Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Raffa dan Alisha  (Bagian 3)
https://www.popbela.com/relationship/dating/windari-subangkit/ilustrasi-romantis-punya-pacar-di-sekolah

Raffa dan Alisha (Bagian 3)

Raffa dan Alisha

(Bagian 3)

Oleh: Siti Khotijah

Sejak foto candid dirinya bersama Raffa terpampang di mading, Alisha harus rela menjadi objek tatapan iri para cewek di sekolahnya. Terutama cewek-cewek dari strata paling tinggi di sekolah: kelas XII. Gadis mungil itu mendadak terkenal dengan cara elegan … uehehehe.

Pada jam istirahat kedua, Nira menyeret Alisha ke taman belakang. Tempatnya yang nyempil di antara perpustakaan dan laboratorium membuatnya jarang dijadikan tempat nongkrong murid-murid.

“Kamu kok bisa sama Mas Rafa sih, Sha? Kapan dan di mana kejadiannya? Pakai ngelesot di aspal, lagi. Kayak di film India saja!” tanya Nira dengan wajah tanpa dosa.

“Tega sekali kau berkata seperti itu, Ferguso. Tidakkah kau melihat pantatku ternodai oleh aspal?” seloroh Alisha dengan kesal. Mendengar jawaban Alisha, tawa Nira langsung pecah.

“Eeeh, tertawa, lagi! Itu gara-gara kamu pulang duluan ninggalin aku,” kata Alisha semakin kesal.

“Lhah, kan aku sudah ngomong ke kamu waktu itu. Pulang sekolah suruh jemput Kak Davin saja karena aku harus menjemput mama. Terus pulangnya kamu sama siapa?” tanya Nira.

“Naik angkotlah. Mana uang saku ngepres, lagi,” jawab Alisha dengan bersungut-sungut. Mengingat kejadian hari itu auto membuatnya ingin makan cabai satu kilo saking kesalnya. Makanya ia tidak menceritakan kejadian itu kepada Nira.

Alisha dan Nira memang berangkat dan pulang sekolah selalu bersama. Kebetulan rumah mereka ada di perumahan yang sama. Hanya beda blok saja. Scoopy pink Nira menjadi saksi persahabatan mereka. Alisha yang tidak bisa naik motor menjadi tuan puteri yang siap diantar jemput Nira. Pada hari itu, Nira harus segera menjemput mamanya pulang arisan di daerah Pakis. Jaraknya lumayan jauh. Makanya, ia langsung ngibrit pulang duluan.

“Kak Davin gak jemput kamu?” tanya Nira lagi. Davin, kakak tersayang Alisha yang yang sudah disukainya sejak dia belum bisa membersihkan ingus sendiri.

“Gak bisa. Latihan basket,” jawab Alisha singkat.

“Sha, Kak Davin sudah punya pacar apa belum sih?” tanya Nira. Matanya berbinar saat menyebut nama Davin.

“Gak tau. Tanya sendiri sana sama orangnya!” jawab Alisha. Gadis itu bukannya tidak tahu kalau Nira menyukai saudara satu-satunya. Hanya saja, jika diladeni, bisa seharian ia bertanya macam-macam tentang Davin.

“Oi … oi … adik ipar kenapa begitu? Calon kakakmu ini benar-benar ingin tahu luar dalam tentang abangmu,” kata Nira dengan centil. Telunjuknya menjawil pipi Alisha.

“Iiiiiih, apaan sih! Geli dengarnya, tau!” jerit Alisha sambil menoyor pelan kepala sahabatnya.

Keduanya tertawa keras tanpa merasa ada sepasang mata yang memerhatikan. Tatapannya tajam mengarah ke salah satu gadis yang sedang tertawa terbahak-bahak. Bibir pemilik mata elang itu tertarik ke atas. Sesungging senyum menghiasi wajahnya. Senyumnya semakin lebar saat melihat keduanya berebut makanan ringan.

Saat bel masuk kelas berdering nyaring, keduanya langsung beranjak dari kursi taman. Terdengar gerutuan Nira yang merasa belum tuntas mengorek informasi asal-muasal foto Alisha dan Raffa yang menghebohkan itu.

“Aaaaah, sebeeeel. Bolos aja, yuk, Sha! Kita ngumpet di ruang teater. Kayaknya aman deh,” ajak Nira nekat.

“Gak mau. Kita itu anak baru. Baru lima belas hari di sekolah ini. Kira-kira dong kalau mau start bikin ulah. Lagian setelah ini jamnya Pak Faisal. Sayang dong melewatkan wajah gantengnya.” Alisha menolak mentah-mentah ajakan Nira.

“Uh, dasar kamu. Sudah punya istri, tau!” sembur Nira.

“Biarin. Salah sendiri ganteng,” jawab Alisha sembarangan.

“Sarap kamu!” kata Nira sambil mengeplak kepala sahabatnya itu.

“Aow, KDRT, tau!” teriak Alisha.

“Sssttt … jangan teriak gitu!” Telunjuk Nira menempel ke bibir menyuruh Alisha mengecilkan volume suaranya. Alisha menutup mulutnya sambil cekikikan.

“Ceritamu kenapa kamu bisa sama Mas Rafa kan belum selesai,” ujar Nira dengan wajah kesal.

“Gak penting juga diceritakan. Aku hanya penasaran, siapa yang memasang foto itu di mading? Gila, dasar gak ada kerjaan!”

“Ahaaa, bisa jadi yang memasang foto itu juga yang memotret kalian. Benar, kan?” kata Nira sambil menjentikan telunjuk dan ibu jarinya.

“Bisa juga sih. Mata-matamu kan banyak. Cari tahu dong! Kayaknya masalah ini bakalan panjang deh, Ra,” ujar Alisha setengah berbisik.

“Wah, gawat dong. Ada yang cemburu berat gara-gara foto itu. Karen? Pasti cewek slebor itu yang bikin ulah. Dia masang foto itu biar kamu dimusuhi semua murid cewek di sekolah ini. Katanya sih, dia dulu pacarnya Mas Raffa, tetapi akhirnya putus karena Karen ketahuan selingkuh.” Nira antusias menceritakan ulang apa yang sudah didengar dari sepupunya.

“Kok kamu tahu?” tanya Alisha penasaran.

“Tahu dwuuuooong. Kamu sendiri yang ngomong, mata-mataku ada di mana-mana,” kata Nira sedikit sombong. Keduanya tertawa lepas lagi.

“Tos dulu kalau begitu!” Alisha mengangkat tangannya mengajak “tos”. Plok. Terdengar lagi tawa cekikikan mereka.

Di belakang mereka, sesosok tubuh berdiri sambil mengawasi dengan pandangan tajam. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana. Tubuhnya baru berbalik setelah dua gadis yang menjadi target mata elangnya menghilang di tikungan selasar.

(Bersambung)

****

Mohon maaf, bersambung yaaa ….

#Tagur Hari ke-228

#Cerber bagian ketiga

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post