Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Harus jadi Sarjana  ( Tamugusi ke - 78 )
Wisuda

Harus jadi Sarjana ( Tamugusi ke - 78 )

Oleh : Siti Nurhayati, M.Pd.

Jelang kelulusan SMA tahun 1986, saya sudah merajuk pada ibu agar diijinkan kuliah di Yogyakarta. Saya mau IAIN (UIN) Sunan Kalijaga menjadi tempat studi selanjutnya. Saya sadar ilmu keagamaan saya sangat minim. Berharap besar dengan kuliah di IAIN saya akan lebih bisa mendalami agama saya. Pikir saya saat itu.

Sejak kecil saya hanya sekolah di sekolah umum. TK, SD, SMP hingga SMA hanya memperoleh pelajaran agama yang hanya standard kurikulum sekolah umum. Wajar jika sebagai muslim saya kurang paham apa itu Islam. Kehidupan Islami kurang merasuk dalam keseharian.

Untuk kuliah di IAIN bukan perkara mudah. Apalagi saya dari sekolah SMA umum, bukan dari Aliyah yang bekal pengetahuan keislamannya lebih bagus. Saya tidak paham Bahasa Arab sama sekali. Sehingga tentu khawatir tidak bisa lolos seleksi masuk IAIN. Terlebih saya tidak mengenal siapapun di Yogyakarta.

Masalah berikutnya adalah kemampuan keuangan orangtua untuk membiayai kuliah adalah sangat berat. Kakak saya saat mau kuliah di UGM saja tidak didukung mengingat biaya kuliah yang pasti tak sedikit. Beruntung kakak saya diterima di AKABRI sehingga orangtua tidak perlu memikirkan biaya kuliah dan biaya hidup selama Pendidikan.

Orangtua tidak tega melihat hasrat saya untuk melanjutkan studi di IAIN Yogyakarta sangat besar. Saya mempersiapkan diri dengan serius belajar dan juga berdoa. Akhirnya orangtua mengiyakan dan berjanji akan berusaha keras mencari biaya kuliah dan biaya hidup di Yogyakarta jika saya lolos seleksi ujian masuk.

Saya berbekal restu orangtua berangkat sendiri untuk ikut ujian masuk. Saya tidak punya saudara ataupun kenalan di Yogyakarta. Saya ada saudara sepupu di Klaten. Saya berangkat dari rumah bukan ke Yogyakarta tapi langsung ke Klaten. Pada hari H ujian masuk saya diantar sepupu ikut ujian masuk dan ditunggui hingga selesai. Kemudian pulang lagi ke Klaten. Ujian masuk test manual selama dua hari.

Selesai ujian masuk, saya pulang ke Banyumas. Pengumuman kelulusan akan diberitahukan melalui surat dua minggu berikutnya. Saya menunggu dengan harap-harap cemas. Tes Bahasa ada tiga yakni Bahasa Indonesia, Inggris dan Arab. Tes Bahasa Arab yang saya sama sekali tidak bisa. Tapi mungkin nilai Bahasa Indonesia dan Inggrisnya yang diperhitungkan disamping nilai dirasat Islamiyah. Alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Saya langsung sujud syukur.

Ketika mendengar saya mau kuliah di Yogyakarta, beberapa saudara mendatangi ibu saya . Mereka bilang pada ibu untuk berpikir ulang . Alasan mereka menguliahkan anak di kota lain biayanya pasti tidak sedikit. daripada nanti putus di tengah jalan. Tapi ibu saya bilang kalau sudah dipikirkan masak-masak.

Saya diantar ibu ke Yogyakarta. Saat itu bapak saya sudah minta tolong orang mencarikan tempat mondok selama saya kuliah. Saya dan ibu langsung menuju tempat mondok saya di daerah Sapen dekat dengan kampus IAIN.

Ibu sempat ngantar saya ke kampus untuk menemani saya mengurus daftar ulang dan lain-lain. Ibu saya sangat bahagia saya diterima kuliah di IAIN. Berharap bahwa saya lebih bisa memahami agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Setamat SMA saya baru latihan mengenakan hijab. Supaya konsisten mengenakan hijab terus maka saya masuk kuliah di IAIN. Saat itu kuliah di IAIN tidak langsung mendapatkan jurusan. Pada semester pertama namanya SPBI yakni Semester Persiapan Bersama Institut untuk mendapatkan fakultas. Ada dua pilihan yang saya ambil yakni fakultas tarbiyah dan dakwah. Tapi akhirnya saya terpilih untuk masuk Tarbiyah. Kemudian ada SPBF yakni Semester Persiapan Bersama Fakultas untuk memilih dua jurusan. Dari dua jurusan yang saya pilih, akhirnya saya terpilih untuk meneruskan di jurusan tadris Bahasa Inggris.

Beruntung biaya kuliah per semester jaman saya adalah hanya 33.000 rupiah. Bisa dibayangkan jika biaya kuliah lebih besar dari itu, tentu orangtua saya tambah kasihan. Bapak hanya pegawai kecil dengan ijazah SR/SD di sipil Angkatan Laut Cilacap. Ibuku membantu mencari nafkah dengan menjahit baju orang dan merias manten. Untuk uang kadang orangtua mengirim lewat wesel pos atau kadang saya pulang naik bis ekonomi.

Kuliah sampai di semester lima ada seorang pemuda luar Jawa yang sekarang jadi suami saya datang ke rumah saya menemui orangtua untuk melamar saya. Awalnya orangtua bingung karena kuliah saya belum selesai. Namun setelah saya bilang akan terus kuliah walau sudah menikah baru orangtua mengabulkan. Di IAIN banyak yang kuliah tapi sudah menikah.

Memang tidak mudah menjalani dua dunia sekaligus. Dunia perkuliahan dengan segudang tugas, dan dunia rumahtangga yang tak kalah ribetnya. Apalagi menjalani kehidupan rumahtangga dengan seseorang yang belum lama dikenal secara intens. Hanya hubungan sebentar sekitar dua bulan kemudian menikah. Adaptasi menyatukan dua pribadi dari latar belakang kehidupan yang sangat berbeda membutuhkan kesabaran dan oleh emosi yang luar biasa rumit. Namun alhamdulillah karena komitmen yang tinggi untuk tetap mempertahankan kehidupan rumah tangga sampai kapanpun maka semua bisa diatasi. Walau tak jarang berurai airmata.

Tak lama menikah pada akhir smester 6 saya melahirkan anak pertama. Bayi laki-laki lahir pada 18 Agustus 1990. Bisa dibayangkan repotnya. Saya sering tidak kuliah karena super repot. Belum lagi kalau anak sakit.

Semua serba terlambat, Ambil cuti dua semester. KKN sudah punya anak umur 18 bulan. Untuk teman satu grup baik-baik. Sehingga gotong royong saling membantu. Semua dapat nilai A.

Mengerjakan skripi nyaris tiga tahun baru kelar. Saat pendadaran malah sedang hamil besar. Akhirnya untuk perbaikan skripsi tunda lagi karena melahirkan anak kedua seorang bayi perempuan pada tanggal 9-9-1994. Akhirnya awal 1995 berhasil menyandang gelar Sarjana sekaligus sudah punya anak dua. Rumahtangga selamat, Sarjana pun dapat, meski terlambat.

Yogyakarta, 12 Oktober 2020

Sumber gambar : alibrahgresik.or.id

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post