Ayam Fifi
Ayam Fifi
Oleh: Siti Khotijah
“Lhah … lhah … jangan dimakan! Eh … eh! Lhoh? Maaa … Mamaaaa,” Fifi berteriak heboh ketika melihat dua ekor ayam betina yang baru dibeli kemarin mematuki kerikil yang banyak berserakan di halaman belakang. Ayam-ayam itu memang dibiarkan lepas. Tetapi, sebenarnya sudah ada kandang kecil yang nyaman untuk mereka.
Fifi mencoba menangkap salah satu yang berbulu coklat.
Dengan mengendap-endap Fifi memusatkan perhatian ke ayam berbulu coklat itu. Seperti sudah tahu, sebelum Fifi mendekat, si ayam sudah lari terbirit-birit menjauhinya. Ayam satunya yang berbulu putih ikut-ikutan berlarian mengelilingi halaman belakang. Fifi yang tak mau kalah berusaha mengejar kedua ayam itu.
Hosshh … hosshh …..
Fifi kehabisan nafas gara-gara mengejar-ngejar dua ayamnya tadi.
Mama yang tadi mendengar teriakan Fifi memanggil-manggilnya bergegas menuju halaman belakang.
“Ada apa sih, Fi? Segitunya teriak-teriak memanggil Mama?” tanya Mama.
Fifi terlihat berjongkok mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.
“Lhoh? Fifi kenapa?” tanya Mama khawatir.
Bergegas Mama mendekat ke Fifi memastikan keadaannya.
“Wah, gawat, Ma, gawat!” kata Fifi dengan wajah cemas.
“Apanya yang gawat, Sayang?
Mama jadi ikut-ikutan cemas padahal tidak tahu apa yang dimaksud Fifi.
“Pasti ayamnya mati deh, Ma,” ujar Fifi.
“Lhah, kenapa memangnya? Gak kenapa-kenapa gitu?” kata Mama keheranan.
“Tadi ayamnya gak mau makan jagung dan beras, Ma. Malah yang dimakan kerikil-kerikil kotor yang di sana itu.”
Tangan Fifi menunjuk pohon kelengkeng yang memang di bawahnya banyak berserakan kerikil.
“Mati deh, Ma. Hiks ….”
Mata Fifi berkaca-kaca membayangkan ayam-ayam yang baru dua hari dipeliharanya, esok hari sudah mati karena makan kerikil.
Mama tertawa mendengar alasan kecemasan sekaligus kesedihan Fifi.
“Fifi, Sayang, Mama mau tanya nih!” ujar Mama.
“Tanya apa, Ma?” Fifi balas bertanya kepada Mama.
“Fifi kan sudah kelas dua. Pasti deh Bu Guru pernah menjelaskan. Ayam itu temasuk hewan apa?” tanya Mama.
“Binatang bernyawa, Ma,” jawan Fifi yakin.
“Ya iyalah. Kalau tidak bernyawa, Fifi gak ngos-ngosan kayak tadi. Berlarian karena tahu Fifi mau menangkap mereka,” jelas Mama sambil tertawa mendengar jawaban puteri kecilnya itu.
“Coba Fifi ingat-ingat. Hewan apa yang punya ciri-ciri sama seperti ayam?” tanya Mama dengan sabar.
“Yang punya bulu, punya sayap, punya paruh, punya taji, dan bertelur,” lanjut Mama memberi contoh ciri-ciri yang dimaksud tadi.
“Oooooooo … Fifi tahu. Fifi tahu,” jawab Fifi cepat. Wajahnya berbinar karena gembira merasa jawabannya kali ini benar.
“Coba Fifi sebutkan!”
Mama menyuruh Fifi menyebutkan hewan itu.
“Burung. Betul, kan, Ma?” jawab Fifi dengan senyum merekah.
“Wih, betuuuuuul. Seratus untuk Fifi,” kata Mama sambil bertepuk tangan. Fifi pun ikut-ikutan bertepuk tangan.
“Ayam dan burung disebut dengan hewan unggas,” jelas Mama.
“Unggas. Hewan unggas,” kata Fifi mengulang penjelasan Mama. Kepala Fifi menganguk-angguk tanda mengerti. Kepala Mama juga ikut menganguk-angguk memberi penegasan.
“Nah, di dalam tubuh unggas ada bagian khusus yang disebut tembolok.”
Mama memberi jeda pada penjelasannya agar Fifi mudah memahami.
“Tembok? Tembok, Ma?” tanya Fifi keheranan.
“Bukan tembok! Tem-bo-lok. Ihhh, kuping Fifi ditaruh di mana, ya?”
Mama mengeja pelan-pelan kata “tembolok”.
Fifi tertawa sambil memegangi kedua kupingnya.
“Mama lanjutkan, ya? Jika unggas makan kerikil, kerikil itu akan menumpuk di dalam tembolok.”
Mama berhenti lagi. Membiarkan Fifi membayangkan kerikil-kerikil yang dimakan ayam masuk ke dalam tembolok seperti yang dijelaskan Mama. Wajah Fifi kebingungan dengan bagian tubuh unggas yang bernama tembolok ini.
“Terus? Kenapa unggas punya tembolok? Memangnya tembolok tugasnya apa di tubuh unggas?” tanya Fifi masih kebingungan.
“Wah, pintar anak Mama. Pertanyaan yang bagus!” kata Mama sambil mengangkat kedua jempolnya. Senyum Fifi langsung terbit mendengar pujian Mama.
“Fungsi tembolok bagi unggas untuk memperlancar pencernaan. Coba Mama tanya lagi. Fifi pernah mendengar ada orang digigit ayam?” tanya Mama.
“Hahaha … Mama lucu deh! Masa ayam menggigit. Bisanya matuk dong, Ma,” kata Fifi sambil tertawa.
“Nah, itu! Unggas tak punya gigi, jadi ia tidak mengunyah makanan sampai halus. Saat makan, tembolok akan bergerak-gerak untuk membantu pencernaan. Biji-bijian yang dimakan unggas akan hancur, sehingga sari-sarinya bisa diserap si unggas tadi.”
“Oooooo … begitu ternyata! Jadi, ayamnya tidak mati gara-gara makan kerikil ya, Ma?” tanya Fifi memastikan.
“Insya Allah sampai besok mereka sehat wal afiat. Kecuali, Fifi lupa tidak memberi makan, baru deh, ayam-ayamnya klenger,” canda Mama.
“Hehehe … klenger,” kata Fifi sambil memeletkan lidah dan memelototkan matanya.
“Hahaha … gak gitu juga kaleeee ….”
Mama tertawa melihat ekspresi orang klenger versi Fifi.
“Sekarang Fifi paham, kan? Mengapa ayam-ayam Fifi harus makan kerikil? Jangan dikejar-kejar lagi seperti tadi ya? Memangnya kalau sudah tertangkap mau diapakan ayamnya sama Fifi?” Tanya Mama.
“Mau nyuruh ayamnya supaya memuntahkan lagi kerikilnya,” jawab Fifi dengan polosnya.
“Hahaha ….”
Mama tertawa membayangkan betapa tersiksanya si ayam jika tadi benar-benar tertangkap oleh Fifi.
Hari ini Fifi mendapat pengetahuan baru dari Mama. Pelajaran tentang bagian tubuh unggas yang bernama tembolok beserta fungsinya. Fifi semakin bangga kepada Mama karena kepintarannya.
Akhirnya, Mama mengajak Fifi masuk ke dalam rumah agar ayam-ayamnya bisa leluasa makan lagi di halaman belakang.
#Tagur hari ke-186
#Cerita anak ke-11
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
