Raffa dan Alisha (Bagian 4)
Raffa dan Alisha
(Bagian 4)
Oleh: Siti Khotijah
Di kamarnya, Alisha pusing sendiri mengerjakan tugas dari Pak Faisal. Sepuluh soal fisika dari gurunya yang paling ganteng itu membuatnya manyun sejak satu jam lalu.
“Ini gimana sih? Pakai rumus yang mana? Kok hasilnya gak ada di pilihan jawaban? Hiiiiiiih … sebeeeeel …,” teriaknya sambil mengacak-acak rambut. Tak ketinggalan kedua kakinya menjejak-jejak lantai yang tidak bersalah. Kelakuannya persis anak monyet telat diberi makan pisang.
Ibu yang sedang asyik menonton sinetron di ruang keluarga sampai harus memastikan apa yang terjadi dengan anak gadisnya.
“Ada apa sih, Sha? Teriakan merdumu sampai kedengaran di ruang tengah!” tanya ibu. Kepala ibu melongok ke dalam kamar Alisha.
“Astaghfirullah, Buuuu … kaget!” Alisha terlonjak dari kursinya.
“Kamu itu yang bikin kaget Ibu. Ada apa? Malam-malam latihan olah vokal. Didengar tetangga bagaimana? Dikiranya nanti ada apa-apa terus semuanya pada ke sini. Ibu mau jawab apa kalau mereka ke sini? Anak gadis kok jerit-jerit sembarangan … bla … bla … bla ….”
Mode cerewet ibu mulai aktif. Alisha hanya bengong mendengarkan rentetan kalimat protesnya yang panjang dan lebar.
“Iiiiiih, Ibu lebay. Gak asyik,” kata Alisha dengan bibir maju lima senti. Kebiasaannya setiap kali merajuk dan kesal.
“Assalamualaikum.” Terdengar salam dari pintu depan.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab ibu dan Alisha berbarengan membalas salam. Senyum lebar seketika mengembang dari bibir Alisha.
“Tuh, minta tolong sama kakakmu sana!” kata ibu memberi saran.
Ternyata Davin yang baru saja datang. Cowok jangkung itu masih memakai kaos basketnya. Siluet tubuhnya tercetak jelas karena keringat yang membasahi kaos. Langkah lebarnya tak menunggu lama mengantarkannya ke depan pintu kamar Alisha. Melihat ibu ada di sana, Davin langsung meraih tangan dan menciumnya.
“Lhoh, kok Ibu di sini?” tanya Davin keheranan. Ibu hanya mengedikkan bahu.
“Kak, ajarin …,” rajuk Alisha dengan memelas. Biasanya kakaknya itu akan luluh jika sudah mendengar rengekan adik kesayangannya itu.
“Apalagi? Matematika?” Davin balik bertanya.
“Kesukaannya Einstein,” jawab Alisha sambil cengengesan tidak jelas.
“Mandi dulu sana! Keringatmu itu bikin mabuk daratan,” kata ibu sambil mendorong tubuh Davin keluar dari kamar adiknya. Yang didorong malah tertawa ngakak karena sepuluh tangan ibu juga menggelitik perutnya. Mau tak mau Alisha pun ikut tertawa.
“Sssttt … jangan keras-keras tertawanya. Ayahmu lagi pusing di kamar. Tadi membawa pulang pekerjaan kantornya,” ujar ibu mengingatkan. Reflek Davin menyilangkan dua telunjuknya di bibir. Gerakannya diikuti Alisha.
“Kalau besok mau ikut, nanti aku bantu mengerjakan tugasmu,” kata Davin. Kedua alisnya dinaikturunkan. Negosiasi yang belum jelas, tetapi Alisha harus menyelesaikan sepuluh soal fisika itu. Harga dirinya bisa jatuh di hadapan Pak Faisal jika ketahuan tidak mengerjakan tugas.
“Ke mana? Kayak biasanya?” tanya gadis itu.
“Udah deh, gak usah banyak tanya. Cepat putuskan! Ikut apa gak?” tegas Davin.
“Gak mau. Capek. Pura-pura terus,” jawab Alisha tak kalah tegasnya.
“Bye bye … fisika,” kata Davin sambil melenggang santai keluar dari kamar adiknya.
“Eeeeh …eeh … mau. Mau ikut deh. Beneran mau ikut,” kata Alisha cepat. Ibu yang tidak tahu apa-apa tentang kesepakatan yang pernah mereka buat hanya bisa menggelengkan kepala.
“Ibu mau lanjut nonton sinetron lagi deh. Gara-gara Alisha nih, jadi kepotong ceritanya,” kata ibu yang segera keluar dari kamar Alisha.
“Segera mandi!” perintah ibu ke Davin.
“Siap, Bos!” jawab Davin seraya memberi hormat. Satu cubitan ibu mampir di perut Davin.
“Aowww ….” Davin meringis memegangi bekas cubitan ibu. Dua jempol Alisha terangkat mengarah ke kakaknya.
“Nih!” kata Davin seraya meletakkan sebatang coklat di meja belajar. Mata Alisha langsung membulat melihat coklat kesukaannya ada di depan mata.
“Aaah, sukaaa …terima kasih, Kak,” kata Alisha kegirangan.
Davin memang kakak yang baik hati. Tahu adiknya maniak coklat, seringkali jika uang sakunya masih ada, dibelikannya Alisha sebatang coklat. Cowok itu tidak pelit kalau sudah berurusan dengan adiknya. Apa pun dilakukannya asalkan Alisha senang.
Davin, si kapten tim basket SMA Brawijaya. Sekolah dengan segudang prestasi yang hanya bisa disaingi oleh SMA Nusantara, sekolah Alisha. Jika di SMA Nusantara ada Raffa, maka di SMA Brawijaya ada Davin. Dua cowok itu selalu menjadi magnet di lapangan saat sekolah mereka bertemu memertahankan gengsi dan prestasi. Ajang kejuaraan apa pun selalu mempertemukan tim mereka sebagai finalis. Sementara ini kedudukan 3-2, dengan kemenangan masih dipegang SMA Brawijaya.
Sebenarnya Davin ingin sekali Alisha bersekolah di SMA Brawijaya juga, tetapi Alisha yang tidak mau. Cewek itu bisa membayangkan bagaimana tersiksanya menjadi adik seorang Davin. Pengalamannya satu sekolah dengan kakaknya ketika di SMP membuatnya berpikir dua belas kali jika harus satu sekolah lagi. Cowok keren dan berprestasi yang selalu dikejar-kejar cewek. Alisha menjadi target pencarian teman-teman cewek kakaknya juga. Minimal mereka hanya menitip salam, dan maksimal menitip hadiah untuk Davin. Alisha sudah seperti kurir jasa pengiriman paket saja waktu itu. Davin sampai tidak tega melihat adiknya selalu dititipi hadiah-hadiah itu. Pernah saking jengkelnya, hadiah-hadiah itu disebar di tengah lapangan basket. Setelah kejadian itu, tidak ada lagi yang berani mendekati Davin.
(Bersambung)
****
Mohon maaf, bersambung yaaa ….
#Tagur Hari ke-230
#Cerber bagian keempat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan