Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
GLS Online Sekolahku ( Tamugusi ke - 50 )

GLS Online Sekolahku ( Tamugusi ke - 50 )

Pandemi covid-19 yang telah berlangsung kurang lebih tujuh bulan ini telah mengacaukan berbagai program yang telah dicanangkan baik oleh per orangan maupun secara kelembagaan. Demikian juga hal itu terjadi pada sekolah kami. Pandemi covid-19 yang ditunggu-tunggu perginya hingga saat ini belum ada tanda-tanda mau pamitan pulang ke tempat asalnya, bahkan malah menunjukkan bahwa ia betah dan makin berulah dengan hinggap di sana sini dengan genitnya dan menimbulkan korban baik nyawa maupun material yang tak terkira banyaknya. Sebagai kepala perpustakaan sekolah yang sekali gus ditunjuk sebagai kordinator Gerakan Literasi Sekolah di sekolah tempat saya mengabdi pun saya merasa bingung. Hal ini karena baik perpustakaan maupun GLS yang biasanya off line atau luring tiba-tiba harus online atau daring. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya harus terjadi, tentu hal ini membutuhkan pemikiran keras untuk menjalankan program literasi apapun yang terjadi. Saya yakin hal ini juga dialami oleh siapapun, karena semua mengalami pandemic covid 19.

Sebelum pandemi covid-19 datang, GLS di sekolah kami berjalan baik sesuai program yang telah dijadwalkan pelaksanaannya. Jadwal GLS sebelum covid-19 adalah Senin pekan ke dua dan empat adalah circle time atau diskusi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah dengan tema tertentu di lobby sekolah dengan cara melingkar, terus nanti ada yang maju di tengah lingkaran tiga orang anak untuk berperan sebagai host, moderator dan presenter. Diskusi berlangsung selama 45 menit. Selasa membaca buku non pelajaran 15 menit pada jam pertama sebelum pelajaran di kelas masing-masing ditemani oleh guru maple jam pertama.. Rabu adalah menuliskan apa yang telah dibaca pada hari Selasa. Kamis adalah berbicara di depan kelas secara bergiliran dengan topik bebas atau boleh juga menceritakan apa yang telah ditulis pada hari sebelumnya. Biasanya dapat dua atau tiga siswa jika masing masing anak bicara 5 menit. Hari Jumat adalah tadarus Al-Qur’an bagi yang beragama Islam, membaca alkitab bagi yang non Islam. Semua kegiatan literasi ditulis dalam buku jurnal kegiatan literasi.

Selama pandemic GLS yang seperti biasanya otomatis berhenti karena adanya kebijakan PJJ ( Pembelajaran Jarak Jauh) dimana harus jaga jarak demi terputusnya penyebaran covid-19. Lalu apa solusinya agar Literasi tetap berjalan di tengah pandemic ini? Jawabannya adalah membuat GLS online. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berfikir putar otak mencari solusi dan inovasi. Dan ternyata program GLS on line ini mendapat sambutan baik dari seluruh warga sekolah. Medianya adalah Whatsapp grup “GLS SMK YPKK 3 Sleman.”

Saya sebagai kordinator GLS sekolah kami membuat grup wa kemudian minta mereka bergabung dengan tautan. Tautan grup wa saya bagikan ke grup-grup kelas dan juga grup guru. Dalam tempo cepat mereka klik taut dan bergabung dalam grup GLS tersebut. Setelah mereka masuk dalam grup GLS, saya umumkan program GLS on line dan mereka menindaklanjuti.

Program pertama adalah menulis minimal tiga paragraph tentang “Apa yang mereka rasakan selama pandemic covid-9”. Di luar dugaan, saat mereka diminta mengerjakan tugas-tugas pelajaran sesuai kurikulum yang respon baik tidak sampai 50%, namun saat mereka diminta curhat dalam tiga paragraph itu cepat sekali mereka mengirimkan tulisan di grup literasi. Dalam mengirim tugas saya minta dikerjakan di ms word kemudian diberi nama dan kelas apa. Saya akan menunjukka dua tulisan mereka.

Nama : Sebti Patma Wati

Kelas : XII Tata Kecantikan

Yang saya rasakan selama masa pandemi Covid-19 :

Saya merasakan rindu belajar diskolah,karena kelas daring hanya dilakukan secara online tidak bisa bertemu langsung dengan teman-teman dan bapak/ibu guru.Suasana yang biasanya terasa begitu ramai saat mengerjakan tugas di kelas sekrang terasa sepi karena hanya mengerjakan sendirian di kamar.Beberapa kali juga merasakan kurang efektifnya kelas daring,jika ada beberapa materi yang sulit untuk di pahami kita hanya bisa bertanya melalui media online saja tidak bisa bertanya langsung, sedangkan menurut saya jika ada materi yang sulit di pahami akan lebih mudah jika di jelaskan sejara langsung/tatap muka.

Tapi saya juga merasa kelas daring adalah metode yang paling tepat saat masa pandemi ini.Adanya kebijakan sosial distancing agar tidak menyebabkan penambahan penyebaran virus membuat kita harus benar-benar menjaga jarak dengan orang lain.Dan dengan adanya kelas daring kita tidak memerlukan biyaya transportasi karena kesulitan ekonomi orangtua di masa pandemi ini benar-benar terasa sulitnya.

Seringkali saya merasa jenuh karena hanya berdiam diri dirumah.Rencana dari tahun lalu yang ingin mengadakan liburan bersama teman-temanpun harus di batalkan karena kasus covid tidak kunjung mereda.Walaupun sekarang beberapa tempat wisata sudah mulai dibuka kembali,tapi kita masih harus waspada agar tidak tertular.

Nama: Nurlayla ayu Kinanthi

Kelas : XI Akuntansi

Bosan belajar dirumah saat pandemi Covid-19.

Semenjak diumumkan adanya Virus Corona atau Covid-19 ,virus yang berasal dari China yang semakin lama semakin cepat penyebarannya hingga ke Indonesia hingga mengakibatkan seluruh sekolah di Indonesia harus melakukan kegiatan belajar dari rumah.

Pandemi Covid-19 ini yang berarti terjadinya wabah suatu penyakit yang menyerang banyak korban, bukan hanya di Indonesia namun juga terjadi di beberapa negara. Karena semakin menyebarnya pandemi Covid-19 ini adalah alasan seluruh sekolah di Indonesia dilakukan kegiatan belajar dari rumah agar memperlambat penyebaran penyakit menular tersebut.

Dengan ini pemerintah pun menginstruksikan supaya kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah sebagai upaya mencegah penularan Virus Corona atau Covid-19.dengan ini saya pun harus bisa beradaptasi dengan baik agar kegiatan belajar di rumah tidak terlalu sulit. Caranya yaitu apabila diberikan tugas dengan guru mapel segera saya kerjakan agar tidak terlalu numpuk.

Namun, saya juga mengalami kesulitan dan kendala selama belajar di rumah yaitu jika guru mapel memberikan tugas mereka tidak memberikan pemahaman terlebih dahulu, jadi agak sulit untuk mengerjakannya dan saya juga terkendala dengan HP saya yang sangat tidak mendukung.

Program berikutnya nanti saya sajikan pada kolom berikutnya. Tidak ada yang tidak mungkin sepanjang kita mau cari solusi, maka segenting apapun situasi akan selalu bisa diatasi, termasuk GLS yang mangkrak. Usaha dan doa adalah dua kata yang harus kita laksanakan senantiasa. Salam Literasi.

Yogyakarta, 17 September 2020

Sumber gambar : sdn7muntok.sch.id

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post