Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Terlahir dari Keluarga Super Biasa ( Tamugusi ke - 49 )

Terlahir dari Keluarga Super Biasa ( Tamugusi ke - 49 )

Aku merasa bahwa hidupku adalah biasa biasa saja, tidak terlalu istimewa baik itu susahnya maupun senangnya. Namun demikian aku mencoba untuk menghayati setiap kejadian yang aku alami dari waktu ke waktu dengan penuh rasa syukur kepada sang Khalik Allah SWT yang telah menciptakanku dan mengijinkan aku hidup di dunia yang fana ini hingga usiaku yang sekarang sudah mulai menapaki senja. Banyak pengalaman hidupku yang semakin memberi warna dan makna kehidupanku baik kepada diriku secara personal maupun dalam keluargaku.

Saat itu orangtuaku menjalani kehidupan rumahtangganya di kota Pahlawan yaitu Surabaya. Kedua orangtuaku adalah orang kecil yang hidup sangat bersahaja. Kebetulan ayah dan ibuku adalah masih saudara sepupu. Ayah terlahir dari eyang putriku yang adalah adik kandung dari eyang kakungku yang merupakan ayah dari ibu kandungku. Namun selisih ayah lebih tua 12 tahun dari ibuku. Bahkan waktu kecil ayahku tinggal serumah dengan ibuku malah ikut merawat ibuku seperti layaknya adik sendiri. Namun tak disangka ayah dan ibuku kelak ditakdirkan Allah sebagai suami istri.

Setelah menikah kedua orang tuaku ke Surabaya. Ayahku mengabdi sebagai pegawai kecil di TNI AL sebagai tukang cukur para kadet. Ayah dan ibuku hanyalah tamatan SR atau SD. Kemudian kakak saya lahir di kota Surabaya. Saat itu karena ibu belum pengalaman dan kelahiran kakaku itu di kamar mandi saat ibu sedang mandi karena mau bersalin di rumahsakit TNI AL. Namun keburu lahiran di kamarmandi, yang menolong ayahku sendiri dan baru kemudian ada bidan yang menolong ibuku. Dan atas doa ibu karena setiap hari menyaksikan para kadet AL yang gagah gagah, kemudian ibu mendoa agar kelak kakakku jadi personil TNI AL. Alhamdulillah kini kakakku adalah seorang perwira TNI AL dengan pangkat kolonel.

Takut kalau kejadian melahirkan di kamar mandi terulang, maka ketika ibuku mengandung aku saat usia kandungan tujuh bulan ibuku minta diantar ayahku untuk melahirkan di kampung asal orangtuaku yaitu di Banyumas. Namun karena memang ibuku diberikan kemudahan saat melahirkan, kejadian yang sama terulang yaitu ibuku melahirkan saat ibu sedang mandi kamarmandi di rumah eyangku dan akhirnya yang menolong adalah eyang putriku sambil sedikit panik karena memang bukan bidan. Alahmadulillah aku lahir tepatnya tanggal 12 Oktober 1966 dalam keadaan sehat. Orangtuaku memberi nama bayi mungil itu SITI NURHAYATI yang maknanya Cahaya kehidupan di bumi. Saat usiaku baru empat bulan, ayahku menjemput ibuku kembali ke Surabaya. Namun empat tahun kemudian, ayahku dipindahtugaskan ke Lanal Cilacap.

Di Cilacap kami tinggal di sebuah rumah sederhana hanya bersebelahan dengan kantor TNI AL. Ayahku kemudian ditugaskan di Bintal karena ayahku juga adalah seorang ustad. Ketrampilan mencukurnya juga tetap dijalankan dan pelanggannya adalah juga kebanyakan dari para tentara AL. Sedangkan ibuku. punya ketrampilan menjahit dan pelangganyya lumayan banyak. Baju baju aku hampir semua adalah buatan ibuku sendiri.

Di Cilacap rumah kami juga bertetangga dengan sebuah toko China. Aku kecil bermain dengan anak China tersebut yang bernama Jingjing adiknya Asong. Saking akrabnya berteman kami bermain apa saja dan juga makan sering bersama bahkan bertukar makanan. Hingga suatu hari aku dengan girang pulang dari tempat Jingjing sambil membawa makanan yang itu adalah daging babi. Langsung ibuku bilang ..eh yang itu gak boleh dimakan karena itu daging babi. Orang Islam haram makan babi. Di Cilacap ibuku sempat melahirkan adik adikku, yang satu laki laki dan satunya lagi perempuan.

