Sambal Cumi Buatan Nisa
Sambal Cumi Buatan Nisa
Oleh: Siti Khotijah
Siang itu dapur sedikit ramai oleh suara peralatan dapur. ‘Tak … klonthang’ …. Bunyi mangkok yang berbenturan kemudian jatuh ke lantai membuat berdiri telinga siapa saja yang mendengarkan. Kalau tidak tahu, dikiranya Mama, sang penguasa dapur, sedang marah besar. Padahal, yang membuat kegaduhan di dapur adalah Nisa.
“Nisa Sayang, kalau mau meletakkan sesuatu, dilihat dong! Sudah benar apa belum letaknya. Lhah, masih di pinggir sudah ditinggal saja. Jatuh, deh,” kata Mama mengingatkan. Senyum Mama mengembang melihat semangat Nisa membantu memasak di dapur.
“Hehehe … iya, Mama Cantik. Maaf, yaaaa …,” ujar Nisa dengan gaya centilnya.
Nisa, gadis kecil berusia Sembilan tahun dan masih duduk di kelas tiga SD. Si bontot dari tiga bersaudara. Karena anak bungsu, sifat manjanya tidak ada yang mengalahkan. Meskipun demikian, Nisa anak yang rajin membantu Mama membereskan pekerjaan rumah. Menyapu rumah dan halaman depan merupakan pekerjaan rutin Nisa.
Kakak-kakaknya sangat menyayanginya karena Nisa anak penurut. Tidak pernah membantah jika dimintai pertolongan. Biasanya kakaknya menyuruh Nisa untuk membelikan sesuatu di toko depan rumah. Nisa akan cepat meluncur ke sana tanpa menundanya.
Hari ini Nisa diajak Mama untuk membuat masakan istimewa. Sambal cumi request Nisa sendiri, persiapan untuk sahur nanti.
Iya, besok adalah puasa pertama bulan Ramadan. Semua umat Islam pasti menyambut gembira bulan penuh berkah dan ampunan ini. Tak terkecuali Nisa dan keluarga. Nisa sudah kuat puasa sehari penuh sejak kelas satu SD.
Agar puasa tidak dianggap memberatkan, sudah menjadi kesepakatan bersama, menu untuk berbuka dan sahur diserahkan kepada Nisa. Dengan begitu, Nisa akan semangat saat harus bangun pagi sekali untuk sahur.
Seperti hari ini, Nisa sudah memilih sambal cumi untuk lauk sahur. Tentunya Mama tidak hanya memasak itu. Ada menu soto ayam juga untuk sahur nanti karena Papa lebih suka masakan berkuah.
“Ma, cuminya dipotong-potong?” tanya Nisa sambil mengangkat satu cumi besar. Hidungnya kembang kempis mencium bau amis cumi. Mama tertawa melihat ekspresinya yang lucu.
“Iya, dong. Kan, nanti mau dijadikan sambal. Nisa mau memotong-motongnya?” tanya Mama. Dengan cepat Nisa menggelengkan kepalanya sambil menutup hidung.
“Kenapa? Kan, Nisa yang meminta Mama untuk membuat sambal cumi ini seperti di televisi kemarin?”
“Nisa yang mengupas bawang merah dan bawang putih saja ya, Ma?” kata Nisa masih dengan suara centilnya.
“Iya, deh. Awas, jangan nangis ya!”
“hehehe … tidak doooooong … Nisa sudah siap ini.” Nisa mengacungkan kacamata hitam milik kakak yang dipinjamnya. Buru-buru dipakainya kacamata hitam itu. Mama langsung tertawa melihat kacamata yang dipakai Nisa melorot karena kebesaran.
Setelah berkutat hampir satu jam di dapur, akhirnya selesai juga sambal cumi ala Koki Nisa. Meskipun namanya sambal, jangan dikira sambal yang bisa membuat dower bibir penikmatnya. Sambal cumi buatan Nisa hanya memakai dua cabe rawit. Pedas sedikiiiiiiit. Mama tidak ingin perut Nisa sakit gara-gara makan sambal yang pedas. Gagal puasa deh kalau seperti itu.
Sambal yang sudah jadi ditaruh di wadah kaca. Warna sambal yang merah berpadu dengan irisan cumi. Sungguh menggugah selera. Berkali-kali Nisa menjilat bibirnya membayangkan bagaimana nikmat dan enaknya sahur pertamanya nanti. Lauk istimewa yang dimasaknya bersama Mama. Sambal cumi yang tidak pedas.
#Tagur hari ke 176
#Cerita Anak ke-5
#Persiapan sahur puasa hari pertama
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
