Rinduku pada Hujan dan Kelopak Bunga Kamboja
#Cerpen dua bagian
Rinduku pada Hujan dan Kelopak Bunga Kamboja
(bagian 1)
Siti Khotijah
Beberapa hari ini kotaku diguyur hujan setiap sore menjelang. Jika pekerjaan rumah sudah selesai semua, dan anak-anak mulai asyik dengan urusannya sendiri di kamar, aku memilih menikmati rinai hujan yang mulai menderas dari teras. Entah mengapa, di setiap titik-titik air yang tumpah ke bumi itu selalu membawaku ke kenangan masa silam. Masa kecilku di sebuah kota kecil berjuluk Kota Pudak: Gresik.
Pohon kamboja Bali yang tumbuh di samping rumah menarikku semakin dalam pada peristiwa puluhan tahun lalu. Pohon kamboja, hujan, dan makam. Tiga kata itu bagaikan password pembuka semua memori yang memang tidak akan pernah aku lupakan. Tak terasa sudut bibirku tertarik ke atas membayangkan kembali keceriaan masa kecil bersama teman-teman.
****
“Rin, pulang sekolah kita main di pesarean, ya?! Teman yang lain
juga ke sana nanti,” ajak Anis, teman sekalasku yang rumahnya satu kampung denganku.
“Main petak umpet lagi?” tanyaku sambil bergidik ngeri. Anis tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku.
Tidak salah aku bertanya dengan ekspresi ketakutan. Sebab dua hari sebelumnya, aku bersama dengan delapan teman yang lain kena semprot Pak Bakri, kuncen pesarean. Karena terlalu berisik dan ramai, salah satu temanku kena pukulan sapu Pak Bakri.
Iya, area pesarean atau makam tempat kami biasa bermain tidaklah semenyeramkan bayangan kalian. Kami menyebutnya dengan Pesarean Nyai Ageng Pinatih.
Kalian tahu siapa Nyai Ageng Pinatih? Nyai Ageng Pinatih adalah tokoh wanita Islam Gresik yang mempunyai peranan penting dalam sejarah perjalanan hidup Sunan Giri (Raden Paku) karena beliau adalah ibu angkat yang mengasuh dan membesarkan sekaligus mendidik Sunan Giri hingga dewasa. Berdasarkan beberapa catatan sejarah dan cerita tutur, Nyai Ageng Pinatih adalah seorang saudagar kaya raya yang sangat dihormati oleh Raja Majapahit, terbukti dari pengangkatannya sebagai syahbandar di pelabuhan Gresik. Tugas utama beliau adalah memungut bea cukai dan mengawasi kapal-kapal dagang asing. Sejarawan menyebut, Nyai Ageng Pinatih adalah syahbandar terkenal di zamannya dan perempuan pertama di Nusantara yang mengurusi bea cukai. Sampai meninggal di tahun 1478 Masehi, Nyai Ageng Pinatih dikenal sebagai ulama perempuan yang juga menjadi Kepala Pelabuhan era Kerajaan Mejapahit. Karena hal itulah, masyarakat Gresik sangat menghormatinya dengan menjaga dan merawat pesarean beliau. Pesarean Nyai Ageng Pinatih ini tidak jauh dari Makam Sunan Malik Ibrahim, yaitu sekitar 600 meter dan 2 kilometer dari Makam Sunan Giri, putra angkatnya.
****
Sepulang sekolah, aku segera berganti baju dan salat duhur dulu sebelum melesat ke Pesarean Nyai Ageng Pinatih. Jarak pesarean hanya 300 meter dari rumah. Tidak kuhiraukan teriakan Ibu yang menyuruhku untuk makan siang dulu.
“Cuma sebentar kok, Bu,” jawabku sambil berlari. Tentunya juga berteriak. Membuat Ibu harus mengelus dada melihat anak gadisnya sulit sekali kalau disuruh berjalan yang manis.
Aku memang terkenal lincah. Maunya berlariiiii saja kalau mau ke mana-mana. Apalagi, perawakanku kecil. Mungkin dibanding anak umur sepuluh tahun lainnya, tubuhku lebih mungil.
Sampai di pesarean ternyata tujuh temanku sudah datang. Mereka asyik duduk-duduk di teras tempat peziarah biasa beristirahat. Kami lihat Pak Bakri sedang menyapu area makam bagian luar. Daun dan kembang kamboja yang berserakan di antara makam-makam membuat kami tergerak untuk ikut menyapu juga.
“Pak Bakri, biar kami saja yang menyapu. Boleh, ya?” kata Eni sambil mencari sapu lain di sekitar situ.
