Kakak Kami Tercinta
Kakak Kami Tercinta
Oleh: Siti Khotijah
Tidak ada yang membuat kami senang, kecuali bisa meniru apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang dewasa. Mereka tertawa gembira saat salah satu dari kami mencoba meniru tingkah laku mereka. Ardi akan berlenggak-lenggok gemulai menyamakan dengan cara berjalan Tante Tiara, tetangga depan rumah, yang memang berprofesi sebagai peragawati. Mas Vino, kakak kami, akan mencubit bokong Ardi karena gemas melihat tingkah lakunya itu.
Aku, lebih suka menirukan cara bicara Mang Kasim, tukang sayur langganan mama, yang suaranya cempreng saat mulai memanggil-manggil ibu-ibu pelanggan setianya untuk segera memborong dagangannya. Mas Vino selalu tertawa saat aku mulai beraksi menirukan Mang Kasim.
Oh iya, lupa. Perkenalkan namaku Arda, sedangkan saudara kembarku bernama Ardi. Kami masih duduk di TK B. Terlahir sebagai kembar identik, membuat kami sering menjadi pusat perhatian. Wajah tampan dan lucu kami selalu membuat ibu-ibu sampai mbak-mbak mencubit pipi kami sampai kemerahan. Sebel-sebel gimana gitu! Dikiranya tidak sakit apa? Main cubit saja. Apa memang begitu ya para perempuan itu? Kalau suka dan gemas pada sesuatu bawaannya selalu mencubit. Mas Vino, kakak kami itu, akan cemberut berat karena mbak-mbak itu lebih memilih menggoda dan mengajak kami bercanda daripada mengajaknya. Ah, Mas Vino ada-ada saja. Masa begitu saja jadi masalah?
Hari ini, untuk kesekian kalinya kami diajak untuk menemui seorang dokter. Dokter itu selalu bertanya ini dan itu yang membuat kami bosan. Dokter itu selalu mengulangi pertanyaan yang sama. Apakah Mas Vino tidak pernah menyakiti kami? Aneh! Pertanyaan yang aneh. Mas Vino kan kakak kami? Mengapa harus menyakiti kami? Mas Vino tidak pernah diajak saat kami menemui dokter itu. Kasihan, dia ditinggal sendiri di rumah. Hanya berdua bersama Bibik yang mungkin akan sibuk sendiri di dapur. Mas Vino pasti kesepian saat kami tinggal.
Sepulang dari klinik dokter itu, kami diajak papa dan mama mampir ke suatu tempat. Kami hanya menunggui mama yang terisak sambil mencabuti rumput-rumput di sekitar tempat itu. Papa juga terlihat sedih. Beberapa kali papa mengusap punggung mama. Mungkin bermaksud menenangkan mama yang semakin keras isakannya.
Aku dan Arda ikut-ikutan membersihkan batu berbentuk segi lima itu. Meskipun masih TK B, kami sudah pintar mengeja kata. Tertulis huruf V-I-N-O B-A-G-A-S-K-A-R-A di batu itu. Kami bersamaan mengeja dengan sungguh-sungguh tiap suku katanya. Aku yang memanggil pertama kali ke Mas Vino yang sudah tersenyum di hadapan kami. Baru Arda ikut-ikutan berteriak kegirangan karena mungkin tak menyangka Mas Vino ternyata ikut menyusul kami. Kulihat papa dan mama saling pandang. Papa segera beranjak membawa kami menjauhi tempat itu.
Aku sempat mendengar mama berbicara dengan suara tertahan karena menahan tangis.
“Baik-baik kamu di sini ya, Nak. Tempatmu di sini. Jangan menganggu adik-adikmu lagi. Kasihan mereka. Maafkan Mama dan Papa yang tidak bisa menemuimu setiap hari. Vino anak yang baik. Biarlah Papa Mama yang menjaga Ardi dan Arda.”
Kudengar langkah kaki mama menyusul di belakang kami. Lamat-lamat aku mendengar suara tangisan Mas Vino di kejauhan. Ardi sempat bertanya kepada mama, mengapa Mas Vino ditinggal sendiri di sana? Mama hanya menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruh Ardi untuk diam.
Kulihat air mata mama semakin menderas. Kutolehkan kepala ke arah Mas Vino yang berdiri di tempat yang baru saja kami tinggalkan. Kami spontan melambaikan tangan tanda perpisahan. Sejak saat itu, Mas Vino tidak pernah lagi menemui kami.
#Tagur Hari ke-127
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
