Menantu Idaman - Cerpen bagian ke 8 ( Tamugusi ke - 67 )
Bagian 8 – Ngobrol tentang mahar
Sabtu pagi itu Cahyo ngobrol sama ibunya sebelum berangkat ke kantor. Bank tempat Cahyo menjadi kepala cabang tutup jam 11.00. Rencananya Cahyo akan langsung menjemput calon istrinya untuk belanja keperluan mahar nikah di Yogyakarta.
Sambil sarapan di ruang makan, mereka ngobrol tentang item apa saja yang harus diadakan sebagai mahar pernikahan. Tinggal menghitung hari menuju hari H namun mahar belum dipersiapkan. Masih sedang dipikirkan tentang berapa total nominalnya untuk keperluan membeli mahar. Tyas setelah konsultasi dengan ibunya menghendaki maharnya bukan sekedar seperangkat peralatan sholat. Mengingat Cahyo yang sudah sangat mapan kehidupannya, ia minta perhiasan emas lengkap, sejumlah uang dan juga pakaian lengkap mulai dari sepatu, sandal, tas perempuan, gaun dan lain-lain.
“Bu…rencana saya nanti sepulang kantor jam 11.00 mau langsung jemput Tyas untuk belanja persiapan mahar,” kata Cahyo pada ibunya.
“Iya gapapa. Kalau ibu boleh tau persiapan mahar apa saja yang akan dibeli?” tanya bu Suryo.
Cahyo membuka gawainya lalu membacakan pesan Tyas yang disimak sama ibu dan bapaknya. Reaksi bu dan pak Suryo menyimak pesan dari Tyas yang dibacakan Cahyo agak kaget dan keheranan. Namun berusaha untuk tidak reaktif mengingat putranya yang sedang sangat bahagia akan menikah dalam waktu dekat. Jangan sampai terjadi salah paham lagi seperti yang lalu ketika dikasih masukan. Orang yang lagi jatuh cinta biasanya ngeyel gak mau mau mendengar orang lain meski orangtuanya sendiri yang bilang.
“Kalau sebegitu banyak mahar yang diminta oleh Tyas maka kamu harus siap-siap menguras tabunganmu Cahyo,” kata ibunya setelah tau mahar yang diminta oleh Tyas.
“Iya dong bu. Kan gaji Cahyo selama ini hanya ditabung. Kemarin memang lumayan banyak keluar saat membuat rumah dan membeli perabotan. Namun Insha Allah masih cukup bu,” kata Cahyo
Ibunya bilang,”Untuk menikah kan keperluannya bukan hanya mahar loh Cahyo. Masih banyak keperluan lain yang juga membutuhkan dana. Jadi kamu harus mengatur benar keuanganmu. Harus ditulis semua yang dibutuhkan terkait dengan pernikahan. Sebab setelah pernikahan nanti juga masih ada acara unduh mantu dan sekaligus boyongan Tyas ke Yogyakarta. Semua itu harus dipikirkan dengan matang.”
“Kalau urusan ngunduh mantu kan jatahnya bapak sama ibu. Itu kan kewajiban ibu untuk membahagiakan Cahyo dan menantu ibu dan bapak. Tapi ibu sama bapak tenang saja nanti Cahyo juga bantu keuangan untuk acara unduh mantu.” jawab Cahyo.
Cahyo menambahkan,“Nanti Cahyo sama Tyas akan belanja di jalan Solo dan juga mungkin di pasar Beringharjo, Untuk toko emas yang bagus di mana ya bu. Ibu kalau belanja emas biasanya di toko apa nanti biar Cahyo beli di sana?”
Ibunya bilang,”Toko emas daerah Ketandan itu loh Cahyo. Sebelah barat persis pasar Beringharjo ada deretan toko emas yang bagus-bagus. Tapi ibu biasa beli di toko emas Mustika. Modelnya bagus bagus dan pelayanannya juga bagus. Kalau untuk pakaian beli saja di toko pakaian muslim Al Fath di Malioboro. Mereka juga biasa menerima pesanan untuk keperluan mahar yang sudah dikemas sedemikian rupa. Kamu tinggal pesan itemnya apa saja.”
“Baiklah bu..nanti Cahyo ajak Tyas ke toko toko yang direkomendasikan oleh ibu,” Jawab Cahyo.
“O ya bu pak…ini sudah jam 07.00 Cahyo berangkat dulu ke kantor, Assalamu’alaikum.” Cahyo berpamitan sambil mencium tangan bapak dan ibunya.
Ibu dan bapaknya serempak membalas salam,”Wa’alaikumsalam warahmatullah.”
Ibunya bertanya,”Nanti sehabis belanja pulang ke rumah dulu to?”
Cahyo menjawab,”Iya dong bu. Masa maharnya mau dikasihkan sekarang. Kan nanti bawanya pas hari pernikahan.”
Ibunya tersenyum sambil bilang,”Syukuirlah Cahyo kamu sudah paham.”
Cahyo bilang,”Anak siapa dulu dong.” Tapi ibu gak usah repot ya..nanti Cahyo bawa makan ke rumah supaya mbok Ijah tidak repot.”
Setelah Cahyo berangkat kerja mengendari CR-V merahnya, bu Suryo bilang sama suaminya,”Pak…semoga kita dapat menantu idaman yang bukan mau dengan Cahyo karena melihat Cahyo yang sudah sangat mapan ya pak. Namun ibu mau Tyas mencintai Cahyo dengan tulis ikhlas. Namun jujur ibu khawatir melihat permohonan mahar yang sebegitu banyaknya kalua Tyas menjadi matre. Sepertinya calon mertua Cahyo memanfaatkannya loh pak.”
Pak Suryo berkata,”Istighfar bu…ibu jangan su’udzon sama calon menantu dan calon besan. Kita berdoa saja semua akan baik-baik saja dan lancar semuanya.”
Bu Suryo menjawab,”Iya pak semoga saja demikian. Aamiin”
Bersambung
Yogyakarta, 4 Oktober 2020
Sumber gambar : jemput.jemput.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
