Siti Jamiatu Sholihah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jujur itu Masih Ada

H-1358 Gurusiana

Jujur itu Masih Ada

Bu Tati bergeming. Diam seribu bahasa ketika tiba-tiba sadar tas dan isinya telah raib dari genggamannya. Sesaat suasana di mobil menjadi ramai. Masing-masing penumpang subur melirik kanan kiri tempat duduknya. Tak ditemukan apa-apa. Tiba-tiba Bu Tati minta mobil putar balik ke daerah Mall Ramayana. Karena ingatan terakhirnya meyakini bahwa ketika temannya naik dari situ, tasnya mendadak tidak ada. Mungkin jatuh di sana pikirnya.

Ketika mobil putar arah, Linda berinisiatif menelpon HP Bu Tuti. Siapa tahu masih berdering. Tenyata telpon itu ada yang jawab. Suara mungil seorang perempuan. Telpon tak dimatikan, terus disusuri adanya sumber suara itu di mana. Jawaban yang diperoleh berdasarkan di gerbang pasar Kranggot. Kami pun menyusul sumber suara itu. Sambil berdoa bahwa semuanya sesuai harapan. Semuanya masih bisa diselamatkan. Tidak kurang dari 5 juta uang cas, dua HP. Lima kartu ATM, dua di antaranya menyimpan uang kas kantor.

Ketika sampai di gerbang pasar, kami berjalan menuju tempat yang diarahkan. Dan ketika bertemu, tenyata tas itu sedang dipeluk seorang anak perempuan yang bekerja di sebuah toko pakaian anak-anak. Ketika telpon kami saling menyambung, anak itu berhambur menyerahkan tas dan HP yang sedang dipegangnya. "Ini ibu barangnya. Silakan dicek, apa ada yang bilang? Saya temukan di jalan tapi tertutup rapi. Karena mendengar suara telpon, saya mengambilnya. Izin ya ibu. Mohon maaf" kata anak itu sambil menangkupkan kedua tangannya.

Bu Tati yang wajahnya memerah, memeluk anak yang seharusnya masih usia sekolah menengah pertama itu. UntukDia putus sekolah lantaran alasan ekonomi, memilih hidup bekerja untuk menghasilkan cuan untuk hidupnya dan keluarganya.

Sambil bercerita, anak itu tak henti menangis di pelukan Bu Tati. Hingga akhirnya dilepas karena bu Tuti Haris segera berangkat ke Tangerang.

Anak itu memeluk sekali lagi saat dikepeli tiga lembar uang ratusan. Bukan membeli kejujuran. Tetapi kebahagiaan besar bahwa di tengah krisis kepercayaan, ternyata kejujuran itu masih ada.

Sepanjang perjalanan ke Tangerang, sambil terus terisak, bu Tati terus berkabar dengan anak itu, seolah menemukan kembali kebahagiannya yang hilang.

Cilegon, 15 April 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post