Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Sepenggal Cerita Perjalanan
https://id.pinterest.com/pin/277182552055205339/

Sepenggal Cerita Perjalanan

Sepenggal Cerita Perjalanan

Oleh: Siti Khotijah

Mobil Sport hitam itu meluncur cepat dan gesit membelah jalanan lengang. Maklum saja, sekarang waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Saat sebagian warga masih lelap dan terbuai dalam mimpi, Aditya, laki-laki muda yang sekarang sedang mengemudikan mobil dengan gila-gilaan itu, hatinya sedang rapuh. Begitu rapuh, hingga dengan sekali tiupan pelan saja bisa membuatnya benar-benar hilang dari orbit kehidupan. Terjebak oleh perasaan “tak diinginkan dan ditolak” oleh seseorang, yang selama ini tak pernah ia rasakan dan alami. Situasi jalan yang lengang, ditambah suasana dini hari yang sepi menjadikan mobil hitam itu bagai raja jalanan tak tertandingi. Setiap kelokan ditebas pemuda itu dengan manuver-manuver berani dan nekat. Jika hal ini dilakukan saat banyak saksi mata yang melihat, pasti mereka akan bergidik ngeri.

Sementara itu suara seksi Steven Tyler Aerosmith yang menyanyikan “I Don’t Want to Miss a Thing”, soundtrack film “Armageddon” semakin meluluhlantakkan hati Adit yang sebelumnya sudah pecah berkeping-keping. Tangannya refleks menekan tombol radio mobil mencari lagu lainnya. Lamat-lamat terdengar refrain lagu lawas “Harus Terpisah” milik Cakra Khan. Mendayu-dayu semakin mengiris hatinya saja.

“Aaahh, gila! Masa pagi-pagi pada request lagu begituan! Yang bener aja!” gerutu Adit. Tangannya kasar mematikan radio mobil. Ia kesal karena terburu-buru saat berangkat tadi siang, semua lagu kesukaannya yang tersimpan di flashdish tidak terbawa.

Karena sibuk menggerutu, kewaspadaannya sedikit terabaikan. Di depan tiba-tiba meluncur truk dengan kecepatan tinggi, sepertinya memakan marka jalan. Jarak yang sudah dekat memaksa Adit membanting setir ke kanan dengan cepat, mengingat sebelah kiri jalan adalah jurang terjal dengan sungai di bawahnya. Sepersekian detik yang membuat darah pemuda itu mendadak berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang. Detak suaranya keras serasa bisa menjebol dada, sampai telinganya pun bisa mendengar. Adrenalin pemuda itu terpacu. Ia berharap di belakang truk itu tak ada kendaraan lain. Bagaimanapun sakit hatinya sekarang ini, tetap saja ia tak mau mati muda dengan cara mengenaskan. Tewas akibat kecelakaan.

Dengan sigap tangan kirinya memindahkan tuas persneling, dan kakinya menginjak rem kuat-kuat. Ban mobil berdecit meninggalkan jejak-jejak penanda bahwa pemilik mobil berusaha sekuat tenaga menghindari kecelakaan yang mengerikan. Mobil hitam itu berhenti melintang di tengah jalan. Adit mengusap wajah, lalu mengusap dada. Kedua telapak tangannya berhenti beberapa detik di dadanya itu, memastikan bahwa jantungnya masih berdegup. Ia masih hidup.

“Alhamdulillah, Ya Allah, masih Kaulindungi hambamu yang tidak hati-hati ini.”

Bibir Adit menggumamkan kata syukur ke zat paling tinggi, pemilik ruhnya yang sekarang masih dipercayakan kepadanya.

Adit segera meminggirkan mobil. Berhenti sebentar sambil menata jantungnya yang masih kaget. Diliriknya kaca spion samping kanan. Truk yang hampir mencelakainya itu ternyata meneruskan perjalanan tanpa rasa bersalah dari sopirnya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala menemui fakta seperti itu.

Adit berjanji, nanti kalau bertemu masjid, ia akan berhenti. Mengistirahatkan badannya, sambil menunggu panggilan azan subuh.

Harapannya terkabul. Empat puluh lima menit kemudian Adit menemukan masjid. Ada beberapa orang laki-laki yang melangkahkan kakinya ke sana. Rata-rata usianya sudah sepuh. Adit memarkirkan mobil di bahu jalan. Ditariknya kedua tangan ke atas tinggi-tinggi, sejenak meluruskan otot-otot tangan yang kaku karena berjam-jam mengemudi. Setelah memastikan keadaan, Adit segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya dengan ringan ke masjid. Kedatangannya segera disambut dengan sapaan hangat dari berapa orang jemaah yang sudah hadir duluan di masjid itu. Menanyakan dari mana asalnya, mau ke mana, dan pertanyaan lainnya sebagai pembuka jalan untuk mengakrabkan diri. Tapi yang ini lain, Adit merasakan betul tidak ada kesan pura-pura atau basa-basi di wajah para penanyanya ini. Persaudaraan khas masyarakat desa. Siapa pun itu, walau tidak kenal sekalipun, mereka akan menyambut dengan tangan terbuka. Hal yang jarang ditemukan saat ia menjalin suatu hubungan dengan rekan-rekan bisnisnya di ibu kota. Kota yang tadi sore ditinggalkannya.

Setelah ikut salat subuh berjemaah di masjid itu, dilanjutkan dengan bincang-bincang ringan dengan jemaah lainnya, Adit berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Tujuan akhirnya masih dua jam dari tempatnya sekarang ini.

Seorang bapak yang cukup sepuh, sambil menjabat hangat, tangan kirinya mengusap-usap bahu kanan Adit. Dari mulutnya keluar wejangan, memberi peringatan untuk hati-hati selama menyopir. Seorang ibu yang juga sudah sepuh, bahkan menawarinya untuk istirahat dulu di rumah, sambil menunggu sarapan pagi katanya. Adit dengan menyesal harus menolak tawaran itu.

“Orang-orang yang menyenangkan.” Adit menggumam saat mobilnya mulai melaju menuju tempat yang akan dituju.

#Tagur Hari ke-143

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post