Lagi-lagi Soal Purna
H-1356 Gurusiana
Lagi-lagi Soal Purna
Ketakutan akan kekurangan materi setelah purna hal yang manusiawi. Namun jika ketakutan itu berlebihan menjadi terlihat lebay. Kedengarannya sangat lucu. Hanya karena kebutuhan yang bersamaan kemudian merasa terancam tak bisa bertahan hidup. Yaa Allah lebay banget.
Mengapa tidak bersugesti banyak jalan rezeki. Mengapa tidak berpikir banyak yang bisa dilakukan untuk mendapatkan cuan.
Tadi pagi saya ditanya beberapa orang (lebih dari dua orang), tentang kapan purna, mau usaha apa, mau pulang kampung atau tetap di Cilegon.
Saya jawab. Suami saya sudah dua tahun purna. Saya menjadi ratu di rumah. Jarang kebagian pekerjaan rumah. Cuci pakaian, jemur, ngepal, bersihkan kamar mandi, bahkan masak pun lebih sering diambil alih suami. Betapa hidup saya dimanjakan. Urusan materi, kami tak pernah hitung-hitungan. Tak pernah serakah, tak pernah merasa siapa yang berjasa. Tapi segalanya dijalani bersama.
Sejak lama kami telah membiaskan kebersamaan dalam hal materi. Misalnya sejak punya kartu ATM, nomor PIN selalu sama. Jumlah uang di rekening selalu diketahui bersama. Jika di antara kami membutuhkan, kami tinggal memberikan kartu ATM. Tentu kami mengambil sesuai kebutuhan. Bukan keinginan. Selama ini tak pernah mengeluhkan kekurangan, meski tak berkelimpahan.
Jadi walaupun saya sendiri belum purna, saya telah menikmati hidup bersama orang purna. Beberapa orang menyoroti hidup kami. Seolah tidak kekurangan. Sebenarnya bukan tidak kekurangan, karena banyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Tetapi tergantung kepada kita, bagaimana mengelolanya. Jadi kekurangan itu bukan karena purna. Tetapi karena diawali dengan ketakutan yang disengaja. Tidak bersyukur, dan hanya menjadi pembual yang memojokkan kekuatan setelah purna. Padahal tidak sedikit orang yang lebih cemerlang setelah purna. Atau justru mengajukan purna dini, karena ingin mengelola usaha tanpa terikat status sebagai pekerja. Jdi jangan takut purna.
Cilegon, 13 April 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan