Rinduku pada Hujan dan Kelopak Bunga Kamboja
#Cerpen dua bagian
Rinduku pada Hujan dan Kelopak Bunga Kamboja
(bagian 2)
Siti Khotijah
****
Hujan yang semakin deras menggodaku untuk beranjak dari kursi. Berdiri di undakan tangga teras, kujulurkan kedua tanganku merasakan sensasi guyuran tirai hujan. Dingin. Kupejamkan mata menikmati tetes demi tetes air hujan yang mengenai telapak tanganku. Setiap tetesnya seperti membawaku ke sore waktu itu. Puluhan tahun silam.
“Ayo, Rin! Ke sini! Jangan berdiri saja!” teriak Eni kepadaku.
Aku yang berteduh di teras rumah Farid hanya menggelengkan kepala. Tidak mau ikut-ikutan seperti mereka. Malu.
“Rin! Lumayan dapatnya,” teriak Anis tak kalah kerasnya dengan teriakan Eni. Sekali lagi aku menggelengkan kepala.
Aku melihat Farid, Rudi, Arif, Eni, Lilik, Anis, Yeni, dan beberapa anak lain yang rumahnya di sekitaran pesarean berebut uang koin yang dilempar para peziarah ke tanah.
Iya, Teman-temanku yang rumahnya mepet dengan kompleks pesarean mendadak menjadi “pengemis cilik” pada saat musim peziarah. Biasanya pas mendekati peringatan haul Nyai Ageng Pinatih setiap tanggal 12 bulan Syawal.
Aku tidak tahu itu tradisi atau apa, yang jelas teman-temanku ini anak-anak orang kaya. Biasanya aku hanya melihat dari kejauhan saja teman-teman yang sedang mengemis dan terkadang berebutan uang yang dilempar ke tanah oleh peziarah.
Entah mengapa, sore itu aku terbujuk dengan ajakan Anis untuk ikut mengemis. Dia mengiming-imingi kalau uang yang didapat nanti, bisa untuk membeli “Coklat Jago”. Coklat paling enak sedunia menurutku. Silverqueen? Lewaaaaaaat … karena kami belum mengenal coklat itu … hehehe ….
Tiba-tiba saja Anis sudah menggandeng tanganku untuk ikut bergabung dengan lainnya.
Meskipun dalam hati menolak, sebenarnya dari tadi aku ingin sekali ikut-ikutan mereka mengadang para peziarah yang datang dan berjalan memasuki area pesarean.
Saat air hujan mengguyur tubuhku, seketika itu juga semangat untuk mendapat receh dari peziarah berkobar di dadaku.
Kalian jangan membayangkan uang koin seribuan yang dilempar peziarah, ya?! Saat itu nilai dua puluh lima rupiah sudah seperti emas bagi kami.
Karena memang baru kali itu ikut mengemis, aku hanya mengekor di belakang Anis dan Eni. Mengikuti setiap apa yang dilakukan mereka ketika ada rombongan peziarah datang.
“Ning, sak paringe, Ning …. Ning, sak paringe, Ning”.
Kalimat itu harus kami ucapkan sepanjang jalan sambil mengikuti para peziarah berjalan memasuki kompleks pesarean. Kadang aku ikut-ikutan menarik baju peziarah seperti yang dilakukan teman-teman.
“Hei, jangan narik-narik baju, ya!” kata seorang ibu dengan marah. Tangannya menepis tanganku dengan keras.
Aku mundur karena takut. Tapi entahlah, apa karena sudah tanggung kedinginan dan kehujanan, aku terus berlarian mengejar para peziarah yang datang.
“Ning, sak paringe, Ning …. Ning, sak paringe, Ning”. Suaraku tenggelam bersaing dengan hujan.
Ibu bergelang emas di tangan kiri dan kanannya yang kuikuti sejak dia turun dari mobil itu menghalauku sambil mengomel tidak jelas. Sepertinya ibu itu terganggu sekali dengan ulahku yang menengadahkan tangan meminta-minta uang seikhlasnya.
“Sana! sana! Kecil-kecil kok mengemis!” katanya sedikit marah.
