Insiden Mendampingi Siswa Piknik ( Tamugusi ke - 83 )
Insiden Mendampingi Siswa Piknik
Oleh : Siti Nurhayati
Setiap tahun ajaran baru selalu ada acara PLS atau pengenalan Lingkungan Sekolah dan Orientasi. Di ujung acara adalah Kunjungan Pra KI, muskala (museum dan kepurbakalaan) terakhir adalah piknik. Saat itu piknik ke Tawangmangu di lereng gunung Lawu Karanganyar Jawa Tengah.
Saat itu siswa baru jumlahnya 45. Saya ditunjuk menjadi wali kelas 10. Karena wali kelas maka diwajibkan ikut mendampingi acara piknik tersebut, bersama wali kelas 10 lainnya plus waka kesiswaan dan kurikulum. Kami menyewa satu bis pariwisata kapasitas 50 dan cukup nyaman. Hampir seluruh siswa baru mengikuti acara tersebut kecuali dua anak yang ijin tidak ikut.
Setelah selesai kunjungan ke salah satu candi lanjut pra KI di salah satu industri tekstil besar di kota Solo, terakhir piknik ke Tawangmangu. Selama perjalanan anak-anak sangat riang. Mereka bernyanyi, bercanda, makan cemilan dan hampir tidak ada yang mabok. Guru pendamping hanya mengawasi mereka sambil ngobrol dan melayani jika ada yang minta minyak kayu putih atau kantong plastik jika ada yang mabok.
Pemandangan sepanjang jalan cukup memanjakan mata. Hijau, indah, menanjak dan meliuk, khas pemandangan di lereng pegunungan. Bersykurur kru bis sangat berpengalaman sehingga kami merasa tenang dan nyaman. Akhirnya bus pun tiba di lokasi wisata Tawangmangu.
Pak Budi sebagai pendamping satu-satunya lelaki dianggap sebagai pimpinan rombongan. Beliau yang membeli karcis masuk lokasi wisata. Kami menunggu proses pembelian karcis selesai di depan pintu gerbang. Setelah dihitung sesuai jumlah, kemudian para siswa diminta masuk duluan baru guru pendamping mengawal di belakang mereka.
Tawangmanu merupakan wisata alam yang sangat bagus. Obyek utama yang akan dilihat adalah Grojogan Sewu atau Air Terjun Seribu. Dikatakan seribu karena air terjunnya terlihat seperti banyak. Air itu jatuh dari ketinggian yang lumayan tinggi. Hawanya sangat sejuk, khas hawa pegunungan. Anak-anak dipesan agar hati-hati karena tangga untuk sampai ke air terjun sekira 1200 an. Di kelilingi hutan pinus serta pohon lainnya yang hijau menjulang tinggi dan banyak sekali monyet.
Anak-anak berlarian sambil bergurau. Mereka sehat dan kuat karena masih sangat muda. Namun bapak ibu guru pendamping kan tidak sekuat mereka. Tau-tau mereka sudah hilang dari pandangan mata. Ada satu dua yang masih terlihat dan ada yang takut dengan monyet yang mengganggu mereka.
Kami pendamping juga berusaha untuk mengimbangi mereka agar tak lepas dari pengawasan. Kami berempat berada di belakang anak-anak walau sudah ditinggal. Bu Wati dan bu Yoga jalan di depan saya sambil gandengan tangan. Saya di belakngnya dan pak Budi di belakang saya namun agak jauh. Saya bercanda ketika melihat ada monyet yang lumayan besar sedang duduk di pinggir jalan menikung yang akan di lewat kami. Saya bilang bu Wati bu Yoga untuk hati-hati ada monyet yang kelihatan sedang kesepian.
Kami berjalan cukup hati-hati agar monyet yang sedang duduk itu tidak terganggu. Saat sudah dekat ternyata monyet itu melihat kami dan berusaha meminta apa yang dipegang kami. Bu Wati dan Bu Yoga sudah berhasil melewati monyet itu walau sangat takut. Namun monyet itu malah mengejar saya. Otomotis saya lari balik ke atas dan tanpa sadar saya lari menuju pak Budi dan memeluk erat sambil teriak-teriak ketakutan karena monyet itu tetap mau minta sesuatu dari saya. Saya ingat bawa kacang di kantong celana dan langsung kuberikan pada monyet itu. Setelah monyet pergi saya baru sadar kalau saya memeluk pak Budi.
Saya langsung melepas pelukan saya dan malu bukan main. Saya minta maaf tapi pak Budi senyum sambil bilang tidak apa-apa. Monyetnya sudah pergi karena takut sama pak Budi atau karena saya kasih kacang saya tidak paham. Bu Wati dan bu Yoga ketawa terpingkal-pingkal melihat adegan yang di luar dugaan. Saya tambah malu tapi apa daya. Itu sungguh insiden yang lucu tapi memalukan sekaligus menegangkan. Beruntung banget tidak ada anank-anak yang melihat kejadian itu. Sepanjang jalan mereka berdua ngerjain saya terus. “Suruh ngawasi anak-anak malah pelukan sesama wali kelas,” itu yang diucapkan oleh mereka berdua sambil ngeledek saya sepanjang perjalanan. Dan esok harinya heboh di sekolah, maluuuuu banget.
Maguwoharjo, 16 Oktober 2020
Sumber gambar : dolanyok.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
