Apel dan Pisau
Apel dan Pisau
Oleh: Siti Khotijah
Tante cantik itu tersenyum kepadaku. Ia kemudian berjalan anggun ke arahku. Saat sudah berada di dekatku, jemari lentiknya membelai rambutku. Aku terkesiap. Terkejut dengan sikapnya yang berani menyentuhku. Aku beringsut dan menjauhkan kepala dari tangannya.
Papa mungkin menilai sikapku yang menghindar dari elusan tangan tante cantik itu dianggap tidak sopan. Papa lalu mendekat ke ranjangku. Sedikit membujuk papa mengatakan jika tante itu hanya ingin berkenalan denganku. Sekeranjang buah-buahan lalu dibawa papa ke hadapanku. Semuanya buah-buahan kesukaanku.
”Tante kupaskan apel untuk Kiki, ya?” tanya Tante cantik yang ternyata bernama Risa itu. Tante Risa kemudian mengambil pisau dari dapur dan mengupas sebuah apel. Wajahnya terlihat puas setelah aku membuka mulut dan menerima satu suapan potongan kecil apel. Aku yang sedang sakit dan terbaring tak berdaya, begitu menikmati suasana saat itu. Perhatiannya meluluhkan hatiku. Setelah pertemuan pertama itu, Tante Risa semakin sering datang ke rumah. Baru kutahu beberapa bulan kemudian, Tante Risalah yang membuat mama keluar dari rumah. Sampai sekarang, di usia menjelang dewasa ini, aku begitu membenci apel yang bersanding dengan pisau. Dua kombinasi benda itu mengingatkan pada pengkhianatanku kepada mama. Aku yang sukarela membuka mulut dan menikmati apel dari wanita yang mendepak mama dari sisi papa.
#Tagur hari ke-305
#Pentigraf ke-124
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
