Menantu Idaman - Bagian 1 ( Tamugusi ke - 60 )
Bagian 1
Sambil menikmati teh panas ditemani sepiring pisang goreng kapok kuning, pak dan bu Surya ngobrol di teras rumahnya. Udara yang sejuk dan cuaca yang tidak terlalu panas membuat sore itu semakin syahdu. Halaman yang bersih dengan tanam hias serta beberapa tanaman buah tertata rapi. Rumah yang ideal untuk menikmati hari-hari senja mereka.
Keduanya telah purna tugas. Pak Surya sudah berusia 70 tahun sedangkan bu Surya sudah berusia 61 tahun. Pasangan ini terpaut usia 9 tahun. Mereka dikarunia dua orang anak, satu putra dan satu putri. Kedua anaknya juga sudah mapan dengan pekerjaannya yang bagus.
“Alhamdulillah ya pak, kita ini harus bersyukur pada Allah karena di usia kita yang sudah senja ini masih diberikan kesehatan, sudah menunaikan ibadah haji, bisa bersedekah dengan rutin, anak-anak kita juga sudah berpenghasilan sendir,” demikian bu Surya berucap.
Pak Surya menjawab sambal meletakkan cangkir teh yang telah diseruputnya:”Iya lah bu. Kita ini sudah membina rumahtangga hamper 40 tahun dan syukur kita masih tetap bisa menjaga komitmen untuk selalu setia satu sama lain, tetap bersama dalam kondisi apapun dan itu bisa menjadi contoh untuk generasi kita bu.”
Bu Surya menimpali:”Iya pak. Hanya saja ada satu yang masih menjadi beban pemikiran saya pak.”
Pak Surya bertanya:”Apa bu yang masih menjadi beban pemikiran ibu. Kita sudah berhasil mendidik anak-anak, menafkahi mereka hingga mereka sudah dapat pekerjaan yang mapan. Si sulung sudah jadi branch manager di sebuah bank, si bungsu sudah menjadi dosen di perguruan tinggi bergengsi di ibukota dan sering melakukan penelitian yang tulisannya di muat di jurnal Internasioanl. Kita harus bangga dong bu. Semua orang memandang kita adalah keluarga yang nyaris tanpa masalah.”
Bu Surya :”Betul pak. Ibu tidak menafikan hal itu sama sekali. Namun rasanya belum lega jika belum menyaksikan anak-anak kita berkeluarga dan hidup bahagia dengan keluarganya. Ibu merindukan punya menantu idaman yang akan memberikan cucu-cucu yang lucu dan pintar.”
Pak Surya:”Sabar bu, doa-doa telah tak hentinya kita panjatkan agar anak-anak kita dipertemukan dengan jodoh-jodoh mereka dan menjadi pasangan yang berbahagia. Hanya saja pasti Allah punya rencanaNya yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Kita tetap harus berhusnudzan pada Allah SWT.”
Tiba-tiba mobil CR-V merah datang dan langsung menuju garasi rumah. Putra tampannya yang bernama Cahyo 37 tahun keluar dari mobil langung berucap :“Assalamu’alaikum pak bu.” Lalu Cahyo bersalaman dan mencium tangan kedua orangtuanya setelah sebelumnya menyemprotkan handsanitizer ke telapak tangannya sendiri.
“Kok sore banget baru pulang nak? Apa banyak nasabah hari ini?” tanya bu Surya
“Iya bu, kebetulan tadi ada meeting dengan staf sebelum pulang dan ada hal-hal penting yang harus dibicarakan, sehingga pulangnya terlambat dari biasanya.” Balas Cahyo.
“Ya sudah sana masuk dan mandi dulu. Ini sudah sore loh waktu asar sebentar lagi habis. Segera mandi dan sholat.” ucap bu Suryo pada putranya.
“Baik bu segera laksanakan perintah bunda ratu.” Jawaban Cahyo pada bundanya sambil bercanda.
Bersambung
Yogyakarta, 27 September 2020
Sumber gambar : jemput.jemput.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
