Siti Khotijah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bekantan si Hidung Panjang

Bekantan si Hidung Panjang

Bekantan si Hidung Panjang

Siti Khotijah

Di sebuah hutan yang tenang, sekelompok primata berwarna coklat kemerahan tampak sedang berjemur di atas dahan-dahan mangrove yang tumbuh subur di sana. Mereka adalah kelompok bekantan yang merupakan hewan endemik Pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai.

Di antara kelompok berjumlah 20 primata itu, tampak Tatan, seekor bekantan muda, sedang bercengkerama dengan ayahnya. Ayahnya adalah pemimpin di kelompok itu. Tubuh ayahya besar dan kuat. Hidung dan gigi taring ayahnya juga lebih besar daripada milik ibunya.

“Yah, mengapa kita berbeda dengan monyet-monyet yang hidup di hutan sebelah itu?” tanya Tatan. Tangannya mengusap-usap hidungnya yang tiba-tiba gatal.

“Berbeda bagaimana maksud Tatan?” kata ayah balik bertanya.

“Mengapa hidung Tatan tidak sama dengan hidung Momon si orang utan?” tanya Tatan lagi.

Rupanya setiap bermain-main dengan teman-temannya dari kelompok primata lainnya, Tatan selalu memerhatikan hidung mereka. Hidungnya panjang sedangkan hidung teman-temannya pesek.

“Apakah mereka mengolok-olok Tatan karena berhidung panjang?” tanya ayah.

“Tidak sih, tapi Tatan penasaran saja,” jawab Tatan.

“Tuhan memberi hidung panjang kepada kita karena ada gunanya,” jelas ayah.

“Betulkah?” teriak Tatan bersemangat.

Selama ini Tatan beranggapan, hidung panjangnya hanya menyusahkan saja. Saat dia berpindah dari dahan mangrove satu ke dahan lainnya, hidungnya sering menabrak dedaunan.

“Tatan pernah mendengar Ayah bersuara keras, kan?” tanya ayah.

“Pernah, Yah,” jawab Tatan.

“Setelah itu, apa yang terjadi?” tanya ayah lagi.

“Keluarga bekantan lain segera bersembunyi mencari tempat yang aman. Ayah juga mengajak Tatan dan ibu untuk memanjat ke dahan yang lebih tinggi,” jawab Tatan.

“Hidung besar dan panjang ini berfungsi sebagai pengeras suara. Ayah bisa memanggil dengan suara keras ke keluarga bekantan lain,” kata ayah.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Tatan.

“Benar sekali. Suara keras Ayah untuk memperingatkan akan adanya bahaya. Ayah harus bertanggung jawab atas keselamatan keluarga bekantan lain yang dipimpin Ayah,” kata ayah berwibawa.

Tatan bangga sekali dengan ayahnya. Tatan berharap, suatu saat dia juga kuat seperti ayahnya agar bisa menjadi pemimpin di kelompok.

#Tagur hari ke-286

#Cerita anak ke-25

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post