Tulisan Pertama, Mengambyarkan Tembok Ketidakpedean
Tulisan Pertama, Mengambyarkan Tembok Ketidakpedean
Oleh: Siti Khotijah
Sungguh saya tidak menduga, perjalanan saya di dunia literasi sudah sejauh ini. Sebagai seorang guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan pengalaman mengajar belasan tahun, sebenarnya dalam hati merasa malu. Saya beranggapan, saya hanya menang di banyak teori kebahasaan dan kesusastraan, tetapi tidak pernah menghasilkan tulisan apa pun yang bisa dibaca dan dinikmati pembaca. Sebenarnya ada satu naskah novel, tetapi itu pun hanya saya nikmati sendiri saking tidak pedenya jika karya saya itu dibaca orang lain. Abadi di laptop saya.
Kesempatan untuk lebih berperan dalam dunia literasi datang di bulan Oktober 2020. Saya beserta lima guru lainnya dipanggil Kepala Madrasah terkait dengan penugasan kami sebagai guru penggerak literasi di MTs tempat kami mengajar. Saat itu Kasi Pendma Kemenag Tulungagung mencetuskan GO TULIS (Gerakan Online Tulungagung Menulis) yang bertujuan untuk menyosialisasikan literat di setiap MTs baik negeri maupun swasta yang ada di Tulungagung. Hal ini “mungkin” berkaitan juga dengan semakin provokatifnya wacana pelaksanaan AKM sebagai pengganti Ujian Nasional. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang menitikberatkan pada soal-soal berbasis numerasi dan literasi, tentunya menuntut kemampuan siswa untuk memahami soal dengan cara membaca intensif. Ke depannya untuk memudahkan sosialisasinya, tentu saja para guru dulu yang dilibatkan. Akhirnya, terdamparlah kami berlima pada kegiatan workshop kepenulisan yang diadakan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung, Kemenag Kabupaten Tulungagung, Komnasdik Jatim, PGRI Tulungagung, DPD PGMI Kabupaten Tulungagung, Gelimata Tulungagung, dan LPI Permatahati IBU bekerja sama dengan Media Guru Indonesia. Mohon maaf jika penjelasan saya ini salah.
Dua hari yang bersejarah itu akhirnya datang juga. Tanggal 13 – 14 Oktober 2020 waktunya pelaksananaan. Di awal-awal mengikuti workshop itu, kami seperti dibuka mata hati dan batin …. Wow, terlalu berlebihan ya? Hehehe …. Benar-benar diberi pencerahan tentang ilmu kepenulisan yang selama ini hanya kami baca di buku-buku yang dijual di toko buku, dan dijamin tanpa meninggalkan jejak apa pun di otak kami karena ketidakmudengan atas apa yang sudah kami baca itu. Hiks … sungguh suatu aib yang tidak bisa disembunyikan. Tetapi, hari itu, tanggal 13 Oktober 2020 adalah titik balik seorang Siti Khotijah menemukan kembali renjananya di bidang tulis-menulis. Dipandu dan dibimbing dan oleh narasumber-narasumber yang mumpuni seperti Bapak Mohammad Ihsan, CEO MediaGuru dan Gurusiana, Bapak Eko Prasetyo, Pimpinan Redaksi MediaGuru, Bapak Andi Yasin, Editor MediaGuru, Bapak Kunjung Wahyudi, Ketua Komnasdik Jatim, dan Ibu Sri Saktiani, pemilik LPI Permatahati IBU Tulungagung, kami umumnya, dan saya pribadi khususnya, benar-benat dibangunkan dari tidur panjang, ditabok sekeras-kerasnya untuk meyakinkan kami-kami sebagai peserta workshop untuk percaya diri dengan hasil tulisannya sendiri. Tidak ada tulisan yang salah. Yang salah itu tidak mau menulis apa-apa, atau lebih fatal lagi, mempunyai tulisan tetapi hanya untuk dibaca sendiri. Penulis egois, begitu kata Pak Eko Prasetyo.
