Naik Bis Malam dari Bogor - Pentigraf - 6 (Tamugusi ke - 14)
Bis patas jurusan Bogor-Yogyakarta melaju pelan-pelan keluar dari terminal. Dalam bis hanya ada sopir, kondektur dan dua penumpang termasuk Aad. Maklum masa pendemi covid-19 di mana ada larangan bepergian kecuali sangat terpaksa karena urusan yang sangat mendesak. Perusahaan bis pun rela merugi dari pada mesin kendaraan rusak karena nganggur tak pernah dipakai. Disamping itu juga supaya karyawan tetap bisa ada penghasilan. Memang adanya pandemi covid-19 ini membuat ekonomi hancur. Semua jenis usaha kena dampaknya. Walaupun ada larangan mudik tetapi tak ada pilihan lain maka Aad pun mudik dengan menggunakan bis malam patas jurusan Bogor-Yogyakarta. Karena memang harus mudik ketemu orang orang tua yang tinggal satu-satunya. Ayahnya sudah meninggal dunia tujuh tahun yang lalu. Mamanya pun masih mengontrak karena baru minta pindah tugas dari Kupang ke Yogyakarta. Aad baru saja dari tempat kakaknya yang tinggal di Bogor. Bisa dibayangkan betapa seperti menyewa bis saja karena penumpangnya hanya berdua, dua lainnya adalah awak bis terdiri dari sopir dan kondektur.
Andaikan saja ayah Aad tidak sakit kanker lalu meninggal dunia di Yogyakarta dan dimakam di kampung halaman mamanya, mungkin Aad dan keluarganya masih tetap tinggal di Kupang dan mamanya masih menjadi seorang guru PAI di sebuah SMP Negeri di kota Kupang. Namun apa daya, takdir berkata lain. Walaupun keluarga besar ayahnya keberatan kalau keluarga Aad harus meninggalkan kampung halaman ayahnya, mamanya tetap bersikeras untuk pindah mengajar di Yogyakarta. Setelah melalui sebuah proses perpindahan mengajar yang cukup panjang dan rumit namun akhirnya SK pindah mengajar di Yogyakarta tiba juga. Atas bantuan suami Siti, keluarga Aad dapat kontrakan yang tidak terlalu jauh dari tempat mengajar mamanya yang sekarang. Lokasinya adalah rumah paling pojok jalan ke utara dan jalan ke timur. Seberang jalan persis di perempatan ada phon beringin besar.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, ketika kondektur membangunkan Aad yang tertidur di kursi bis yang lengang itu. Diapun turun dari bis persis di pinggir jalan yang selanjutnya menuju ke rumah kontrakannya yang baru satu bulan ditempati. Dari jalan raya ke kontrakannya yang baru kira-kira masih 2 km. Dia kemudian minta tolong tukang ojeg yang sedang mangkal. Kebetulan hanya ada satu tukang ojeg di situ. Aad orangnya ganteng suka pakai ala orang Pakistan, sudah tamat Aliyah sejak 2 tahun yang lalu dan sedang menunggu kesempatan kuliah di Madinah. Saat membonceng Aad tukang ojek bertanya: “Mau turun dimana?” Aad menjawab bahwa akan turun di rumah yang depannya ada pohon beringinnya. Kemudian tukang ojeg itu ngebut tanpa bicara lagi. Setelah sampai di pohon beringin Aad diturunkan langsung ojegnya balik dan ngebut tanpa minta bayaran. Aad pun heran sambil bergumam:”…kok tukang ojeg tadi aneh banget, apa dia pikir saya ini hantu yang rumahnya di pohon beringin yah…”
Yogyakarta, 14 Agustus 2020
Sumber gambar : Aluvimoto.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
