Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Koko and the Gang
https://www.google.com/search?q=kartun+empat+sekawan&safe=strict&sxsrf=ALeKk03EGFL43SbPvdmWHOx7mnNINN778w:1618759114976&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwju7pjQi4jwAhUYzjgGHeWGCOoQ_AUoAXoECAEQAw&biw=1366&bih=625#imgrc=Wtwu8kvW-mjEkM

Koko and the Gang

#Cerita Anak

Koko and the Gang

Oleh: Siti Khotijah

“Oeeee … berhenti dulu! Lihat tuh, mangga Pak Udin,” kata Koko setengah berteriak. Telunjuknya menunjuk gerombolan mangga yang sudah menguning. Sangat menggiurkan.

Rido, Bobi, dan Kaffa seketika menghentikan sepeda mereka. Ketiganya lalu mengikuti arah telunjuk Koko.

“Pulang nanti, ya?” ujar Koko sambil menaikturunkan kedua alisnya. Ketiga kawannya langsung mengerti apa yang dimaksud Koko. Bobi mengangkat jempol tanda setuju.

“Siiiip,” teriak Rido.

“Sssttt, jangan berteriak dong!” protes Kaffa.

Mereka berempat menahan tawa. Kesepakatan sudah diambil. Pelaksanaannya nanti setelah mereka pulang dari rumah Feri.

Hari ini mereka akan ke rumah Feri untuk mengerjakan tugas pelajaran matematika. Tugas-tugas daring dari guru terkadang membuat bosan dan jenuh. Kalau tidak bisa mengerjakan, kepala jadi puyeng. Oleh sebab itu, mereka berlima sepakat untuk mengerjakan bersama-sama tugas itu. Feri yang pandai dalam ilmu hitung-menghitung pun setuju. Kali ini belajar bersama dikerjakan di rumahnya.

Dua jam mereka membahas soal-soal matematika yang harus diselesaikan dengan tepat. Lima belas soal akhirnya selesai dikerjakan. Mereka menarik nafas lega. Segera dengan hape masing-masing, mereka memfoto hasil penghitungan soal-soal yang diberikan Bu Lilis, guru matematika.

“Alhamdulillah, selesai sudah,” ujar Feri. Senyumnya merekah.

Feri memang kawan yang baik hati. Tidak pelit membagi ilmu dan mau mengajari kawan-kawannya yang kesulitan mengerjakan matematika.

“Terima kasih ya, Feri. Kalau tidak kamu ajari, mungkin aku ngawur mengerjakannya. Dapat nilai nol, deh,” kata Kaffa sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Semua tertawa mendengar curhat Kaffa.

“Tapi, kalau besok-besok ada tugas menggambar, aku diajari, ya? Soalnya kamu paling jago menggambar di kelas, Fa,” kata Feri dengan wajah sungguh-sungguh.

Feri memang paling tidak bisa menggambar. Kalau ada tugas menggambar, kepalanya langsung pening tujuh keliling.

“Kami pamit dulu ya, Fer. Terima kasih untuk hari ini. Untuk tugas IPA besok, dikerjakan di rumahku saja, ya?” usul Koko yang disambut anggukan kepala keempat kawannya tanda sepakat.

Dalam perjalanan pulang, Rido mengingatkan rencana Koko.

“Jadi, gak?” tanya Rido.

“Jadi dong!” jawab Koko dengan yakin.

“Berani, gak?” Kali ini Bobi yang bertanya.

“Berani dong!” Kaffa dengan semangat menjawab pertanyaan Bobi.

“Oke, Maju semua, ya?” kata Koko memastikan yang disambut kepalan tangan ke atas oleh Rido, Bobi, dan Kaffa.

Mereka akhirnya berhenti tepat di pagar rumah Pak Udin. Koko yang pertama kali bersuara meyakinkan sekali lagi keputusan mereka. Rido menganggukkan kepala memantapkan hati kawan-kawannya.

Mereka memarkir sepeda di luar pagar pagar. Agak tersembunyi di balik rimbunan tanaman perdu yang tumbuh subur di depan pagar rumah Pak Udin.

“Heiii ….”

Tiba-tiba ada suara keras yang arahnya dari atas pohon mangga. Kepala mereka otomatis mendongak mencari-cari siapa yang berteriak barusan.

“Woooiii, ke sini! malah bengong!” teriak suara itu lagi.

Di atas pohon mangga, tampak Pak Udin sedang memetik mangga kemudian dimasukkan ke dalam tas lebar yang diselempangkannya di badan.

“Kalian mau mangga?” tanya Pak Udin masih dengan berteriak.

Koko, Rido, Bobi, dan Kaffa saling pandang. Sungguh tidak mereka duga. Pak Udin, orang paling pelit dan galak sedesa, menawarkan mangganya dengan cuma-cuma.

Koko tadi mengajak Rido, Bobi, dan Kaffa untuk meminta mangga yang bergelantungan siap dimakan kepada Pak Udin. Itu pun harapan untuk diberi mangga sangat kecil. Mengingat Pak Udin yang pelitnya setengah mati. Selama ini Pak Udin lebih memilih mangganya membusuk dan berjatuhan di bawah pohon daripada membaginya dengan tetangga kanan kiri. Pak Udin si Pelit, begitulah orang-orang menjulukinya.

“Woiiii, mau mangga tidak?” tanya Pak Udin membuyarkan kebengongan mereka berempat.

“Mau, Pak. Mau sekali,” jawab Koko dengan gembira.

Pak Udin turun dari pohon mangga. Tas yang dibawanya tadi menggelembung penuh dengan mangga yang siap dinikmati.

Sampai di bawah, dikeluarkannya mangga-mangga tadi. Ada dua belas mangga yang ukurannya dua kepalan tangan orang dewasa. Sangat besar.

“Ambil! Kalian bagi sendiri. Kalau kurang, kalian boleh ambil lagi,” kata Pak Udin.

Mereka masih tidak percaya Pak Udin bisa semurah itu hatinya. Kepelitannya hilang entah ke mana.

“Sudah, ya! Saya tinggal dulu. Pak Udin masih banyak urusan.”

Setelah berpamitan, Pak Udin meninggalkan mereka dan masuk ke dalam rumahnya.

Sepeninggal Pak Udin, Koko melompat-lompat kegirangan saking senangnya mendapat mangga gratisan dari Pak Udin. Rido, Bobi, dan Kaffa ikut-ikutan melompat sambil tertawa gembira.

Hari ini mereka berempat mencoret julukan Pak Udin si Pelit dari otak mereka dan menggantikannya dengan Pak Udin yang murah hati.

#Tagur hari ke-182

#Cerita Anak ke-9

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post