WA Saya Dibajak
WA Saya Dibajak
Oleh: Siti Khotijah
Kejadian tak mengenakkan terjadi sore tadi. Nomor WA saya dibajak oleh seseorang. Bermula dari permintaan pertemanan di FB, berlanjut tegur sapa di Messenger … dan, terjadilah peristiwa itu.
Sebenarnya, saya sudah mewanti-wanti diri sendiri. Setiap kali mengiyakan permintaan pertemanan di medsos itu, saya selalu mencari tahu dulu akun FB yang bersangkutan. Facebook milik seorang “ibu” (mohon maaf, tidak saya sebutkan namanya) yang kemungkinan besar akun beliau juga dibajak orang itu (saya berhusnudzon saja). Mengapa saya mengatakan itu? Sebab, dilihat dari biodata dan juga unggahan si “ibu” tadi, saya simpulkan beliau orang baik-baik. Makanya saya dengan senang hati mengiyakan ajakan pertemanan itu.
Karena terlalu fokus dengan grup kepenulisan yang saya ikuti atau bagaimana, entahlah! Otak saya langsung saja memasukkan si “ibu” ini sebagai teman sesama penulis di salah satu satu grup. Pertanyaan si “ibu” juga seputar dunia tulis-menulis. Lengahlah saya!
Saat si “ibu” meminta nomor WA dengan alasan supaya ngobrolnya nyaman, eh, saya kok enak saja menurutinya. Tanpa berprasangka apa-apa. Sore tadi, ada permintaan dari si “ibu” untuk mendaftarkan saya di sebuah grup. Awalnya tidak saya tanggapi. Saya tanya balik, itu grup apa. Si “ibu” tidak menjawab. Hanya meminta izin lagi, agar diperbolehkan memasukkan saya ke grupnya dia katanya. Dari situ harusnya saya sudah curiga. Tapi yang terjadi saya malah terlena dengan kata-kata si “ibu” tadi. Saya yang biasanya tidak gampang menanggapi hal-hal seperti ini malah mengikuti apa yang dimaui si “ibu” tadi.
Kewaspadaan benar-benar di batas paling rendah. Saya selalu mewanti-wanti ke anak-anak untuk berhati-hati jika ada informasi dari orang tidak dikenal masuk ke SMS atau WA. Jika meminta kita untuk memasukkan kode verifikasi atau apalah sejenisnya, abaikan saja. Pasti itu kejahatan cyber. Doktrin seperti itu sudah mengakar di otak saya. Tetapi faktanya, sore tadi saya juga enaaaaaaaak saja memasukkan enam digit kode verifikasi. Saya jadi ingat video bocah Bali yang pernah viral dengan kata-kata, ‘Tuh, kan, otaknya hilang!’, gara-gara diajak bicara terus sama ibunya saat mengerjakan tugas. Sampai detik ini saya mengetik tulisan ini, saya merasa seperti bocah Bali itu. Otak saya hilang! Bisa-bisanya kebodohan hakiki melanda saya. Pingin guling-guling di lantai kalau mengingat kejadian tadi sore …. Hiks ….
Ketika jari saya menombol kirim enam digit angka itu, tuing … barulah saya gelagapan. Saya langsung membuka WA, sayangnya, saya kalah cepat dengan si “pembajak”. Si “ibu” setelah ini saya ganti dengan sebutan “pembajak” karena sekarang saya yakin benar sudah menjadi korban kejahatan cyber. Saya langsung menghubungi pihak FB untuk melaporkan bahwa akun atas nama EP ada kemungkinan akun abal-abal. Setelah itu, saya mengunggah pemberitahuan ke beranda FB bahwa nomor WA saya telah dibajak. Jika ada seseorang menghubungi mereka mengatasnamakan nama saya, abaikan saja.
Hal yang saya khawatirkan terjadi. Pembajak WA saya meminta transferan sejumlah uang ke beberapa WAG yang saya ikut. Ternyata “otaknya hilang” terjadi juga ke pembajak itu. Di setiap grup, dia langsung to the point tanpa tedeng aling-aling bertanya apakah di grup ada yang memakai M-Banking? Lhah? Jelas saja semua anggota grup di situ bertanya-tanya. Itu bukan saya sekali! Kalaupun saya butuh uang, tidak unjuk diri secara demonstratif koar-koar ke grup, siapa yang punya M-Banking? Lalu meminta untuk ditransfer sejumlah uang. Gila apa! Apa gunanya japri? Hehehe …. (Sebentar, saya tertawa dulu merenungi otak saya yang hilang tadi sore).
Alhamdulillah, teman-teman juga langsung menghubungi saya untuk memastikan. Saya sempat kalang kabut menghubungi beberapa teman di WAG supaya mengeluarkan saya dari grup sebelum si pembajak merajalela meminta transferan uang dengan alasan meminjam dulu.Ya Allah, begini amat mereka mencari uang. Harus tipu sana tipu sini demi mendapatkan uang. Tidak ingat sama sekali balasannya kelak di akhirat.
Kejadian sore ini benar-benar saya jadikan pelajaran. Terus waspada dengan modus kejahatan yang beraneka macam modelnya. Untuk teman-teman pembaca budiman, saya hanya bisa berpesan untuk selalu berhati-hati kapan dan di manapun berada, di setiap saat dan setiap waktu. Kejahatan cyber lebih berbahaya karena yang menjadi korban adalah teman-teman kita sendiri.
Sebagai penutup, saya memohon maaf ke teman-teman Gurusioner di WAG kepenulisan atas ketidaknyamanan ini. Mohon maaf karena keteledoran saya, Bapak dan Ibu jadi terlibat. Semoga kejadian ini pertama dan terakhir bagi saya, dan jangan sampai terjadi ke Bapak dan Ibu. Pembelajaran yang sangat berharga. Semoga ke depannya saya lebih waspada dan berhati-hati lagi.
#Tagur Hari ke-119
#Selalu Waspada dan Berhati-hati!
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan