Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menantu Idaman - Cerpen Bagian 4 - ( Tamugusi ke 63 )
Menikah

Menantu Idaman - Cerpen Bagian 4 - ( Tamugusi ke 63 )

Bagian 4.

Sabtu sore. Cuaca cukup cerah. Halaman rumah bu dan pak Suryo sudah bersih karena sudah disapu oleh mbok Ijah pembantu mereka yang setia mengabdi pada mereka sejak Cahyo masih kecil. Pohon dan tanaman yang tumbuh di halaman pun sudah segar karena sudah disirami dengan air dari keran yang terpasang di sudut halaman rumah mereka.

Bu dan pak Suryo duduk di teras rumah ditemani teh panas dan beberapa cemilan. Mereka berdua sedang menanti kehadiran calon menantu idaman yang sore itu kabarnya mau datang bersama Cahyo.

Cahyo telah berjanji mau memperkenalkan Tyas calon istrinya itu pada orang tuanya sebelum khitbah dilaksanakan. Hal ini ia lakukan karena ibunya menghendaki ketemu dulu untuk kenal dulu calon menantu yang akan menjadi pendamping hidup puteranya. Maka dari Cahyo ditemani paman Tyas yang adalah stafnya di kantornya berangkat menjemput Tyas selepas pekerjaan kantor selesai. Mereka berangkat dari kantor pukul 14.00. Jam 15.00 sudah tiba di rumah Tyas.

Ditemui oleh Tyas -yang mengenakan baju kombinasi biru muda dan tua dengan jilbab putih, ibu dan bapaknya, mereka duduk ngobrol sebentar, lalu Cahyo mohon ijin untuk membawa Tyas ke rumahnya untuk diperkenalkan dengan kedua orangtuanya. Dengan senang hati orangtuanya mengijinkan Cahyo untuk membawa Tyas ke rumahnya ditemani oleh adik ibunya Tyas.

Pukul 16.30 mobil CR.V merah mobil kesayangan Cahyo pun telah tiba di rumahnya kemudian di parkir di halaman rumahnya yang lumayan luas dan bersih. Mereka bertiga keluar dari kendaraan yang baru saja ditumpanginya. Serempak mengucapkan salam pada bu dan pak Suryo yang telah berdiri menyambut kehadiran mereka. Setelah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir di keran yang sudah disiapkan juga mengelapnya dengan tissue, mereka bersalaman secara bergantian.

Bu dan pak Suryo mengajak mereka masuk ke dalam dan duduk di kursi tamu yang berukir khas Jepara. Perabotan yang unik dan antiq sengaja didatangkan dari Jepara. Setelah duduk sebentar, Cahyo mohon ijin sebentar untuk mandi supaya fresh dan nyaman, dan mempersilahkan mereka untuk ngobrol dulu sambil menikmati minuman dan senek yang sudah disiapkan oleh mbok Ijah.

Bu Suryo menanyakan kabar orangtua Tyas yang dijawabnya bahwa mereka semua dalam keadan sehat walafiat. Tyas bilang bahwa bapak dan ibunya menitipak salam takzim pada ibu dan pak Suryo sekeluarga. Lalu mereka berdua menjawab wa’alaikumsalam.

Tyas menyerahkan buah tangan berupa oleh-oleh khas dari daerahnya satu dus yang sudah disiapkan oleh bu Arif ibunya mbak Tyas.

“Ini bu ada titipan dari ibu saya untuk ibu sekeluarga,” kata Tyas pada ibu Suryo

“Waduh kok repot-repot to mb Tyas. Kamu dating saja ibu sudah senang banget,” kata bu Suryo.

Bu Suryo bertanya,” Tyas anak nomor berapa dan berapa bersaudara?”

Tyas menjawb,”Saya anak pertama dan terakhir. Setelah sekian lama menunggu kehadiran adik namun tak kunjung juga hadir maka jadilah saya putri satu-satunya bapk dan ibu saya.” Jawab Tyas pun dibenarkan oleh pamannya yang duduk Bersama mereka.

“O… jadi Tyas ini anak tunggal dari keluarga bapak Arif Rahman.” bu Suryo menyimpulkan.

“Benar ibu,” kata Tyas membenarkan.

“Mari dinikmati teh dan seneknya. Ibu ini giman to kok malah Cuma langsung diinterograsi tamunya tanpa mempersilahkan minum.” Kata pak Suryo.

“O ya maaf banget nih nak Tyas dan mas Bayu.. saking senang ketemu calon menantu malah jadi lupa mempersilahkan minum.” Kata bu Suryo sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

Kemudia serentak mereka mengangkat cangkirnya dan lalu meminumnya, lanjut mengambil senek yang telah terhidang yakni onde-onde dan juga roti-roti lainnya yang dipesan dari layanan delivery order.

Tak lama Cahyoi muncul dengan wajah berseri dan wangi karena telah mandi. Tyas pun memandangnya sejenak lalu tertunduk malu. Cahyo kemudian duduk di sebelah bu Suryo yang lebih aktif bicara daripada pak Suryo. Mereka melanjutkan ngobrol.

Cahyo berkata,”Bagaiman bu..pak.. Tyas cantik to?”

"Iya lah…kalau tidak cantik masa sih kamu mau. Ibu tau banget kalau Cahyo itu seleranya tinggi.” Jawab bu Suryo.

Tyas senyum sambil malu-malu. Bayu juga ikut tersenyum senang, karena Bayu lah yang telah memperkenalkan ponakannya itu pada Cahyo yang merupakan atasannya di kantor.

Setelah beberapa informasi penting menyangkut calon menantu idamnnya itu telah dicatat dalam benak bu Suryo maka kemudian mereka ngobrol santai hingga waktu maghrib pun tiba. Selepas maghrib mereka semua menikmati hidangan makan malam yang telah disiapkan dengan rapi di meja makan oleh mbok Ijah. Setelah itu Cahyo pamit pada orangtuanya untuk mengantarkan Tyas dan pamannya kembali pulang dengan mengendari CR-V merah yang masih terparkir di halaman rumahnya.

Yogyakarta, 30 September 2020

Sumber gambar : jemput.jemput.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post