Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menantu Idaman - Cerpen bagian ke - 9 ( Tamugusi ke - 69 )

Menantu Idaman - Cerpen bagian ke - 9 ( Tamugusi ke - 69 )

Bagian 9 – Foto Prewedding

Cahyo sedang mencari informasi tentang jasa pembuat foto prewedding yang bagus di internet melalui gawainya yang bermerek Samsung. Dia menggeser-geser screen untuk mencari informasi yang pas di google.

“Cari informasi apa sih kok asyik banget?” tanya ibunya tiba-tiba mengagetkan Cahyo yang sedang asyik dengan gawainya di teras rumah sore itu.

Cahyo menjawab,”Ini loh bu lagi mencari jasa fotografer untuk membuat foto prewedding untuk dicantumkan dalam undangan dan untuk dicetak besar dan dipasang saat resepsi pernikahan nanti.”

Ibunya berkata,”Cahyo…ibu tak omong yo. Dalam syari’at Islam kan tidak dibenarkan to lelaki dan perempuan yang belum syah menjadi suami istri sudah harus berdua-duaan, berpose ria berdua-duan dengan sangat romatisnya. Foto prewedding itu kan bukan budaya kita. Saat kamu pergi berdua sama Tyas untuk belanja mahar sebenarnya dalam hati ibu melarang. Namun karena sudah terlanjur jadi ibu hanya berdoa semoga tidak ada syetan yang menggoda untuk terjadinya hal-hal yang belum boleh dilakukan pasangan yang belum syah jadi suami istri. Kita ini kan muslim yang ta’at maka sebisa mungkin ya harus mengikuti apa yang dihukumkan dalam Al Qur’an dan juga sunnah yang dijalankan oleh nabi agung Muhammad saw.”

Cahyo berkata,”Ibu…ini kan jaman sudah sangat modern jadi apa salahnya bu untuk mengikuti perkembangan zaman. Apa salah kalau untuk menunjukkan calon pasangan kita pada orang lain?”

Ibunya berusaha menasehati,”Begini ya nak… bukan tidak boleh mengikuti perkembangan jaman, namun kan kita harus tetap menjaga tuntunan. Jangan hanya karena alasan modernitas terus menabrak norma agama.”

Cahyo berkata sambil emosi,”Ibu ini kok kolot banget yah…apa-apa dilarang. Kalau gini Cahyo jadi tidak semangat. Ini kan momen langka. Harus dibuat sejarah seindah mungkin to bu. Apakah ibu tidak bahagia melihat Cahyo mau menikah? Bukannya ibu sudah mengidamkan menantu sejak lama. Ya didukung to bu apa yang dilakukan Cahyo dalam rangka menyambut hari parnikahanku sama Tyas.”

Mendengar ribut-ribut di teras pak Suryo yang dari tadi nonton berita di TV di dalam langsung keluar. Pak Suryo menegur Cahyo agar tidak boleh bicara dengan nada tinggi sama ibu.

“Apa yang sedang diributkan sebenarnya kok pakai emosi begitu?” tanya pak Suryo pada mereka berdua.

Cahyo berkata,”Ini loh pak..ibu itu selalu berkata tentang syari’at Islam kalau Suryo akan melakukan sesuatu. Masa mau membuat foto prewedding aja dilarang katanya melanggar syari’at Islam.”

Bu Suryo berkata,”Apa gunanya kita jadi orang Islam kalau dalam menjalani kehidupan ikut aturan orang lain yang tidak sesuai dengan syari’at Islam.”

Pak Suryo berkata,”Begini… bagaimana kalau ambil jalan tengah. Jangan terlalu kaku dalam menyikapi persoalan. Yang luwes saja supaya enak. Masa sejak mau nikah kok malah diisi dengan ketegangan antara ibu dan anak. Sungguh itu tidak elok. Harus ada win-win solution.”

Cahyo bertanya,”Terus apa solusinya pak?”

Bu Suryo juga bertanya,”Iya bagaimana pendapat bapak untuk masalah ini.”

Pak Suryo bilang,”Cari studio foto yang tidak terlalu jauh dari rumah kita. Kamu ambil foto beberapa. Tyas juga demikian suruh ambil foto beberapa gambar. Tidak harus di Yogyakarta. Foto saja di tempatnya sana terus hasilnya suruh kirim ke gawaimu. Nanti kan bisa diedit sedemikian rupa biar nampak indah dan alami. Namun hindari pose yang seolah kalian bersentuhan. Misal ambil pose Tyas sedang ngaji atau apalah begitu yang Isalmi. Kamu juga demikian Cahyo, ambil pose yang terhormat.”

Cahyo menjawab,”Apa nanti tidak lucu ya pak?”

Pak Suryo menjawab,”Ya tidak lah…serahkan saja pada tukang edit foto yang profesioanl. Pasti nanti hasilnya tidak mengecewakan.”

Bu Suryo berkata sambil memuji suaminya;”Bapak kok cerdas banget sih…belajar dimana to pak?”

Pak Suryo menjawab,”Belajar bisa dari mana saja. Walaupun umur saya sudah tua tapi kalau senang membaca kan jadi awet muda. Jadi terjaga kecerdasannya. Terhindar dari penyakit pikun.”

Cahyo berkata,”Baiklah pak..saya setuju dengan usul bapak yang bijaksana ini. Saya akan tilpun Tyas untuk foto yang bagus dan dikirim ke gawai Cahyo.”

Ibunya bilang,”Alhamdulillah, hajatmu untuk membuat foto prewedding terpenuhi tanpa harus melanggar norma agama. Terlebih juga ini masa pandemic jadi tetap jaga jarak karena dilakukan secara jarak jauh.

Pak Suryo menasheti,”Cahyo…jaga sikapmu. Tetap harus menunjukkan akhlak yang baik walaupun berselisih pendapat dengan ibumu.”

Cahyo langsung mengambil tangan ibunya untuk dicium sambil minta maaf. Ibunya tersenyum dan memeluknya.”Sudah ibu maafkan” jawab ibunya.

Bersambung

Yogyakarta, 6 Oktober 2020

Sumber gambar : jemput.jemput.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post