Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menantu Idaman - Cerpen Bagian 3 - ( Tamugusi ke - 62 )
Menikah

Menantu Idaman - Cerpen Bagian 3 - ( Tamugusi ke - 62 )

Malam minggu yang temaram diterangi rembulan yang malu juga bintang gemintang yang menemani malam itu. Angin sepoi-sepoi menerpa dedaunan di pekerangan yang menyebabkan mereka bergoyang menarikan irama alam nan syahdu. Malam itu suasana hati bu Suryo galau, melamunkan mendapatkan menantu idaman yang tak kunjung hadir. Dalam kegalauan hati tak henti bu Suryo memanjaatkan doa agar putranya yang sudah berumur segera dapat gadis pujaan untuk menjadi pendamping hidupnya.

‘Masuk bu, nanti masuk angin loh. Ntar juga Cahyo pulang. Mungkin masih ada urusan penting.” Demikian suara pak Suryo dari pintu memerintahkan bu Suryo yang sedang duduk di teras rumah menanti putranya yang belum pulang untuk masuk ke dalam rumah mereka.

Tak lama mobil CR-V merah masuk ke halaman rumah dan terus menuju garasi mobil rumah mereka.

“Assalamu’alaikum bu pak…ini Cahyo bawakan martabak telor dan juga terang bulan yang paling enak di kota ini.”

“Waalaikumsalam warahmatullah.” Jawab bu dan pak Suryo serempak.

Bu Suryo berkata,”Kok banyak banget nih oleh-olehnya…kita kan cuma berempat sama mbok Ijah. Nanti khawatir tidak habis. Lagian kalau sudah tua seperti bapak dan ibu kan makan tidak seberapa banyak.”

‘Iya bu. Tadi sepulang dari ketemuan dengan seseorang kok lihat ada penjual martabak yang sangat ramai pembeli sehingga Cahyo ikutan antri untuk membeli, karena pasti yang dijualnya enak.”

Mereka bertiga di ruang keluarga sambil menikmati acara televisi melanjutkan obrolan dan juga menikmati martabak yang dibawa Cahyo. Tak lupa mbok Ijah membuatkan mereka minuman teh panas namun tanpa gula karena sudah menyertakan Tropicana slim. Mereka memang sedapat mungkin tidak mengkonsumsi gula tebu yang kurang bagus untuk kesehatan. Mereka menggantinya dengan pemanis yang lebih sehat.

‘Mbok Ijah …sini ikutan makan martabak gurih dan juga martabak manis yang istimewa,” kata Cahyo menawarkan. Cahyo sangat sayang sama mbok Ijah karena dialah yang telah mengasuhnya sejak masih kecil.

“Mbok Ijah sudah kenyang nak Cahyo.”

“Tidak apa-apa. Kalau cuma dikit kan tidak masalah. Ayo ambil saja’” kata bu Suryo.

“Baiklah. Sepertinya enak banget. Saya ambil masing-masing satu potong saja,” jawab mbok Ijah.

“Tambah lagi. Yang makan kan cuma kita berempat.” Pak Suryo menimpali.

Setelah mengambil beberapa potong martabak, mbok Ijah kembali ke belakang, sambil mengucapkan terimakasih.

Cahyo kemudian masuk ke kamarnya sebentar untuk meletakkan tas dan mengambil phonecellnya kemudian balik lagi ke ruang keluarga untuk ngobrol lagi dengan ibu dan bapaknya.

“Bu ... pak…masihkah memimpikan punya menantu idaman?” Pertanyaan Cahyo yang tiba-tiba membuat bu dan pak Suryo kaget dan penasaran.

“Kok tiba-tiba bertanya gitu apakah berarti kamu sudah ada gadis tambatan hati nak? bu Suryo balik bertanya.

Sambil tersenyum Cahyo melanjutkan kata-katanya lalu membuka phonecellnya memperlihatkan foto gadis berhijab putih dengan gaun panjang berwarna pink.

”Ini gadis yang sedang mengisi hati Cahyo bu. Cantik kan bu?”

“Lumayan anggun dan manis. Siapa dia dan kenal di mana nak? sahut bu Suryo.

“Anak bujang kita sedang jatuh hati sama seorang gadis ayu pak.” Kata bu Suryo pada pak Suryo sambil tersenyum cerah.

“Alhamdulillah. Syukurlah. Tandanya doa-doa yang kita panjatkan mulai dijawab Allah,” Kata pak Suryo.

Bu Suryo meminta putranya untuk bercerita tentang gadis yang ada di dalam foto yang barusan diperlihatkan pada orang tuanya.

“Namanya Tyas Ayuningrum bu. Ayahnya adalah seorang guru SMA di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Tak jauh dari Yogyakarta. Ibunya adalah pedagang kelontong di pasar Kabupaten. Tyas sendiri adalah Sarjana Ekonomi alumni perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sekarang Tyas juga membuka usaha toko kelontong di rumahnya. Dia sengaja tidak mencari pekerjaan kantoran, dia memilih berwirausaha di rumah. Usianya terpaut 10 tahun dengan saya bu. Dia 27 tahun sedangkan saya 37 tahun,” Cahyo bercerita dengan antusias.

Bu Suryo bertanya,”Kok bisa kenal Tyas? Kenal di mana dan siapa yang memperkenalkan?”

Cahyo menjawab,”Belum terlalu lama bu Cahyo kenal Tyas. Adalah dia itu keponakan dari staf saya di kantor bu. Dia yang memperkenalkan Tyas kepada saya. Dia yang memberikan nomor kontaknya pada saya. Kami hanya baru berkomunikasi melalui whatsapp. Saling tukar foto dan informasi. Namun tadi selepas pekerjaan kantor, pamannya menemani saya untuk ta’aruf ke rumahnya sekaligus kenalan dengan orang tuanya. Makanya Cahyo pulangnya malam bu.”

“Alhamdulillah. Semoga pilihan hatimu sesuai dengan yang kita idamkan selama ini ya nak,” kata bu Suryo yang kemudian diaminkan oleh mereka bertiga.

“Mengingat usiamu yang tidak muda lagi, segera saja kita adakan khitbah. Teman-teman yang seumuran kamu sudah pada punya anak usia SD loh Cahyo. Khawatir juga kalau lama-lama berhubungan tanpa ikatan pasti malah bisa lepas lagi,” kata pak Suryo.

“Iya Cahyo…mari kita pikirkan dan tentukan tanggal kapan kita akan mengkhitbah Tyas,” kata bu Suryo.

“Iya bu..pak..Cahyo sangat setuju akan hal itu.”

BERSAMBUNG ...

Yogyakarta, 29 September 2020

Sumber gambar : jemput.jemput.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post