Aku yang jengkel reflek berlari menjauh sambil berulang kali berteriak, “Hoii … Neng medit, untune kuning! Neng medit, untune kuning!” Tak ketinggalan kujulurkan lidah mengejeknya. Mata ibu bergelang emas itu seketika melotot ke arahku. Anis yang melihat ulahku tertawa terpingkal-pingkal.
“Hei … itu punyaku, punyaku,” teriak Farid sambil menjatuhkan badan menindih uang lima puluh rupiah yang dilempar seorang bapak bersarung. Nilai uang yang besar menurut kami saat itu. Tak ayal Rudi dan Anis ikut-ikutan menindih tubuh Farid. Eni mendorong tubuh Farid supaya bergeser, tetapi Farid semakin erat menempel di tanah seperti cicak menempel di dinding. Tawa kami pecah di tengah hujan yang semakin deras.
Ternyata sensasi saat terjatuh terguling-guling dan tumpang tindih dengan teman lainnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil mendapatkan uang koin itu. Semangat untuk mendapatkan recehan sebanyak mungkin tidak mengendur sama sekali walaupun kami kehujanan. Kami benar-benar “pejuang receh” dalam arti yang sesungguhnya saat itu.
Setelah rombongan peziarah sudah tidak ada lagi, di teras rumah Farid kami menghitung hasil mengemis sore itu. Bibir yang membiru serta tubuh yang bergetar karena kedinginan tak menyurutkan kami menghitung receh yang kami peroleh. Meskipun baru pertama mengemis, pendapatanku lumayan juga. Terbayang sebatang coklat Jago di depan mata.
“Rin, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Arif sambil menyenggol lenganku. Aku tergeragap. Ternyata senyumku yang samar karena membayangkan besok bisa menikmati coklat jago terlihat Arif.
“Seru, kan? Besok ikut lagi, ya? Besok pasti ramai deh! Kan hari Jumat?” ajak Farid kepadaku. Anis dan Lilik mengangguk-angguk menyetujui. Aku akhirnya ikut mengangguk juga mengiyakan ajakannya.
Aku melihat Bapak bediri di depan pintu menyambutku pulang. Kedua tangannya disembunyikan di belakang tubuh. Nyaliku langsung menciut. Aku tahu Bapak pasti marah besar. Ujung-ujung sapu lidi jelas terlihat mencuat di balik punggung Bapak.
Di samping Bapak ada Ibu dengan ekspresi tak tertebak. Ada sedikit kemarahan bercampur khawatir di raut wajahnya. Kuhela napas penuh penyesalan. Aku sudah menjadi anak nakal hari ini.
Sepuluh pukulan sapu lidi penebah kasur ke pantat. Itulah hukuman untukku dari Bapak. Hukuman penuh kasih sayang karena Bapak tidak benar-benar memukulku. Di setiap pukulannya di sela-sela tangisan, aku harus mengulang sebuah janji bahwa tidak akan mengulang lagi ikut mengemis di pesarean.
Jauh-jauh hari Bapak sudah mewanti-wanti kepadaku agar tidak tergoda ikut mengemis jika ada teman yang mengajak. Apa pun alasannya, Bapak tidak pernah mengizinkan. Sore itu aku telah melanggar janji kepada Bapak.
Sungguh pengalaman masa kecil yang tidak akan pernah kulupakan.
“Bu, masuk ke dalam! Nanti masuk angin lhoo?”
Kudengar suara putriku mengajak masuk ke dalam rumah. Entah berapa lama kenanganku mengembara di masa puluhan tahun silam. Yang jelas, ada kegembiraan sekaligus pembelajaran yang terselip di sudut hati setiap kali mengenang peristiwa-peristiwa itu.
Catatan
1. “Ning, sak paringe, Ning … Ning, sak paringe, Ning.” artinya “Ning, minta seikhlasnya, Ning … Ning, minta seikhlasnya, Ning.”
2. “Hoii … Neng medit, untune kuning! Neng medit, untune kuning!” artinya “Hoii … Ning pelit, giginya kuning! Ning pelit, giginya kuning!”
3. “Rek” adalah sapaan untuk teman sejawat.
4. “Ning” adalah sapaan akrab untuk perempuan muda, bisa panggilan untuk kakak atau adik.
(Selesai)
#Tagur hari ke-162
#Cerita masa kecil
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
