Rambut Kehijauan si Kungkang
Rambut Kehijauan si Kungkang
Siti Khotijah
Kungkang sedih. Setiap kali berlomba lari dengan kelinci dan Ayam, Kungkang selalu tertinggal jauh. Bahkan, dengan si Kura-Kura, Kungkang juga kalah. Gerakan Kungkang selalu lambat, tidak bisa gesit seperti teman-teman lainnya. Sering Kungkang lebih suka menonton teman-temannya bermain daripada ikut serta. Kungkang malu karena sering diejek Kelinci sebagai hewan pemalas.
“Hei, Kungkang. Sebenarnya kaki dan tanganmu itu panjang. Tapi, mengapa jalanmu sangat pelan begitu?” tanya Kelinci.
Kungkang yang ditanya di depan teman-teman lainnya tentu saja geragapan menjawabnya. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa gerakannya tidak segesit teman-temannya.
“Mana aku tahu! Jenis kami memang bergerak lambat,” jawab Kungkang sedikit jengkel.
“Hei, Kelinci, kamu tidak boleh seperti itu. Mentang-mentang larimu cepat, ya?” sela si Kucing Hutan.
“Iya, nih, Kelinci. Pertanyaannya membuat Kungkang sedih lhooo …,” kata Ayam.
“Semua ciptaan Tuhan itu sempurna dan istimewa. Meskipun Kungkang bergerak lambat, tapi dia bisa memanjat pohon-pohon tinggi di hutan ini,” bela Kura-Kura.
Mendengar teman-teman membelanya, Kungkang tersenyum.
“Tuh, lihat si Kungkang! Tersenyum saja lamaaaaa sekaliii …,” kata Kelinci.
Kungkang menundukkan kepala. Tentunya dengan gerakan lambat juga.
“Kalau suka mengejek begitu, nanti Kelinci tidak punya teman lhoo,” kata Kura-Kura.
“Ayo, Kelinci, kamu harus meminta maaf kepada Kungkang,” kata Ayam.
Karena memang bersalah, Kelinci meminta maaf kepada Kungkang. Keduanya tertawa. Teman-teman lainnya ikut tersenyum lega karena Kungkang dan Kelinci sudah berbaikan.
“Eh, rambut di tubuhmu ada semburat hijau, Kung,” kata Ayam keheranan. Teman-teman lainnya akhirnya menyadari.
“Bagus, ya?” teriak Kelinci sambil memegang rambut Kungkang.
Kungkang tersipu malu mendengar pujian Kelinci.
“Warna hijau ini adalah alga, yang bisa membantu kami untuk menyamar. Kami bisa menyatu dengan latar belakang dedaunan sehingga selamat dari pemangsa di hutan.
“Wah, ternyata begitu. Aku jadi iri,” kata Kelinci.
Mendengar celetukan Kelinci, semua tertawa.
Sejak itu, mereka tidak pernah sekali pun menyinggung perbedaan yang ada. Mereka menganggap, perbedaan itu sebagai suatu keistimewaan masing-masing hewan yang sudah diberikan oleh Tuhan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
