Pulang
Pulang
Oleh: Siti Khotijah
Sudah dua minggu ini orang gila itu tidur di emper toko milik Pak Rahmad saat malam tiba. Setiap berangkat salat subuh berjemaah di masjid dekat rumah, orang gila itu pasti juga ikut bangun. Setelah itu, dia akan meninggalkan emperan dan pergi entah ke mana. Anehnya, setiap malam dia akan datang ke emperan toko Pak Rahmad dan tidur di situ. Karena tidak menganggu orang-orang di sekitarnya, Pak Rahmad membiarkannya.
Dengan rambut gimbal panjang, brewokan, daki yang mungkin sudah lima senti, serta tubuh kurus tinggi, membuat yang berpapasan dengannya memilih menghindar karena bisa saja tiba-tiba mengamuk. Bagaimanapun juga, orang gila itu terlihat masih muda. Meskipun perawakannya kurus, tenaga orang gila biasanya lebih kuat.
Pagi ini, saat hendak berangkat subuhan, Pak Rahmad mendapati orang gila itu sudah duduk termenung. Saat pulang dari masjid, masih dengan posisi sama, orang gila itu kini menggumam tak jelas. Karena kasihan, diambilkannya dua potong roti untuknya. Matanya terlihat gembira ketika menerima roti itu. Pak Rahmad segera berlalu. “Bapak ….” Dari bibirnya terdengar lirih dan nelangsa menyebut kata “Bapak”. Di dalam rumah, Pak Rahmad menangis terguguk mengingat kepergian dua orang terkasihnya. Bu Rahmad, meninggal setahun lalu karena sakit, tak kuat menahan beban hatinya ditinggal pergi tanpa pamit anak semata wayang mereka dua tahun lalu.
#Tantangan Menulis hari ke-77
#Pentigraf ke-37
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
