Menantu Idaman - Cerpen Bagian ke 7 ( Tamugusi ke - 66 )
Bagian 7. Miskomunikasi
“Acara Tv kok gak ada yang bagus to bu…isinya kok cuma berita-berita yang kurang menarik. Kalau bukan kenaikan angka kasus covid-19 adalah orang tengkar masalah politik. Kalau bukan berita kriminal adalah berita tentang kecelakaan. Sinetron juga adanya cuma perselingkuhan. Tidak mendidik sama sekali. Coba cari acara yang bikin sejuk di hati to bu.” Demikian kata-kata yang terucap oleh pak Suryo sambil memencet remot TV. Berdua nonton TV selepas sholat isa. Mereka berdua duduk di sofa di depan TV.
Tiba-tiba Cahyo keluar dari kamarnya ngajak ngobrol sama bu Suryo. Nampaknya ada hal yang membuat gundah hati ingin disampaikan. Tidak lain terkait masalah pernikahan yang akan dilaksanakan bulan depan.
“Bu…nanti bagaimana ya pas acara pernikahan di tempat Tyas?” Cahyo mengungkapkan kekhawatirannya pada ibunya.
“Lah memang ada apa kok tiba-tiba kamu tanya begitu? Ada berita apa dari Tyas?” Tanya bu Suryo pada Cahyo.
“Di Jawa Tengah peraturannya sangat ketat jika menghendaki ada hajatan yang menghadirkan banyak orang. Kata Tyas ijinnya harus sampai ke kabupaten. Harus siap menanggung resiko jika nanti dari hajatan ada yang terpapar covid-19. Resikonya adalah harus menanggung biaya rapid dan swab test seluruh yang hadir pada acara hajatan juga biaya karantina jika ada yang terpapar covid-19,” jawab Cahyo.
“Sebenarnya ibu dan bapak juga memikirkan hal itu Cahyo. Bapak dan ibu sangat realistis bahwa sekarang ini pandemic covid-19 masih berlangsung dan grafiknya masih belum melandai. Jadi ibu berfikir kalau nanti tidak perlu pakai acara hajatan yang besar. Yang sederhana saja, cukup mengundang beberapa kerabat dekat saja untuk acara walimatul ‘urs atau resepsi pernikahan. Itu pun nanti setelah akad nikah bapak dan ibu segera pulang karena bapak dan ibu kan sudah tua jadi harus lebih hati-hati menjaga Kesehatan,” jawaban bu Suryo.
“Ada apa bu kok jadi serius gitu ngobrol Cahyo?” tanya pak Suryo yang dari tadi memainkan remot TV mencarai acara yang pas di hati.
“Ini loh pak…Cahyo gundah tentang acara pernikahannya nanti,” jawab bu Suryo.
Pak Suryo tanya,”Apa yang membuatmu gundah Cahyo? Bukannya harusnya kamu itu berbahagia akan menikahi gadis piliahanmu sendiri?”
“Bukan itu masalahnya pak. Tapi ini persyaratan untuk hajatan pernikahan nanti di tempat Tyas ribet banget. Ijinnya harus sampai gugus tugas covid-19 kabupaten dengan syarat yang bikin saya pusing pak,” jawab Cahyo.
“Orangtua Tyas tidak mau kalua Cuma acara pernikahan dibuat sangat sederhana, Tyas juga maunya hajatan pernikahan nanti dibuat meriah. Mana ibu kelihatannya kurang mendukung kalua acaranya dibikin besar-besaran.”
Bu Suryo terkejut mendengar putranya ngomong seperti itu. “Loh Cahyo…kok kamu ngomongnya begitu? Apa ibumu bilang kalau tidak mendukung acaramu?” ibunya bertanya.
“Iya ibu itu maunya acara Cuma akad nikah saja di KUA lalu abis itu syukuran di rumah Tyas undang kerabat dekatnya saja. Ibu kurang mendukung keinginan keluarga Tyas untuk gelar hajatan yang besar. Padahal Tyas kan putri tunggalnya, masa hajatan kok mau sepi-sepi saja.” Cahyo bicara dengan nada yang kurang enak didengar.
