Wajah Perempuan dari Masa Lalu
Wajah Perempuan dari Masa Lalu
Oleh: Siti Khotijah
Tadi malam adalah hari keempat Rasti merasa diteror dengan kejadian genting rumah yang dilempar batu oleh seseorang. Rasti sudah melaporkan hal ini ke Faris, suaminya. Faris yang berada di luar kota karena urusan pekerjaan hanya bisa menenangkannya. Mungkin yang dikira lemparan batu itu cuma jambu jatuh yang kebetulan berbuah lebat di samping rumah. Bisa jadi, sih! Rasti sempat memercayai dugaan suaminya itu. Yang jadi pertanyaan, mengapa jatuhnya selalu di waktu yang sama? Rasti selalu terbangun di pukul dua dini hari karena bunyi berisik batu yang melorot jatuh dari atas gentingnya.
Saat pindahan dua bulan lalu, Rasti dengan Faris mengunjungi satu per satu rumah tetangga satu gangnya untuk memperkenalkan diri. Kehadiran mereka disambut dengan tangan terbuka. Suasana kekeluargaan antartetangga begitu kentara. Terbukti setelah itu banyak tetangga barunya berdatangan ke rumah dengan membawakan buah tangan. Ada yang membawa buah-buahan, kue-kue kering, bahkan masakan rumah yang katanya dimasak dengan resep spesial rahasia keluarga. Sebagai orang baru, Rasti dan Faris merasa tersanjung dengan perhatian mereka. Jadi, meskipun beberapa malam rumahnya menjadi sasaran pelemparan batu oleh orang tak bertanggung jawab, rasanya Rasti tidak percaya kalau itu dilakukan oleh salah satu tetangganya.
Sore itu Faris pulang dari dinas luar kotanya. Kedatangannya disambut gembira oleh Rasti. Rasti masih bergelayut manja di lengan suaminya ketika kaca jendela rumah mereka pecah karena dilempar batu bata. Rasti menjerit kaget. Reflek mereka membalikkan badan. Di depan mereka, Bu Karsih, tetangga depan rumah dengan berkacak pinggang mengata-ngatai Rasti sebagai wanita penggoda suaminya. Ibu paruh baya itu berteriak-teriak agar mengembalikan suaminya. Ratih hanya melongo kebingungan. Baru mengerti permasalahannya setelah salah seorang tetangga menjelaskan kalau Bu Karti sedikit terganggu kejiwaannya sejak ditinggal pergi suaminya puluhan tahun silam. Bu Karsih hidup berdua saja dengan adiknya yang seorang janda. Rasti baru menyadari, selama dua bulan menjadi pendatang baru di tempat ini, Bu Karsih selalu terlihat marah kepadanya saat tanpa sengaja bertatap mata.
Bu Karsih marah-marah lagi. Kali ini yang menjadi sasaran adalah ayah Rasti ketika bertandang ke rumah. Dengan membawa gunting, wanita itu tiba-tiba saja sudah berlari dari dalam rumahnya dan menyerang ayahnya secara membabi buta. Ibunya hanya bisa menjerit-jerit dan menangis. Faris dibantu tetangga yang segera datang berusaha menenangkan Bu Karsih yang sedang kalap. Untunglah, lengan ayahnya hanya tergores sedikit ujung gunting. Wajah ibunya pucat pasi, jelas syok dengan kejadian yang membuat heboh satu gang itu. Bu Karsih terlihat masih meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sepertinya kemarahannya akan reda jika sudah melukai ayah dan ibunya yang segera ditarik masuk ke dalam rumah oleh Rasti. Suara melengking bercampur jeritan Bu Karsih masih terdengar di luar. Wajah ayahnya terlihat tegang, sedangkan ibunya terduduk lemas di kursi, masih tidak percaya dengan serangan tiba-tiba Bu Karsih.
“Hasto … Prahasto Setiawan … Dasar pengkhianat! Ke sini kamu! Mana setan perempuan itu? Wati! Keluar kamu! Perempuan tak tahu malu. Kaurebut suamiku padahal kamu adalah sahabatku. Perempuan gila! Kamu gila, Wati! Hahahaha …. Perempuan gila! Hei, Prahasto! Kau lebih memilih perempuan gila itu? Hahaha …,” teriak Bu Karsi yang terus meronta dan mengeluarkan sumpah serapah. Tangisan, jeritan, dan tawa Bu Karsih berselingan membuat merinding yang mendengarnya.
Bu Karsih mengumpat menyebutkan dua nama yang tidak asing di telinga Rasti. Ayahnya menggeretakkan gigi, ibunya menangis sambil memegangi dada, dan Rasti sendiri tak bisa mengendalikan dirinya yang gemetar hebat. Dua orang yang disebutkan Bu Karsih dan menjadi sumber kemarahannya itu adalah nama om dan tante Rasti. Wajah Rasti dan ibunya memang sangat mirip. Sedangkan ibunya sendiri tentu saja wajahnya sama persis dengan Tante Wati yang disebut-sebut Bu Karsih tadi karena mereka kembar identik.
Berdasarkan cerita dari keluarga yang pernah Rasti dengar, memang perjalanan cinta tantenya itu diwarnai dengan kabar tidak sedap. Tante Wati dianggap sebagai perusak rumah tangga orang.
Akhirnya, jelaslah cerita utuh mengapa belakangan ini Bu Karsih selalu menganggu Rasti. Ternyata, kemiripan wajahnya dengan Tante Wati telah membangkitkan kenangan menyakitkan yang ditorehkan suaminya itu. Bu Karsih mengira Rasti adalah Tante Wati, dan semakin meluap lagi amarahnya setelah melihat wajah ibunya. Ayahnya yang tidak tahu apa-apa jadi kena imbasnya. Ayah Rasti dianggap sebagai suami yang telah meninggalkannya.
Sejak kejadian itu, Bu Karsih dikirim ke RSJ. Perangainya semakin liar dan tidak terkendali. Khawatir akan keselamatan orang lain, keluarga besarnya membawanya berobat ke sana.
Rasti sendiri bersiap-siap akan pindah kontrakan juga. Meskipun tidak terlibat langsung, tetapi hubungan persaudaraan dengan perempuan yang telah merebut suami Bu Karsih tentunya membawa beban sendiri baginya. Rasti tidak nyaman lagi tinggal di lingkungan itu, padahal ia dan Faris baru saja merasa cocok dan kerasan di sana.
#Tantangan Menulis hari ke-107
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
