Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Lewat Gambar Wayang, Bapak Mengajarkan Karakter Baik dan Buruk

Lewat Gambar Wayang, Bapak Mengajarkan Karakter Baik dan Buruk

Lewat Gambar Wayang, Bapak Mengajarkan Karakter Baik dan Buruk

Oleh: Siti Khotijah

Sosok malaikat itu nyata di keluarga kami. Bapak yang bersahaja, sederhana, dan selalu ikhlas menjalani perannya sebagai kepala rumah tangga.

Bapak yang bekerja sebagai seorang penjaga sekolah dan tukang kebun di sebuah SMP Negeri, tak pernah melewatkan sedetik pun apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Pagi seusai salat subuh, menyapu halaman sekolah menjadi kegiatan paling awal. Karena Ibu harus menyiapkan masakan dan jajan gorengan untuk kantin, beliau tidak bisa selalu mengawasi saya yang saat itu masih berusia empat tahun. Kadang bangun tidur rewel, Ibu tidak bisa membagi waktu dan tenaga untuk menenangkan saya. Bapaklah yang akhirnya nyandak saya. Saya ingat betul, Bapak selalu menggendong saya di belakang punggungnya. Sambil menyapu halaman sekolah, Bapak masih menyempatkan mendongeng si Kancil, kadang juga cerita tentang nabi-nabi. Saya yang keenakan terayun-ayun di punggung Bapak, mendengarkan dongengnya sambil terkantuk-kantuk sampai tertidur. Bangun-bangun sudah di kasur lagi.

Satu lagi yang selalu saya ingat dari Bapak adalah kemahirannya menggambar wayang. Jika saya mulai rewel dan suntuk karena suatu hal, Bapak akan mencari secarik kertas dan mulai menggambar. Tidak seperti orang tua lainnya yang selalu menggambar bebek atau ayam untuk anaknya, Bapak selalu menggambar tokoh wayang dengan bagusnya di kertas. Garis dan lengkung wayang digambar dengan indahnya oleh Bapak sambil bercerita sedikit tentang siapa nama wayang yang sedang digambarnya itu. Saya paling suka saat Bapak menggambar Buto Ijo. Hidung Buto Ijo yang gede bulat, perut besar, dan mata melotot selalu menarik perhatian saya. Bapak selalu bercerita tentang sifat si Buto Ijo yang buruk. Perut yang besar itu karena sifatnya yang “aluamah”, ingin memuaskan perutnya. Dalam bahasa Jawa, sifat ini adalah nafsu dasar yang dimiliki manusia. Letaknya di perut. Sebagai makhluk hidup, manusia cenderung memiliki hasrat untuk memuaskan kebutuhan makan dan minumnya. Namun, jika kebablasan dan berlebihan menuruti hasrat itu, justru akan berdampak tidak baik bagi manusia itu sendiri. Kalau dihubungkan dengan kehidupan nyata, sangatlah tepat apa yang dijelaskan Bapak dulu. Sekarang ini banyak orang yang sakit macam-macam, sumbernya karena pola makan yang tidak sehat. Selalu menuruti nafsu perutnya, dan akhirnya, itulah yang menjadi awal sakit berkepanjangannya.

Sambil bercerita, Bapak selalu mengingatkan untuk tidak serakah dengan makanan. Makanan yang masuk ke perut harus yang halal. Bukan dari mencuri, tetapi hasil dari kerja keras sendiri. Selalu berbagi dengan yang lain jika punya makanan. Jangan dimakan sendiri. Saya yang masih kecil hanya mengangguk-angguk saja. Tidak mengerti apa yang dijelaskan Bapak. Tetapi, tanpa saya sadari, cerita Bapak tentang sifat “aluamah” manusia ternyata menancap bertahun-tahun kemudian sampai sekarang. Saya berusaha untuk tidak memanjakan nafsu perut yang inginnya diisi makanan yang enak-enak saja.

Oh, iya, gambar wayang yang sudah jadi biasanya saya tempelkan dengan perekat dari butiran nasi di tembok. Setiap malam saat mau tidur, saya bisa puas memandangi gambar-gambar wayang goresan Bapak. Ada Arjuna, Srikandi, Semar, Petruk, Gareng, Bagong, dan Buto Ijo tentunya. Saya memang tidak paham dengan karakter wayang-wayang itu. Baru saya sadari setelah besar, sebenarnya saat itu, Bapak mulai mengenalkan saya dengan budaya Jawa yang adiluhung. Lewat cerita Bapak saat menggambar wayang-wayang itu, telinga saya dipaksa untuk mendengarkan karakter baik dan buruk yang sebenarnya penggambaran dari sifat dan watak manusia di dunia nyata. Dari situlah saya belajar tentang sifat baik dan buruk manusia. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Walaupun Bapak sudah tiada, teladan beliau untuk selalu hidup sederhana, bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi tugas dan pekerjaannya, serta tidak memanjakan perut dengan sifat “aluamah” tetap menjadi pegangan kami, anak-anaknya. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik dan terindah di sisi-Nya untuk Bapak. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Biodata Penulis

Penulis bernama Siti Khotijah. Lahir di Gresik, 4 Desember 1973. Aktif mengajar di MTsN 6 Tulungagung. Penulis bisa dihubungi melalui email: **(censored)** dan nomor WA **(censored)**

#Tagur Hari ke-114 #Lomba Menulis Buku Ayah, Pejuang Keluarga
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post