Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pada Ibu Kutemukan Lautan Kasih Sayang

Pada Ibu Kutemukan Lautan Kasih Sayang

Pada Ibu Kutemukan Lautan Kasih Sayang

Oleh: Siti Khotijah

Membicarakan tentang ibu, tidak pernah ada tanda titik pengakhir kalimat. Selalu saja ada serpihan-serpihan cerita yang tidak lekang dimakan waktu saat diceritakan kembali kepada anak atau cucu kelak.

Ibu, yang perannya begitu mulia di dunia ini. Tugas terpenting sudah disandang ibu saat mengandung sembilan bulan, melahirkan, dan mengasuh dengan cinta kasih yang tak bertepi demi mendampingi dan memastikan tumbuh kembang putera-puterinya.

Seperti itulah ibuku. Perempuan sederhana yang tidak pernah menuntut apa pun dari bapak yang hanya seorang pegawai negeri golongan rendah. Bekerja sebagai penjaga sekolah sekaligus tukang kebun di sebuah SMP negeri mengharuskan bapak bekerja keras demi menghidupi keluarga. Sepetak bangunan kecil di samping rumah dinas akhirnya diperbolehkan Kepala Sekolah untuk berjualan. Dibantu bapak, ibu akhirnya membuka kantin sederhana. Menyediakan nasi pecel, mi rebus, dan aneka jajan serta makanan ringan untuk para siswa yang bersekolah di SMP itu. Bangun pagi hari untuk menyiapkan semuanya yang akan dimasak dan digoreng, dan tidur paling malam memastikan ketersediaan bahan-bahan yang akan diolah esok paginya. Semua dilakukan ibu tanpa mengeluh sedikit pun. Tidak ada alasan lain yang membuat ibu begitu menikmati perannya sebagai seorang ibu empat anak dan juga seorang istri yang harus ikut membanting tulang, kecuali melihat kami bisa bersekolah tinggi sampai menjadi sarjana. Posisiku sebagai anak ragil dengan jarak usia yang lumayan jauh dengan mas dan mbak—dengan mbak di atasku selisihnya delapan tahun—membuat perhatian ibu kepadaku otomatis berlebih. Meskipun begitu, bukan berarti aku dimanja seperti tuan putri yang tidak tahu pekerjaan, justru aku dididik untuk tahu posisi bahwa keluarga kami bukanlah orang berada yang bisa dengan mudah mendapatkan uang. Bekerja keras dulu, barulah ada uang.

Kemahirannya mengolah masakan biasa menjadi menu istimewa ternyata membuat bapak dan ibu guru di SMP itu menyukai apa pun yang dimasak ibu. Dari situlah akhirnya ibu menerima katering. Ada saja bapak dan ibu guru yang meminta ibu untuk dimasakkan sayur tertentu, dan akan dibawa pulang ke rumah usai mengajar. Alhamdulillah, penghasilan tambahan itu bisa membantu biaya kuliah mas nomor satu di IAIN Sunan Giri Surabaya jurusan hukum dan mas nomor dua yang berkuliah di IKIP Surabaya (sekarang Unesa Surabaya) jurusan Bahasa Inggris. Butuh biaya yang tidak sedkit untuk mereka berdua. Walaupun saat itu masih SD, aku bisa melihat upaya bapak dan ibu agar dua masku jangan sampai putus kuliah. Mbak saat itu juga persiapan untuk masuk kuliah. Bisa dibayangkan betapa pontang-pantingnya bapak dan ibu saat itu mencari tambahan penghasilan. Tapi, melihat wajah ibu yang selalu tersenyum, dan juga bapak yang selalu menguatkan, sungguh membuat hati kami, anak-anaknya selalu tenang. Tidak pernah kami mendengar pertengkaran ibu dan bapak gara-gara kesulitan uang. Yang ada bapak dan ibu yang selalu mengajarkan kami tentang kebaikan, kerja keras, dan saling jaga di antara kami empat saudara sebagai keluarga. Saling menopang dan mendukung.

