Sebuah Rahasia
Sebuah Rahasia
Oleh: Siti Khotijah
Ibu masih marah kepadaku. Makanan kesukaannya yang kubeli dalam perjalanan pulang kerja tak disentuhnya sama sekali. Serabi Notosuman sepuluh biji itu masih utuh di atas meja. Biasanya, ibu langsung mencomot dua serabi untuk dinikmati di teras rumah. Terkadang ibu mencari Fika, anak tetangga depan rumah, untuk diajak makan serabi juga.
Kutelpon Mbak Sri tentang kemarahan ibu yang belum mereda juga. Aku khawatir jika ibu masih memendam kekesalan kepada anak-anaknya, tensinya bisa naik. Jawaban Mbak Sri sungguh membuatku emosi. Bibirku langsung manyun mendengar bujukan Mbak Sri agar aku bersabar menghadapi ibu.
Dari awal akulah yang menentang kesepakatan keluarga saat itu. Apalah daya, suaraku sebagai si anak bontot hanya lewat saja. Mereka justru berharap besar, akulah yang bisa meng-handle masalah rumit ini. Akhirnya aku menyerah. Berharap keputusan ini memang yang terbaik untuk ibu yang sedang sakit. Hingga tiga hari lalu, semua yang harus kami sembunyikan dari ibu terbuka semua. Fika, bocah empat tahun itu masuk ke dalam rumah dan mengatakan dengan polosnya tentang kematian Mas Rendra, mas sulungku. Iya, kami memang merahasiakan meninggalnya Mas Rendra dari ibu karena khawatir beliau yang sedang sakit saat itu akan syok. Entah bagaimana ceritanya, Fika bisa tahu tentang berita ini. Mungkin dari ibunya yang dulu hampir saja menikah dengan Mas Rendra.
#Tagur hari ke-296
#Pentigraf ke-122
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
