Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Berdebat (Tamugusi ke - 99)
Berdebat

Berdebat (Tamugusi ke - 99)

Oleh: Siti Nurhayati, S.Ag. M.Pd.

Dua hari lalu persisnya 29 Oktober 2020 saya menulis tentang “Memaknai Maulid Nabi Muhammad saw” kemudian saya unggah di facebook. Dalam tulisan tersebut saya mengatakan bahwa terlepas dari perbedaan pendapat tentang boleh tidak memperingati hari kelahiran Rasulullah saw dan kapan mulainya peringatan tersebut, satu hal yang harus disepakati bahwa sebagai muslim wajib untuk meneladani beliau karena beliaulah contoh tauladan yang baik.

Tulisan yang saya unggah di Facebook grup MGI dan halaman pribadi tak terlalu mendapat tanggapan yang seru, umumnya hanya bilang mantap atau sekedar “like”. Namun yang saya unggah di grup PGRI sungguh luar biasa responnya yakni antara yang mendukung dan tidak mendukung adanya peringatan maulid nabi saling berdebat seru.

Pertanyaannya adalah mengapa harus berdebat sedemikian rupa hingga terkadang harus muncul ujaran yang melukai perasaan orang yang terlibat perdebatan? Adakah Islam mentolerir perdebatan?

Berdebat itu boleh. Namun berdebatlah yang baik agar sama-sama beroleh kebenaran dan tidak kehilangan adab. Kita tentu tidak mau jika dibilang kurang adab.

Debat terjadi karena mempertahankan apa yang diyakininya benar. Namun harus ingat bahwa kebenaran yang hakiki hanyalah milik yang maha benar Allah swt. Sehingga tidak sewajarnya menganggap bahwa pendapatnyalah yang paling benar dan orang lain salah.

Debat yang terjadi di sosmed memang tidak bersuara umumnya hanya melalui tulisan namun tak kalah serunya. Untuk memperkuat argumentasinya biasanya mereka akan saling memposting link. Apakah berupa link video atau web. Sehingga perdebatan menjadi sangat panjang dan lebar hingga berhari-hari. Saya hanya berpikir bahwa link yang mereka bagi apakah sudah benar-benar mereka baca dan kuasai? Jika sudah dibaca dan dikuasi sebenarnya cukup dikatakan dengan bahasanya sendiri yang ringkas namun tidak mengurangi substansi dari sumber yang dikutipnya. Ini justeru menunjukkan kecerdasannya. Bukan sekedar fanatic buta dan debat kusir.

Etika berdebat dalam Islam yang dikutip dari laman bincangsyariah.com 22 Juni 2019

Dikutip dari kitab Adab Al-Ikhtilaf Fil Islam karangan Thaha Jabir Fayyad Al Alwani, tentang adab berdebat adalah sebagai berikut:

Pertama, memulai dengan husnuzhan (prasangka baik). Jika tidak ada prasangka baik maka khawatir tidak mau mendengarkan lawan debat dengan cermat sekalipun yang dikatakannya itu benar.

Kedua, menghargai pendapat orang lain sejauh pendapat tersebut mempunyai dalil yang berasal dari sumber yang kuat. Jika mau menghargai orang lain, orang lain pun akan menghargai kita.

Ketiga, tidak memaksakan kehendak bahwa pendapatnya yang paling benar. Karena orang lain juga kemungkinan benar.

Keempat, lapang dada menerima kritik, jangan mengedepan ego.

Kelima, hendaklah memilih ucapan yang terbaik dan terbagus dalam berdiskusi. Dalam surat Luqman ayat 19 disebutkan, ketika berbicara hendaknya kita melunakkan suara kita. Suara yang keras mudah menyulut kemarahan.

Keenam, tidak berkata kasar dan mencaci. Hati manusia bersifat lunak. Sedikit saja dikasari, pasti akan terasa sakit. Jika sudah saling sakit hati maka muncul permusuhan.

Ketujuh, mengusung semangat untuk menemukan yang lebih baik atau lebih benar, bukan mengalahkan atau menjatuhkan. Kalau sudah saling menjatuhkan sulit mendapatkan kebenaran.

Kedelapan, akhiri dengan komitmen untuk menjalankan kebenaran yang ditemukan bersama. Jika tidak dicapai kesepakatan akan kebenaran, hendaklah saling memaklumi dan menghargai. Meyakini kelemahan dan keterbatasan diri dengan berprinsip Wallahu A’lam bis Sawab. Hanya Allahlah yang Maha Mengetahui kebenarannya.

Maguwoharjo, 31 Oktober 2020

Sumber gambar : serikatnews.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post