Wulan dan Neneknya - Pentigraf - 18 ( Tamugusi ke -26 )
Sore itu di dusun Sukajaya terlihat ada pelangi nan elok. Ramai anak-anak keluar rumah untuk menyaksikan pelangi. Mereka Nampak bahagia sekali melihat fenomena alam yang langka. Pelangi muncul karena ada cahaya matahari yang kuat dan ada rintik hujan gerimis sehingga membias dan menciptakan warna warna yang indah dan melengkung.
Wulan yang sedang berada di rumah neneknya juga ikut menyaksikan pelangi itu dari halaman rumah. Dia yang masih sekolah di paud pun tak jemu-jemu memandang pelangi yang semakin samar. Dia lalu bilang sama neneknya kalau pingin terbang ke langit mengambil pelangi lalu dijadikan pita yang akan dipasang di rambutnya yang ikal dan panjang. Neneknya hanya tersenyum menanggapi cucunya yang polos itu. Neneknya mengajaknya masuk ke rumah karena pelanginya sudah hilang dan sepertinya mau hujan.
Sampai di rumah Wulan masih saja cerewet sama neneknya. Dia menanyakan apakah pelangi itu selendanganya para bidadari. Yang dijawab bahwa itu ciptaan Tuhan. Lalu tetiba diluar hujan turun. Wulan pun menanyakan apakah hujan itu tandanya para bidadari sedang mandi. Neneknya yang bingung hanya menjawab bahwa itu mungkin. Tetiba ada petir, Wulan yang cerewet pun tanya :” Nek…kalau pelangi itu selendang bidadari, air hujan mandinya bidadari, terus kalau petir apanya bidadari?” Neneknya hanya tersenyum sambil bergumam dalam hati bahwa cucunya persis mamanya saat seumurannya suka tanya yang aneh-aneh.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan