Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Gara-Gara Permen
https://pngtree.com/freepng/tooth-pain-girl_5398585.html

Gara-Gara Permen

Gara-Gara Permen

Oleh: Siti Khotijah

“Aduh, Ma, gigi Ninis sakit,” keluh Ninis sambil memegangi kedua pipinya. Sepuluh bungkus permen berserakan di meja belajarnya.

“Ya ampuuuun, Nis, makan permen kok gak kira-kira? Permen satu pak mau kamu habiskan sendiri?” tanya Mama. “Baru berasa kan sekarang?” lanjut Mama lagi.

“Habisnya enak sih, Ma,” jawab Ninis sambil mendesis kesakitan.

Mama langsung berubah air mukanya mendengar alasan Ninis. Yang sebelumnya terlihat kasihan melihat Ninis mengeluh giginya sakit, sekarang berubah menjadi sedikit marah.

Gigi Ninis memang ada yang berlubang. Kalau ada makanan yang masuk di situ, pasti langsung sakit giginya kambuh. Atau, kalau tidak begitu, makan makanan yang panas dan dingin, serta kemanisan seperti memakan permen, juga menyebabkan giginya langsung berulah. Berkali-kali diingatkan untuk menambal gigi yang bermasalah itu, Ninis selalu mencari alasan agar terhindar mengunjungi dokter gigi. Dan, sekarang terjadi lagi.

“Ya sudah kalau begitu. Lanjut saja makan permennya. Mama belikan lagi mau?” kata Mama dengan nada jengkel.

“Hiks … Mama kejam sekali, masak anaknya sedang sakit begini malah dimarahi?” protes Ninis.

“Bukannya marah, Nis! Kalau kamu masih anak TK, pantas ngeyel terus. Lhah, kamu sudah kelas sepuluh lho? Sudah besar. Masa yang begini saja harus diberitahu?” jelas Mama. Suaranya sekarang melembut. Kasihan juga melihat anak gadis satu-satunya meringis kesakitan gara-gara gigi.

“Terus gimana ini, Ma? Cenut-cenut terus,” kata Ninis sambil meletakkan kepala di atas meja belajarnya.

“Sebentar, kayaknya Mama menyimpan obat pereda nyeri di kotak P3K. Kalau nyerinya sudah berkurang, nanti biar diantar Papa ke Dokter Isma, ya?!” ujar Mama.

“Eemmmm …,” gumam Ninis setuju. Kali ini sepertinya ia harus menurut kata Mama.

“Sudah dulu belajarnya. Kebiasaan deh! Memangnya gak bisa ya? Belajar tanpa makan permen?” tanya Mama. Yang ditegur hanya diam saja sambil memegangi pipinya. Matanya mulai berkaca-kaca merasakan sakit yang mulai menyerang lagi.

Tidak lama kemudian Mama sudah kembali ke kamar Ninis membawa sebutir tablet dan segelas air putih.

“Ini, diminum dulu. Bismillah, obat datang penyakit hilang,” kata Mama seraya mengelus pipi Ninis.

Merasakan sentuhan tangan Mama membuat Ninis nyaman. Rasa sakit sedikit lenyap.

“Terima kasih, Ma,” kata Ninis. Sekali teguk, obat pereda nyeri langsung masuk ke lambungnya. Mama mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, sama-sama. Janji ya? Nanti harus mau ke dokter gigi,” kata Mama mengingatkan.

“Iya, Ma. Sekarang Ninis nurut deh sama Mama.” Ninis berjanji kepada Mama.

Malamnya, dengan diantar Papa, Ninis akhirnya mau diajak ke dokter gigi. Gigi yang berlubang itu ternyata sudah parah. Mencabut gigi menjadi cara satu-satunya agar sakit giginya tidak kambuh lagi.

Mulai sekarang Ninis juga harus lebih menyayangi gigi-gigi lainnya. Mengurangi makan makanan yang manis serta lebih rajin menggosok gigi.

#Tagur hari ke-195

#Cerpen ke-19

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post