“Pak Bakri istirahat saja, nanti kami nyapunya sampai gapura depan situ!” kataku ikut-ikutan bersuara.
“Tidak boleh ramai seperti kemarin, ya! Tidak boleh melompati makam juga! Tidak sopan namanya!” kata Pak Bakri mengingatkan. Serentak kami menganggukkan kepala tanda mengerti.
Tidak salah Pak Bakri selalu mengingatkan kami untuk menjaga tingkah laku di area makam yang dihormati orang Gresik ini. Terkadang kalau kami sudah asyik bermain, sering lupa jika area bermain kami ini di pesarean.
“Rin, cepetan nyapunya! Mainan terus, lhoo ….?” kata Farid, ketua geng bermain kami. Rumahnya tepat di samping pintu masuk area pesarean. Aku mengangkat jempol.
Sambil menyapu mataku terus mengawasi kembang kamboja yang berserakan di bawah. Berkali-kali aku memungut kembang kamboja yang yang kukira berkelopak genap. Setelah kuhitung dengan suara keras, akhirnya kubuang jauh-jauh sambil mendengus setelah tahu jumlah kelopaknya ternyata ganjil.
Kalian tahu mengapa aku mencari kelopak bunga kamboja berjumlah genap? Ada mitos yang kami percayai saat itu--maklum namanya anak-anak, mudah sekali dibohongi. Jika menemukan bunga kamboja berkelopak 4, 6 dan 8, bisa membuat pintar yang menemukan. Jadilah setiap kali kami bermain di sana, ritual mencari bunga kamboja berkelopak 4, 6, dan 8 selalu menjadi agenda yang tidak boleh ditinggalkan.
Sampai sekarang pun kalau menjumpai pohon kamboja dengan bunga yang lebat, tanpa sadar aku selalu mencari guguran bunganya dan menghitung setiap kelopaknya. Siapa tahu menemukan yang berkelopak 4, 6, dan 8. Wow, bisa auto jenius … he he he ….
“Hei, Rek! Aku dapat kelopak yang genap!” teriak Lilik sambil melompat-lompat kegirangan. Terang saja tanpa dikomando kami bertujuh berlari ke Lilik untuk membuktikan.
Ternyata Lilik tidak tinggal diam. Tahu semuanya mendekat ke arahnya, temanku itu malah berlari menjauh. Jadilah kami kejar-kejaran sambil tertawa keras-keras. Lupa pesan Pak Bakri agar kami tidak ramai saat bermain. Apalagi kami tadi pamitnya menyapukan area pesarean.
“Sssssttt … jangan ramai! Nanti dimarahi Pak Bakri!” kata Farid dengan menekan suaranya sepelan mungkin. Telunjuknya sudah menempel di bibirnya. Otomatis kami berhenti berlari. Lilik yang tadi memancing kami ramai hanya menyengir tanpa rasa bersalah. Tangannya mengacung-acungkan kembang kamboja ke atas.
Aku yang sudah dekat jaraknya dari tempat Lilik berdiri segera merebut kembang kamboja itu. Kuhitung helai kelopaknya dengan saksama.
“Satu … dua … tiga … empat … lima …. Ah, Lilik berbohong ya? Lima gitu kok?” kataku sambil menggelitiki perut dan pinggangnya. Dan, kejar-kejaran pun terjadi lagi.
Siang itu kegiatan kami hanya menyapu. Pak Bakri tersenyum puas melihat hasil kerja kami. Beberapa saat kemudian beliau masuk ke dalam pondok kecil tempat beliau biasa beristirahat. Di tangannya ada seikat pudak. Makanan khas Gresik ini terbuat dari bahan tepung beras, gula pasir/gula jawa dan santan kelapa yang dimasukkan ke kemasan terbuat dari bahan yang disebut “ope” yaitu pelepah daun pinang. Pudak juga ada yang berbahan sagu dan disebut pudak sagu.
“Ini, upah kalian karena sudah mau menyapu pesarean,” kata Pak Bakri sambil menyerahkan seikat pudak berisi lima buah kepada Farid. Karena kami berdelapan, dua pudak lainnya kami bagi menjadi dua.
Siang itu kami pulang dengan sukacita. Kami merasa sudah melakukan perbuatan baik dengan membantu Pak Bakri menyapu halaman pesarean. Mulut kami juga tak berhenti tersenyum manis. Semanis rasa pudak pemberian Pak Bakri.
(Besambung)
#Tagur hari ke-161
#Cerita masa kecil
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
