Amanat dan Amanah
Amanat dan Amanah
Oleh: Siti Khotijah
Wajah bayi perempuan itu begitu damai. Tertidur nyaman di pangkuan Rinda. Buah hati yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya selama lima tahun. Pipi gembul kemerahan menambah keimutannya. Bayi itu menggeliat saat Rinda menowel pelan hidung mungilnya.
Panggilan ibunya untuk keluar kamar dan segera makan malam membuat Rinda sadar. Ternyata dari pagi tadi perutnya hanya terisi sepotong roti dan segelas teh manis. Entahlah, mulutnya tak bisa menelan apa-apa. Kembali Rinda memandangi wajah pulas bayi yang kini sudah ditidurkannya dengan hati-hati di ranjang.
Bagaimana Rinda tidak sedih? Sukacita yang seharusnya menyelimuti keluarganya dengan kelahiran bayi ini berubah menjadi duka lara. Mbak Lili, kakak tersayangnya, ibu si bayi, tiga hari yang lalu meninggal saat melahirkan putrinya. Mbak Lili harus berjuang karena virus itu sudah menginfeksi paru-parunya. Operasi sesar jalan satu-satunya yang harus dilakukan. Doa tidak pernah putus mengiringi perjuangan Mbak Lili selama di ruang operasi. Tetapi, korona telah memutus ikatan kasih sayang ibu dan anak. Mbak Lili harus menyerah. Allah lebih sayang kepadanya. Kristal bening turun perlahan dari mata Rinda. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk keponakannya. Bayi ini adalah amanah. Dan, jika Allah berkehendak, ia ikhlas menjadi istri bagi Mas Arif seperti yang diamanatkan Mbak Lili sebelum meninggal.
#Tagur hari ke-263
#Pentigraf ke-107
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
