Menantu Idaman - Cerpen bagian 2 (Tamugusi ke - 61 )
Selepas jama’ah sholat maghrib di mushola rumah keluarga pa Suryo, meraka menuju ke meja makan untuk makan malam bersama sebagaimana biasanya. Semua sudah terhidang di meja makan dengan baik. Ada sayur lodeh, sambal terasi, lalapan timun, ikan bandeng presto. Tak lupa kerupuk dan juga tempe goreng. Ada buah pisang ambon dan jeruk Malang untuk buahnya. Pembantu mereka yang sudah lama sekali ikut mereka mbok Ijah telah menyiapkan itu semua terhidang di meja makan.
Setelah menyendokkan nasi dari majikom ke piring bapak dan juga putranya, bu Suryo menyendokkan nasi ke piringnya sendiri sambil memerintahkan bapak dan anak untuk mengambil sayur dan lauknya. Kemudian mereka bertiga mulai menyuapkan nasi ke mulut mereka masing-masing setelah berdoa mau makan tentunya.
“Cahyo...ibu senang banget kamu itu selalu menjaga bapak dan ibumu hingga usia yang sudah senja ini. Dan kamu juga telah menunjukkan perilaku sebagai anak yang membanggakan kedua orangtuamu ini,” ucap bu Suryo di tengah mereka menikmati hidangan makan malam.
“Iya ibu, terimakasih ibu telah berkata yang membuat hatiku bahagia. Adakah yang hendak ibu sampaikan selain ucapan sanjungan itu bu? selidik Cahyo saat akan menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri.
Pak Suryo hanya menyimak percakapan ibu dan anak sambil terus menyuapkan nasi sesuap demi sesuap ke mulutnya sendiri hingga habis. Setelah habis, kemudian tangan kanannya meraih buah jeruk yang terletak di wadah buah yang cantik lalu mengupasnya dan memakannya sebagai cuci mulut.
Bu Suryo yang masih belum selesai manikmati makan malamnya itu berujar,”Cahyo…kamu tau sendiri kan bapak dan ibumu sudah purna tugas. Bahkan bapakmu sudah sejak lama pension.Ibumu sudah satu tahun ini cuma berada di rumah menemani bapakmu mengisi hari-hari tua. Rasanya semakin sepi kalau kamu sudah berangkat kerja. Paling di rumah hanya nonton TV atau lihat-lihat piaraan ayam dan kolam ikan di belakang rumah. Alangkah indah jika ada cucu-cucu yang hadir dari anak-anak ibu dan bapak. Entah itu dari kamu atau pun dari adikmu Yani. Pernahkah kamu berpikir untuk mengakhiri masa lajangmu dengan menikahi seorang gadis pujaan hatimu nak? Sungguh ibu mengidamkan menantu yang soleh dan solehah yang adalah pasangan hidup kamu dan juga adikmu.”
Cahyo yang telah menghabiskan makan malamnya pun menjawab curahan hati ibundanya. “Iya ibu. Cahyo paham apa yang ibu pikirkan dan selama ini membenani hati dan pikiran ibu. Namun bagaimana ya bu…Namanya mencari pasangan hidup itu harus jeli, hati-hati memilih yang benar-benar pas di hati karena akan menjadi pasangan hidup untuk selamanya, bukan untuk satu dua hari saja. Seperti bapak sama ibu ini loh. Cahyo pingin banget nanti bersuami istri seperti bapak dan ibu. Saling mendukung satu sama lain, saling kasih dan saying hingga di saat ini sudah berpuluh-puluh tahun, masih kokoh jalinan cinta itu.”
“Iya ibu juga selalu berdoa kamu dan juga adikmu dapat pasangan hidup yang sejati. Namun nak .. selain berdoa, kan juga harus ada upaya agar doa-doa yang dipanjatkan dapat berujud menjadi kenyataan. Tidak hanya pasrah menunggu kiriman dari langit. Itu tidak mungkin akan terjadi.” Kata ibunya.
Kemudian dilanjut pertanyaan:” Dulu itu kamu kan pernah mengenalkan teman perempuan pada ibu, juga nampaknya hubunganmu dengan dia kan sudah cukup lama. Lalu kapan akan khitbah atau kenalan sekaligus melamarnya untuk kamu jadikan istrimu?”
“Santi maksud ibu?” tanya Cahyo.
Ibunya menjawab,” Sepertinya iya, tapi ibu kok lupa ya namanya. Yang ayu ada tai lalat di pipi kanannya itu loh. Pernah kamu kenalkan sama ibu kok. Tidak berhijab memang, tapi nanti kalau sudah jadi istrimu kan bisa dinasihati agar menutup aurat dengan baik sesuai dengan agama Islam.” Cahyo menghela nafas kemudian bilang,”Maaf ibu, Cahyo belum sempat cerita. Santi sama Cahyo sudah tidak ada hubungan lagi. Dia malah sudah menikah dengan laki-laki lain dua bulan lalu. Santi tidak berjodoh dengan Cahyo bu.”
Tak lama terdengar suara azan isa dari masjid di kompleknya. Pak Suryo mengajak ibu dan anak untuk sambung ngobrolnya selepas isa. Kemudian mereka bertiga beranjak dari meja makan dan lalu ambil air wudu untuk sholat isa berjama’ah. Mbok Ijah kemudian merapikan meja makan tanpa dikomando.Bersambung..
Yogyakarta, 28 September 2020
Sumber gambar : jemput.jemput.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
