Perpustakaan Keluargaku - Tamugusi ke - 41
Ayat Qur’an yang pertama kali diturunkan kepada nabiullah Muhammad SAW saat beliau sedang berkhalwat di gua Hira di Makkah almukarramah yang sekaligus mengukuhkan beliau sebagai “the messenger” yaitu Rasul utusan Allah SWT adalah QS. Al Alaq (Segumpal Darah) ayat 1 – 5. Bunyi ayat dan maknanya adalah sebagai berikut.
1. Iqra` bismi rabbikallażī khalaq
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
2. Khalaqal-insāna min 'alaq
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Iqra` wa rabbukal-akram
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
4. Allażī 'allama bil-qalam
Yang mengajar (manusia) dengan pena.
5. 'Allamal-insāna mā lam ya'lam
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Adalah dosa jika manusia tidak mau Iqra atau literasi atau belajar. Menyadari hal itu maka saat saya baru berkeluarga yang dilakukan suami saya adalah membuat rak buku. Perabotan lain tak begitu jadi masalah namun justeru rak buku lah yang diutamakan. Ketika saya bertanya mengapa rak buku yang diutamakan. Beliau menjawab bahwa akan membuat perpustakaan keluarga. Padahal saat itu anak-anak belum ada namun ayahnya sudah membuatkan rak buku untuk meletakkan buku-buku dan juga sumber bacaan yang lain guna terciptanya perpustakaan keluarga.
Saat menikah kami belum punya pekerjaan yang mantap. Masih kerja sebagai guru honor. Tau sendiri berapa sih bayaran guru honor. Herannya setiap kali dapat honor suami selalu menyempatkan untuk membeli buku. Bahkan suami nekat berlangganan Koran Pelita, baru kemudian berlangganan Republika hingga saat ini. Bahkan saat saya usul agar dihentikan saja berlangganan Koran toh sudah banjir informasi baik dari media main stream maupun dari internet. Suami saya menjawab bahwa tak ada niat untuk berhenti langganan Koran. Bisa dibayangkan korannya numpuk sampai banyak sekali.
Saat sudah bisa membangun rumah, kami bahkan membuat ruang perpustakaan yang justeru besarnya sama dengan rumah induk. Betapa suami sebagai kepala keluarga sangat memikirkan tentang Literasi Keluarga.
Di dalam perpustakaan keluarga terdapat banyak koleksi buku, yang lebih banyak adalah buku-buku agama karena kebetulan suami saya adalah dosen Pendidikan Agama Islam di Universitas Gadjah Mada dan kami berdua adalah alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di samping buku-buku, juga terdapat banyak majalah dari berbagai penerbitan. Suami sering sekali ke toko buku untuk membeli majalah majalah yang sudah diobral dan juga buku-buku murah saat cuci gudang.
Buku-buku bukan hanya berada di perpustakaan, namun di kamar anak-anak juga terdapat rak buku yang tentu saja berisi buku-buku mereka sesuai dengan bidang mereka. Bahkan buku-buku paket dari mereka sekolah tingkat dasar hingga masuk perguruan tinggi semua masih tersimpan rapi.
Ruang makan yang menjadi satu dengan dapur adalah ruang favorite untuk berdiskusi banyak hal. Anak-anak sangat mengagumi ayahnya saat ayahnya menjelaskan tentang Sejarah Peradaban Islam. Sampai si bungsu sering merekam ketika bertanya tentang suatu masalah maka langsung menyiapkan rekaman.
Ayahnya anak-anak paling rajin membuat catatan atau tulisan di blocknote dan buku agenda hingga tertumpuk dalam rak tersendiri. Kebiasaannya adalah jika mau ceramah atau mengajar beliau selalu membuat poin-poin penting dalam buku catatan. Dalam bidang IT memang kalah jauh dengan anak-anak bahkan dengan saya, namun ilmunya dalam utamanya ilmu keagamaan. Sehingga anak-anak dan juga saya sering menjadikan beliau rujukan jika ada hal-hal yang meragukan. Dan biasanya akan langsung ke perpustakaan untuk menunjukkan buku-buku yang menjadi bahan bacaannya.
Saya semakin terinspirasi dengan hadis nabi yang mengatakan bahwa keluarga adalah sekolah pertama tentu saja gurunya adalah orangtua dari anak-anak. Sebagai guru pertama kalau sampai kurang pengetahuan akan kurang wibawa dan tidak jadi idola anak-anak. Oleh karenanya maka benar ketika ayahnya anak-anak menyiapkan perpustakaan karena di sanalah keluarga berliterasi. Mewariskan ilmu pengetahuan lebih penting daripada sekedar mewarisi harta benda yang kadang malah menjadi sumber sengketa antar saudara.
Perpustakaan keluargaku adalah tempat belajar keluarga yang nyaman. Bahkan tak jarang teman-teman anak-anak saya hadir untuk diskusi menyelesaikan tugas kuliah karena mereka sudah kuliah S1 S2. Di perpustakaan dilengkapi dengan wifi sehingga lebih nyaman dan memudahkan untuk belajar dan bereksplorasi baik melalui internet juga buku-buku yang tersedia. Disamping untuk belajar juga untuk sholat jamaah dan ngaji. Tak jarang untuk pengajian semacam taklim dan juga untuk kumpulan RT atau RW. Bersyukur kami memiliki perpustakaan yang besar.
Yogyakarta, 08 September 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
