Hore, Aku Menang
Hore, Aku Menang ….
Oleh: Siti Khotijah
Setiap diajak ayah ke rumah temannya yang bernama Pak Danur, kami selalu antusias. Kediaman Pak Danur yang berada di pinggiran kota termasuk rumah lawas. Rumah berbentuk joglo dengan pelataran luas itu selalu menarik di mata kami. Bentuk bangunan yang berbeda dari rumah-rumah pada umumnya, dikelilingi banyak saka atau tiang penyangga, menjadi tempat strategis bagi kami untuk bermain petak umpet. Kebetulan dua putera Pak Danur juga seusia kami.
Aku bersama adikku tidak akan pernah menolak jika ayah sudah menyetater vespanya dan menawari kami untuk ikut berkunjung ke rumah Bagus dan Ayu, putera Pak Danur. Aku dan Bagus kelas lima SD, sedangkan Ayu dan Arin, adikku, masih kelas satu. Kami berbeda sekolah. Karena ayah dan Pak Danur teman sekantor, dan keluarga kami sering saling kunjung, akhirnya anak-anaknya jadi akrab. Yang membuat kami kerasan di rumah Pak Danur adalah banyaknya benda-benda bernilai seni—kata ayah—terpajang di setiap sudut rumah. Ada keris yang dipasang di atas semua pintu, ukiran-ukiran cantik pada kayu jati, dan lukisan-lukisan tua.
Suatu hari saat kami berkunjung ke rumah joglo itu, Arin berteriak kegirangan. Dengan gayanya yang lucu mengumumkan ke semua orang yang ada di rumah kalau ia menang lomba bermain tatap-tatapan mata tanpa berkedip, dengan salah satu foto yang terpajang di dinding rumah itu. Seketika aku ketakutan. Berarti?
#Tagur Hari ke-125
#Pentigraf ke-65
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