Ibunya berkata,” Waduh Cahyo, putraku sayang…ibu kok jadi sedih banget yak amu omong seperti itu. Tidak pernah ada niatan ibu untuk tidak mendukung acara hajatan digelar secara meriah di tempat Tyas. Ibu maklum sekali denga napa yang diinginkan keluarga Tyas. Apalagi Tyas dapat kamu yang hidupnya sudah sangat mapan. Mungkin ibunya dan juga Tyas malu kalua pernikahan Tyas dengan kamu hanya digelar ala kadarnya. Namun yang ibu pikirkan adalah keselamatan semuanya. Ini kondisinya adalah kondisi yang bukan biasa. Kita harus memahami hal itu Cahyo.”
Cahyo yang terlihat masih emosi kemudian dinasehati oleh bapaknya.
Pak Suryo berkata,”Cahyo anakku…bapak ingatkan yah… hormati ibumu. Janganlah mudah emosi jika menghadapi persoalan yang rumit. Emosi hanya akan membuat otak tidak bisa bekerja dengan baik untuk berpikir mencari solusi. Dinginkan kepalamu, tenangkan hatimu kemudian berpikirlah. Uraikan apa masalah mendasarnya. Uraikan satu per satu. Nanti jika akar masalahnya sudah didapat maka solusinya pasti akan ketemu.”
Pak Suryo menambahkan,”Kamu belum menikah. Nanti kalau sudah menikah, persoalan yang datang dalam kehidupan rumahtangga tak henti-hentinya. Itu semua adalah untuk menguji seberapa kuat komitmen dalam berkeluarga. Dua pribadi yang berbeda menjadi satu dalam ikatan perkawinan pastilah akan tidak mudah untuk bertahan jika satu sama lain egois dan mau menang sendiri. Ini ujian pertama yang dikasih Allah adalah bagaimana menyelesaikan persoalan bagaimana hajatan digelar sesuai keinginan keluarga Tyas namun aman untuk semuanya di tengah pandemic covid-19 ini.”
Cahyo yang dari tadi emosi setelah terima pesan whasapp dari Tyas mulai mereda.
Cahyo berkata,” Iya pak Cahyo paham dan terimakasih sudah diingatkan. Namun bagaimana ya pak untuk bilang ke Tyas jika mereka tetap bertahan untuk menggelar acara hajatan secara besar-besaran sementara kondisinya seperti ini. Cahyo tidak mau mengecewakan Tyas dan keluarganya.”
Bu Suryo yang masih sedih karena disalahpahami oleh putranya sendiri berkata,” Cahyo putraku…ibu berpesan ya nak…kamu harus bersikap adil. Sekarang Tyas belum syah jadi istrimu dan orangtuany belum syah jadi mertuamu, namun nada-nadanya kamu sudah condong untuk berpihak pada mereka dan tidak mau mendengarkan pemikiran ibu dan bapakmu sendiri. Jika nanti kamu sudah syah jadi suami istri dengan Tyas apakah berarti kamu merelakan dirimu dikendalikan oleh mereka?”
Mendengar ucapan ibu Cahyo menangis, istighfar dan meminta maaf pada ibu dan bapaknya. “Maafkan Cahyo bu..pak.. Cahyo telah bersikap yang menyakiti bapak dan ibu. Cahyo mohon selalu bimbingan ibu dan bapak. Walau Cahyo sudah berumur namun bukan berarti Cahyo tau segala-galanya.”
Kemudian mereka saling berpelukan untuk saling memaafkan atas kesalahpahaman yang terjadi. Mereka berdoa kelak semua berjalan lancar dalam acara akad nikah Cahyo dan Tyas.
Bersambung
Yogyakarta, 3 Oktober 2020
Sumber gambar : jemput.jemput.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
