Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perjalanan Panjang Mozaik Cinta
Gurusiana

Perjalanan Panjang Mozaik Cinta

Perjalanan Panjang “Mozaik Cinta”

Oleh: Siti Khotijah

Buku adalah pembawa peradaban. Tanpa buku, sejarah itu sunyi, sastra itu bodoh, sains lumpuh, pemikiran dan spekulasi terhenti. Buku adalah mesin perubahan, jendela di dunia, mercusuar yang didirikan di lautan waktu.

= Barbara W. Tuchman =

Menulis pada hakikatnya adalah upaya mengekspresikan apa yang dilihat, dialami, dirasakan, dan dipikirkan ke dalam bahasa tulisan. Hampir setiap orang sepertinya pernah melakukan aktivitas menulis.

Berbicara tentang menulis, saya tidak akan pernah melupakan proses kreatif lahirnya buku tunggal yang berjudul Mozaik Cinta. Buku berupa novel yang tidak pernah saya sangka lahir dari semua ide kreatif yang saya rasakan pada saat itu.

Bermula dari “rasa malu” kepada putri sulung yang tiba-tiba saja mendatangi dan meminta saya untuk mengeditkan naskah novelnya. Apa? Saya hanya bisa membelalak tidak percaya. Sejak kapan si sulung memulai aktivitas menulisnya? Karena yang saya tahu, sepulang sekolah waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membaca koleksi novel dan komik kesayangannya yang sudah memenuhi meja belajar. Sesekali si sulung menikmati lagu-lagu K-Pop yang diputar keras-keras dari kamarnya. Memang sering saya jumpai putri saya itu asyik di depan komputer. Setiap kali saya penasaran ingin tahu apa yang ditulisnya, segera ia menutupi layar monitor dengan buku atau apa pun asalkan yang tertulis di sana tidak terbaca oleh saya. Oke! Sejak saat itu saya tidak pernah mengusiknya.

Sampai suatu hari ia menyodorkan file dan meminta saya untuk membaca dan mengedit naskahnya. Rasa penasaran selama dua bulan akhirnya terbayar sempurna. File itu ternyata naskah novel yang ia beri judul Complicated. Bercerita tentang romantika cinta khas anak remaja. Meskipun masa remaja sudah terlampaui puluhan tahun silam, saya bisa menikmati alur ceritanya yang runtut dengan konflik menarik. Naik turun menguras emosi saya sebagai pembaca. Tentunya tugas saya untuk mengedit dengan memerbaiki ejaan, tanda baca, serta diksi yang kurang tepat di naskah itu tetap jalan. Saya lakukan pengeditan semampu saya sebagai guru bahasa Indonesia.

Pengalaman harus membaca dan mengedit naskah novel putri sulung itulah yang menjadi titik awal saya memberanikan diri untuk memulai menulis juga. Mungkin lebih tepatnya saya malu luar biasa dengan kejadian itu. Malu pada diri sendiri karena belasan tahun mengampu pelajaran bahasa Indonesia, hasilnya nol besar. Nihil. Tidak ada karya tulis apa pun yang saya hasilkan. Dalam artian yang berupa buku dan bisa dibaca oleh orang lain.

Dengan mengucap bismillah, tepat di hari pertama puasa enam tahun lalu, saya memulai menulis novel. Teori yang cuma seujung kuku dan tidak pernah menulis—kecuali tugas-tugas perkuliahan dulu—membuat saya tertatih-tatih menyelesaikan novel itu. Saya hanya mempunyai ide, tanpa melengkapi dengan kerangka cerita yang akan akan memudahkan saya dalam penggarapannya. Kalau diibaratkan, saya seperti berjalan menyusuri jalan setapak hanya ditemani “cublik”. Nyala apinya kecil sehingga saya harus meraba-raba agar tidak tersandung dan jatuh. Jauh dari teori menulis novel yang baik dan benar. Seperti itulah jalan yang harus saya lalui untuk bisa menyelesaikan novel pertama itu.

Setiap ide yang muncul selalu saya tulis di buku catatan kecil sambil mereka-reka, alur menarik seperti apa yang harus saya tuliskan nanti. Terus seperti itu hingga akhirnya saya benar-benar bisa menentukan, cerita novel ini akan seperti apa dan berakhir bagaimana. Saya mulai serius menggarap tiap detail alur dan konflik yang dialami para tokohnya agar enak diikuti pembaca.

Karena kesibukan mengajar juga, akhirnya novel itu selesai tepat di hari puasa pertama tahun berikutnya. Satu tahun. Iya, satu tahun yang saya gunakan untuk menuntaskan dan mewujudkan semua ide yang ada di kepala menjadi sebuah karya masterpiece. Novel yang saya beri judul Mozaik Cinta. Rasa bangga luar biasa saya rasakan karena bisa menyelesaikan novel itu. Proses swasunting pun saya lakukan berkali-kali. Saat itu, tidak ada niat untuk menerbitkannya karena perasaan tidak percaya diri.

Setelah sekian lama menjadi penghuni abadi di laptop, naskah novel itu bertemu jodohnya juga. Berawal dari mengikuti pelatihan menulis di Sagusabu, mengantarkan saya berkenalan dengan blog Gurusiana dan grup Facebook Media Guru yang superkeren. Semua semakin terbuka lebar. Tugas dari para pelatih untuk menuliskan sebuah sinopsis karya yang akan diterbitkan usai pelatihan, memaksa saya membongkar lagi naskah novel yang hampir terlupakan itu. Saya pikir inilah waktu yang tepat untuk mendobrak dinding ketidakpedean yang selama ini mengungkung diri. Takut dan tidak percaya diri apakah novel saya memang layak dibaca atau tidak. Dua perasaan itulah yang selalu menghantui saya. Sampai pada keputusan di akhir pelatihan, saya memberanikan diri untuk mencantumkan nama di daftar nama-nama peserta pelatihan yang akan menerbitkan buku.

Itulah proses kreatif perjalanan saya mencurahkan semua kemampuan untuk sebuah novel yang berjudul Mozaik Cinta. Tentunya masih banyak kekurangan di sana-sini. Novel itu menjadi prasasti pertama yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan dunia literasi. Dunia tulis-menulis yang seharusnya memang harus dikuasai oleh seorang guru, terutama guru pengampu Bahasa Indonesia seperti saya.

Seperti kata bijak Ali bin Abi Thalib, "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak", saya akan tetap menulis, menulis, dan menulis. Entah mau diterbitkan ataupun tidak, saya merasa sudah menorehkan sebuah jejak emas yang tidak akan hilang meskipun kelak saya sudah tiada. Jejak di sebuah buku yang bisa dibaca oleh anak cucu saya kelak.

#Tagur hari ke-204

#lombamei2021.mediaguru.id

#Hari Buku Nasional 17 Mei

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post