Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Gara-Gara Kadal Buntung
https://www.kaskus.co.id/thread/5e742bf1018e0d2d46219031/kemampuan-yang-luar-biasa-di-balik-wajah-manis-dan-menggemaskan-si-kucing/6

Gara-Gara Kadal Buntung

Gara-Gara Kadal Buntung

Oleh: Siti Khotijah

Grrrrr … meong … meong … grrr ....

Suara si Moci berisik di teras rumah. Kiki yang sedang belajar di ruang keluarga penasaran ingin tahu ada apa dengan si Moci.

“Ssstttt … kamu kok berisik sekali sih, Ci?” gerutu Kiki.

Moci ternyata sedang menggeram ke sesuatu yang bergerak-gerak di antara pot-pot bunga hias milik Ibu.

“Hiiiiiiih … apa itu?” teriak Kiki yang terkejut dengan benda bergerak itu.

“Sini, Ci! Jangan di situ!” kata Kiki agak panik. Takut benda yang bergerak itu akan keluar dan menyerang Moci, kucing kesayangannya.

Belum sempat tangan Kiki meraih tubuh si Moci, kucing oren bertubuh gendut itu sudah meloncat mengejar buruannya.

“Kaaaaak … ke sini dong! Cepetan! Kiki mengejar apaan tuh?”

Kiki memanggil Kak Risa yang sedang sibuk di dapur membuat kue kering bersama Ibu.

“Ada apa sih, Ki? Tanggung nih mencetak kuenya,” balas Kak Risa dengan suara tak kalah kerasnya. Mama yang mendengar sampai mengelus dada. Dua anak gadisnya bisa melengking seperti itu suaranya.

“Ular, Kak. Moci mengejar ular. Gimana ini?” Suara panik bercampur ketakutan Kiki membuat Ibu dan Kak Risa segera keluar dari dapur menuju teras.

Grrrrrr … meong … grrrrr ....

Moci menggeram semakin keras. Kepalanya terlihat menelusup di sela-sela pot. Tidak berapa lama ada sesuatu yang berlari kencang keluar dari sela-sela pot, lalu menghilang di rerumputan. Tubuhnya hitam kekuningan. Anehnya, sudah tahu buruannya lari, si Moci tak berminat untuk mengejarnya. Kaki Moci malah mempermainkan benda seperti ekor yang bergerak terus dan berputar-putar.

“Hiiiiiih … itu apa yang bergerak-gerak? Takut woyyy …,” jerit Kiki.

“Suaranya diturunkan sedikit kenapa sih, Ki? Tetangga bisa salah paham dikira nanti ada apa-apa,” kata Ibu mengingatkan Kiki.

“Jijay, Buuuu …. Itu apa kok bergerak-gerak? Eh, sebentar. Itu kayak ekor ya, Bu?”

Mata Kiki memelototi benda yang masih bergerak itu dengan awas.

“Lhah, iya, memang ekor. Ekor kadal ternyata. Wkwkwkwkwkwk ….”

Kali ini suara tawa Kiki yang mengagetkan Ibu. Gadis ingusan yang masih duduk di kelas delapan itu tertawa terbahak-bahak. Untuk kedua kalinya Ibu harus mengelus dada.

“Kamu itu, Ki! Kalau bicara volumenya keras. Kalau teriak, persis jukir ngasih aba-aba parkir. Sukanya jejeritan yang bikin rusak gendang telinga. Tertawamu apalagi, persis buto ijo. Feminin dikit kenapa, sih, Ki?” Ibu menggerutu. Kiki hanya menyengir kuda.

“Sini kamu, Ci! Gak kasihan kamu sama kadal tadi? Kamu buru terus sampai menanggalkan ekornya kayak gini!”

Kak Risa memarahi si Moci. Telinganya beberapa kali disentil Kak Risa. Moci yang yang dimarahi cuma mengkeret sambil mengeong-ngeong.

“Tahu tidak kamu, Ci? Kadal buntung jadi gak punya harga diri di hadapan kawan-kawannya. Kan, kasihan?! Gak bisa mencari pasangan.” Kak Risa masih mengomeli Moci.

Tertawa Kiki semakin keras mendengar omelan kakaknya ke kucing oren gendut itu.

“Kak Risa sok tahu! Ini niii … akibat sering dikadalin sama cowok, jadi tahu seluk-beluk dunia perkadalan,” celetuk Kiki. Sepuluh jemarinya menutup mulut rapat-rapat menahan tawa.

Skakmat! Mata Kak Risa langsung nyureng mendengar celetukan adiknya yang seratus persen benar. Hekkekkekkekkek ….

“Aduuuuuuh ... ini ada apa dengan gadis-gadisku? Gara-gara kadal buntung jadi senewen semua. Awas, ya, Ci. Kalau ketahuan memburu kadal lagi, ekormu ganti yang tak sunat,” kata Ibu. Telunjuknya menunjuk-nunjuk hidung si Moci.

Diam-diam Kak Risa menjawil Kiki dan diajaknya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Ibu yang sekarang sedang memarahi Moci. Kasihan deh si Moci. Dalam hatinya pasti kucing oren itu berteriak nelangsa. Apa salahkuuuuu … wahai manusiaaaa ….

#Tagur hari ke-183

#Cerpen ke-14

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post