Di hari pertama itu sudah ada dua tugas yang harus diselesaikan dengan batas waktu yang yang sudah ditentukan. Tugas pertama, membuat satu tulisan, peserta boleh memilih tulisan bergenre kolom, opini, atau essai dan harus diunggah di blog Gurusiana. Tugas kedua membuat sinopsis buku yang rencananya akan kita terbitkan. Deadline pengumpulan tugas pukul 21.00 WIB dan selepas magrib, saya masih bengong di depan laptop karena tidak tahu mau menulis apa. Saya lihat di WAG Go Tulis, sudah banyak peserta workshop yang mengunggah tugas dengan membagikan link artikel di Gurusiana-nya. Saya malah keasyikan masuk ke akun Gurusiana teman-teman dan membaca artikel-artikel mereka. Berharap dapat ide dari sana, nyatanya saya malah kebingungan. Rasanya pingin nangis dan guling-guling ke lantai sambil memanggil-manggil nama Pak Eko, mengapa tugasnya kok harus dikumpulkan malam itu juga? Tidak ada yang berani mengganggu saya saat itu. Anak-anak yang biasanya masih berani usil kalau melihat ibunya serius di depan laptop, kala itu mlipir diam-diam menjauhi saya. Mungkin sudah tampak asap mengepul dari ubun-ubun saya, ditambah wajah saya yang tertekuk sempurna, entah berapa kerutan yang tercetak di kening saya. Begitu sulitnya menemukan ide untuk bisa saya kembangkan menjadi kolom. Sampai akhirnya …. AHAAAAA!!! Tiba-tiba ada lampu bohlam menyala terang di atas kepala saya. Mengapa saya tidak bercerita tentang sesuatu yang agak-agak horor saja? Saya baca, tugas teman-teman serius-serius semua isinya. Jadilah tulisan kolom pertama yang saya unggah di Gurusiana dengan judul “Ada Pocong di depan Pintu (Katanya)!!”. Kolom serba setengah. Setengah serius, setengah ngocol, setengah horor, dan setengah tidak jelas, sebenarnya tulisan saya ini tentang apa? Wkwkwkwkwkw …. Saya hanya menggugurkan kewajiban mengumpulkan tugas malam itu. Terinspirasi cerita batita anak tetangga depan rumah yang ketakutan karena melihat putih-putih berdiri di depan pintu rumah saya (katanya!). Kalau berhubungan dengan putih-putih berkuncung, pastilah ingatnya si Poci. Itulah tulisan pertama yang saya unggah di sebuah blog yang keren menewen bernama Gurusiana, dan dibaca banyak orang. Sungguh pengalaman pertama yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, saking tidak percayanya ternyata saya bisa menulis.
Kolom berjudul “Ada Pocong di depan Pintu (Katanya)!!” menjadi prasasti pertama penanda kehadiran saya di dunia tulis-menulis. Tembok ketidakpedean yang selama ini membentengi otak dan pikiran saya dengan kokoh sedikit demi sedikit mulai terkikis. Imbauan dari Pak Eko dan Pak Andi Yasin agar tetap menulis setiap hari, lalu diunggah di blog Gurusiana walaupun pelatihannya sudah usai, tidak sertamerta saya turuti. Saya harus memantapkan hati dan membangun lagi rasa percaya diri yang masih naik turun itu. Akhirnya, bismillah, di hari ketujuh setelah mengikuti wokrshop itu, saya menantang diri sendiri untuk mengikuti Tantangan Guru Menulis setiap hari. Hari demi hari, tulisan saya mulai menampakkan bentuknya. Saya lebih suka menuangkan ide dalam bentuk pentigraf—genre cerpen yang baru saya tahu setelah bergabung dengan Media Guru Indonesia dan Gurusiana. Semakin banyak yang membaca disertai kritik saran, dan dukungan berbentuk pujian dari teman-teman Gurusioner membangun kepercayaan diri saya semakin tinggi. Alhamdulillah, sejak bergabung di blog Gurusiana tertanggal 13 Oktober 2020, sekarang saya sudah berhasil di tagur hari ke-122.
Itulah cerita saya tentang pengalaman positif setelah mengikuti kelas menulis Media Guru. Terima kasih saya ucapkan kepada para pembimbing yang dengan sabar menyampaikan ilmu kepenulisan kepada kami. Barakallah. Ada satu kata mutiara yang tetap saya pegang sampai kapan pun. "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak" ( Ali bin Abi Thalib).
Link Tugas Pertama dan unggahan pertama kali di blog Gurusiana:
**(censored)**
#Tagur Hari ke-122
#Tantangan Tematik Bulan Februari 2021
#Seputar pengalaman positif mengikuti kelas menulis Media Guru.

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
