Berdamai dengan Takdir bagai Sungai Mengalir
H-1474 Gurusiana
Berdamai dengan Takdir bagai Sungai Mengalir
Ada kalanya hidup seperti hujan yang datang tanpa diundang.
Kita sudah menyiapkan payung rencana, tapi langit cerah kembali.
Ada pintu yang kita ketuk sampai tenaga melemah, tapi tak kunjung dibuka.
Ada doa yang kita bisikkan sampai serak, tapi jawabannya adalah "tunggu" atau "bukan ini yang terbaik untukmu".
Di titik itu, semesta mengajari kita menjadi kuat.
Bukan berarti memaksa dunia menuruti kita.
Tapi belajar melunakkan hati agar bisa mengikuti alur-Nya.
Belajar Mlmenjadi tanah, bukan ingin mengatur hujan.
Sebab tanah tidak pernah protes saat hujan turun menderas atau kemarau panjang.
Ia hanya menyiapkan diri. Digemburkan. Ditaburi benih. Disirami doa.
Lalu ia pasrah. Mau tumbuh jadi apa.
Takdir pun begitu.
Ada yang datang sebagai anugerah, ada yang datang sebagai ujian.
Orang yang siap, tidak akan berkata "kenapa aku".
Ia akan berkata, "Allah sedang mendidikku".
Ia menangis.
Tapi setelah air matanya kering, ia kembali mengalir.
Dan kita.
Ikhtiar menggemburkan tanah.
Tapi hasilnya hujan. Itu bukan urusan kita.
Pribadi yang siap menerima takdir adalah yang berhenti berdebat dengan hujan, dan mulai merawat tanah hatinya
Cilegon, 11 Agustus 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