Lulus SD aku masuk di SMP tempat bapak bekerja dan ibu membuka kantin. Terus terang, ada perasaan malu saat itu karena semua teman-temanku akhirnya tahu jika aku adalah seorang anak penjaga sekolah dan tukang kebun di situ. Ibulah yang mendatangi dan mengajakku bicara pertama kali. Ibu bertanya, apakah aku malu dengan keberadaan bapak yang hanya seorang tukang kebun dan ibu yang penjual makanan di kantin? Ataukah aku pindah sekolah saja? Ibu bertanya sambil tersenyum dan mengelus kepalaku. Tak ada nada jengkel apalagi marah di setiap kalimat-kalimat yang diucapkan ibu. Ibu hanya berpesan, supaya aku belajar yang rajin, berprestasi, agar teman-teman tidak memandang sebelah mata walaupun aku hanya seorang anak pegawai rendahan. Pesan sederhana yang langsung menancap di hatiku yang masih anak-anak. Sejak itu, aku berjanji akan selalu membanggakan bapak dan ibu dengan prestasi apa saja yang bisa kuraih.

Kuwujudkan pesan ibu dengan belajar keras sehingga hasil rapor di setiap semester tidak pernah mengecewakan. Aktif mengikuti kegiatan Pramuka dan tari sebagai wadah mengaktualisasikan diri. Keberadaanku tak lagi dipandang sebelah mata.

Ada satu kegiatan yang selalu aku tunggu-tunggu yaitu menunggu bel istirahat berbunyi. Aku akan melesat berlari ke kantin dan ikut berjualan bersama ibu. Meracik nasi pecel dan membuatkan mi rebus untuk teman-temanku sendiri. Ibu selalu melarang setiap kali aku menongolkan diri untuk membantunya berjualan di kantin, dengan alasan seragamku nanti kotor. Aku selalu mengabaikan. Dari kelas 1 sampai kelas 3 SMP aku selalu ikut berjualan di kantin itu. Sering teman-teman yang satu angkatan dan kakak kelas nyeletuk meminta izin kepada ibu untuk menjadikakanku istrinya kelak. Kata mereka, mempunyai ibu mertua seperti ibu sungguh menyenangkan karena pintar memasak. Ibu selalu tertawa, dan aku selalu cemberut mendengar celetukan mereka.

Terbiasa kerja keras membuat ibu selalu mengabaikan sakit yang terkadang menyerang tubuh. Kanker darah. Itulah vonis yang dijatuhkan dokter. Penyakit itu datang dengan cepat. Hanya dua bulan saja ibu bisa bertahan melawan leukemia. Keberhasilan Mas dan mbak yang saat itu sudah bekerja, bahkan sudah diangkat menjadi pegawai negeri, belum tuntas dinikmati ibu. Tapi di saat-saat sakitnya, betapa mata ibu selalu menatap bangga kepada mas dan mbak yang sudah bisa mandiri. Hingga pada hari ketiga Idul Fitri, ibu dengan senyum di bibir meninggalkan kami semua, membawa semua rasa sakit yang mendera tubuh. Saat itu, aku masih kelas 3 SMA.

Terima kasih, Ibu, atas pengorbananmu selama membesarkan kami, putera-puterimu. Kesabaranmu yang luar biasa, selalu mengingatkan kami agar tidak lalai menjalankan perintah agama, semangat bekerja keras serta pelajaran hidup lainnya tetap menjadi pedoman kami sekarang ini. Semoga Allah menempatkan Ibu di surga-Nya. Aamiin aamiin ya robbal ‘aalaamiin.

Biodata Penulis

Penulis bernama Siti Khotijah. Lahir di Gresik, 4 Desember 1973. Aktif mengajar di MTsN 6 Tulungagung. Penulis bisa dihubungi melalui email: **(censored)** dan nomor WA **(censored)**

#Tantangan Menulis Hati ke-86

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post