Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Penyesalan Dodo
https://lampung.tribunnews.com/2016/06/13/tolong-tindak-anak-anak-main-petasan-di-flyover-gajah-mada

Penyesalan Dodo

 

Penyesalan Dodo

Oleh: Siti Khotijah

 

     Selama bulan puasa ini, ada kebiasaan baru Dodo. Setiap sore menjelang berbuka puasa, bersama teman-temannya, Dodo bermain di lapangan  desa. Istilah kerennya ngabuburit. Sambil menunggu berbuka, Dodo bersama teman-temannya  biasanya bermain petasan.

     Entah dari mana Dodo dan teman-temannya bisa membeli petasan-petasan itu. Meskipun penjualan petasan dilarang, nyatanya mereka setiap sore masih bisa bermain petasan. Banyak  yang  mengingatkan mereka akan bahaya bermain petasan, tetapi mereka hanya tertawa saja.

     ‘Tek … duarrr’ …. Petasan cabe rawit  yang panjangnya hanya sebesar korek api tampak dilempar  Dodo ke arah jalan. Tepat saat segerombolan  kambing  yang diangon Pak Kubil lewat. Tentu saja kambing-kambing itu kaget dan berlarian  ke sana ke mari.

     ‘Embeek …embeek … embeek’ suara kambing yang ketakutan membuat Pak Kubil panik. Apalagi, kambing-kambing menjadi tidak terkendali. Pak Kubil berlarian mengejar kambing-kambingnya sambil marah-marah ke Dodo dan teman-temannya. Bukannya membantu menangkap kambing-kambing itu, mereka malah menertawakan Pak Kubil yang kesusahan mengelompokkan kambing-kambingnya.

     “Hei, kalian! Jangan begitu lagi, ya! Pada puasa kalian hari ini?” tanya Pak Kubil sambil bersungut –sungut.

     “Puasa dong, Paaak,” jawab Egi dengan bangga. Dodo dan lainnya serempak menjawab juga jika mereka berpuasa hari ini.

     “Sana! Segera buka saja! Percuma kalian puasa kalau kerjanya cuma menganggu orang lain. Bukannya mengaji di musala malah bermain petasan di sini,” kata Pak Kubil dengan nada jengkel.

     “Wah, Pak Kubil gak seru! Masa begitu saja marah-marah,” kata Dodo.

     “Gak seru apanya? Bisa berbahaya tau!  Bercanda kalian bisa membahayakan  orang lain. Kalian sendiri juga bisa terluka jika petasannya meledak di tangan, “ kata Pak Kubil.

     Meskipun masih dongkol dengan ulah Dodo dan teman-temannya, Pak Kubil masih bersabar hati dan menasihati mereka.

     “Kalian beli di mana petasannya? Sudah tahu dilarang jualan kok ya masih ada juga yang jualan!”

     “Ada deh, Pak. Rahasia!” jawab Dodo dengan tengil.

     “Awas, ya! Nanti kuadukan ke orang tua kalian kalau masih bermain petasan di sini. Sana pulang! Bubar semua! Sebentar lagi sudah waktunya berbuka puasa,” kata Pak Kubil setengah mengancam.

     “Jangan adukan kami ya, Pak. Maafkan Dodo yaaa … sebentar lagi kami akan pulang,” kata Dodo yang merasa bersalah dengan ulahnya tadi.

     Dodo maju dan mencium tangan Pak Kubil sebagai tanda permintaan maaf. Wajah Pak Kubil masih terlihat jengkel dengan ulah Dodo tadi.

     “Janji jangan diulangi lagi, ya!” tegas Pak Kubil. Matanya mengawasi keenam anak yang ada di situ. Pandangannya berhenti ke Dodo. Seperti mengingatkan lagi jika perbuatannya tadi sangat  berbahaya dan mengganggu orang lain.

     Dodo memang sangat menyesal dengan yang sudah dilakukannya tadi. Untung Pak Kubil tidak memukulnya dengan rotan panjang yang biasa dipakai untuk mengangon kambing-kambingnya.

     “Aku pulang dulu ya! Aku mau bareng Pak Kubil,” pamit Dodo ke teman-temannya.

     Dodo setengah berlari mengejar Pak Kubil yang sudah agak jauh jaraknya. Terlihat ia berbicara ke Pak Kubil. Setelah itu,  rotan panjang untuk mengangon sudah ada di tangan Dodo. Berkali-kali rotan di arahkannya ke barisan kambing agar jalannya lurus di jalan.

     Pak Kubil tersenyum melihat Dodo yang kewalahan mengendalikan barisan kambing. Dalam hatinya,  Pak Kubil salut dengan Dodo yang tahu dengan kesalahannya dan segera meminta maaf.

     “Besok jangan bermain petasan lagi ya! Banyak kegiatan yang bisa dilakukan dan lebih bermanfaat sambil menunggu waktu berbuka,” ujar Pak Kubil.

     “Iya, Pak. Dodo janji,” kata Dodo sambil menganggukkan kepala.

     Pak Kubil senang dengan jawaban Dodo. Tangan kanannya mengelus kepala Dodo. Keduanya kemudian tertawa bersama mengingat kejadian itu. Betapa  riuh dan paniknya suara kambing-kambing yang ketakutan mendengar letusan petasan cabe rawit  yang dilempar Dodo tadi.

 

#Tagur hari ke-181

#Cerita Anak ke-8

 

 

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post