Saat aku mau masuk TK ibuku mohon sama ayah untuk pulang ke kampung. Usiaku saat itu lima tahun. Kakakku usia 11 tahun sedangkan adikku usia tiga tahun dan satu tahun. Akhirnya kakakku, aku, dan kedua adikku sekolah dikampung yaitu di desa Kalicupak kecamatan Kalibagor kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Kami membangun rumah sederhana. Saat itu belum ada listrik sehingga kalau petang tiba kami menyalakan lampu teplok dan petromax dengan bahan bakar minyak tanah. Kami masak menggunakan pawon atau tungku batu dan kayu bakar. Ibuku membantu mencari nafkah keluarga dengan menjahit baju dan merias manten. Ayahku kerja di Cilacap, setiap Sabtu sore pulanng kampung dan setiap Senin pagi balik lagi ke Cilacap. Begitu seterusnya hingga ayahku pensiun. Sebenarnya aku kasihan melihat ayah harus bolak balik tapi sepertinya itulah pilihan terbaik.

Aku sekolah hingga SMA di Sokaraja Banyumas. Adikku sekolah di pondok pesantren Kebarongan. Suatu hari adikku membawa temannya ke rumah. Aku saat itu kelas tiga SMA. Tiba tiba teman adikku bilang… “Kok mbak tidak mengenakan jilbab. Menutup aurat waijb loh bagi setiap muslim. Dan aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya.” Kemudian dia memberiku buku tipis tentang jilbab. Saat membaca bergetarlah hatiku. Saat itu aku seperti asing dengan agamaku sendiri karena pemahaman agama aku sangatlah minim. Maka sejak saat itu aku merasa bahwa aku harus lebih memahami dan mendalami agamaku yaitu Islam. Bahkan saat itu aku jadi sering membaca bacaan bacaan Islam baik itu buku buku Islam maupun berbagai artikel tentang Islam hingga suatu hari aku dipanggil kepala sekolah yang kebetulan Nasrani karena salah satu bulletin Islam yang aku baca ketinggalan di laci mejaku di kelas. Waktu itu aku diperingatkan agar hati hati jangan terpengaruh oleh paham Islam yang ektrim karena bisa berbahaya. Saat pelajaran Olah Raga aku tidak mau menggunakan seragam oleh raga sekolah karena bercelana pendek. Dan aku dimarahi oleh guru oleh raga bahkan tidak boleh ikut oleh raga sebelum berganti baju oleh raga yang celena pendek itu. Dengan berat hati dan marah dalam hati maka terpaksa aku menuruti peraturan sekolah.

Setamat SMA tahun 1986, aku memilih IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk melanjutkan studiku. Karena aku tamatan SMA umum maka saat test bahasa Arab aku tidak bisa sama sekali, tetapi mungkin nilai test bahasa Indonesia, bahasa Inggris ,matematika juga dirosat Islamiyahnya lumayan tinggi maka aku diterima. Aku mengambil tadris bahasa Inggris fakultas Tarbiyah. Padahal waktu sekolah nilai bahasa Inggrisku lemah, tetapi kalau mengambil jurusan agamapun juga berat maka Alhamdulillah aku lulus sebagai sarjana bahasa Inggris dari IAIN. Bahkan sekarang aku sudah M.Pd. Pendidikan bahasa Inggris dari UAD.

Di IAIN aku berjodoh dengan seorang pemuda asal Flores yang adalah kakak kelas jauh dan beda fakultas. Kami bertemu di kegiatan organisasi HMI. Suamiku kini adalah dosen PAI di UGM dan aku adalah guru bahasa Inggris di SMK swasta di kabupaten Sleman Yogyakarta. Kini aku sudah berusia 54, sedang suami berusia 59. Dari anak laki laki telah memberiku cucu laki laki usia 3 tahun dan sangat cerdas dan lucu. Alhamdulillah. Sedangkan dua putriku kuliah S2 dan S1 di fakultas yang sama di UGM yauti Fisipol. Yang S2 ambil Kebijakan Publik yang S1 ambil Hubungan Internasional. Bersyukur bahwa keluargaku walau tidak bergelimang harta namun kami merasa tercukupi. Aku sendiri disamping aktif mengajar juga aktif di organisasi Islam yakni Muhammadiyah atau Aisyiyah. Aku merasakan hidup menjadi lebih bermakna.

Yogyakarta, 16 September 2020Sumber gambar : koleksi pribadi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post