cemas. Menyadari bahwa cemas adalah tanda bahwa kita masih memiliki energi untuk melakukan sesuatu yang baru. Menjadi jembatan baru menuju versi yang lebih autentik.
Semua tentang keseharian yang telah berlalu. Begitu terasa asing. Melihat seragam yang masih tergantung rapi, namun tak lagi dijamah. Ini lah fakta baru, bahwa saya telah memualai episode kehidupan baru.
Cilegon, 2 Februari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan