Sepulang Mengajar ( Tamugusi ke - 86 )
Oleh: Siti Nurhayati
Waktu itu sekolahku ada dua lokasi. Sekolah induk di dekat jalan raya sedangkan yang cabang ada di dalam kampung. Saat itu saya pas jadwal mengajar di sekolah cabang. Saya mengajar hingga jam terakhir yakni jam 14.00. Setelah para siswa semua pulang tinggal kami beberapa guru yang terakhir pulang.
Karena saat itu sepeda motor saya kurang sehat, maka saya ke sekolah diantar putraku. Saya minta dijemput saat selesai mengajar. Saat itu saya belum memiliki handphone, maka tidak bisa menghubungi segera setelah pelajaran di sekolah usai. Kebetulan putraku masih di kampus.
Jarak sekolah ke rumah sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 1.5 km saja. Kalau berjalan juga tidak lama sampai. Sekitar 15 menit atau 20 menit kalau jalan kaki. Hanya saja panas apalagi kiri kanan jalan aspal menuju rumah adalah sawah. Namun karena putraku tak kunjung terlihat akhirnya saya putuskan jalan kaki.
Saya berjalan pelan-pelan sambil membawa tas yang isinya beberapa buku dan berkas sekolah lainnya. Dan juga ada botol Tupperware yang masih berisi air putih separo. Tentu menjadi sedikit berat. Jalan dari sekolah ke jalan aspal melewati jalan kampung yang agak sepi. Saya berjalan agak menunduk kalau papasan orang baru saya mendongak untuk menyapa.
Lagi asyik berjalan menunduk saya merasa ada orang di depan saya. Pas saya mendongak ternyata benar ada orang. Dan orang itu ternayata seorang perempuan setengah baya yang mengalami gangguan kejiwaan. Dia pakai celana panjang dan kaos yang kumal. Rambutnya acak-acakan dan dia berjalan sambil menghisap es lilin dan bicara sendiri sambil tertawa-tawa.
Saya tetap berusaha tenang walau dalam hati gemuruh dan dag dig dug jantung ini. Saya berusaha menghindar namun jalan kampung kan tidak terlalu lebar. Juga saya mengenakan rok janjang yang agak sepan. Tidak mungkin kalau saya berlari masuk pekarangan orang. Sementara orang yang mengalami gangguan jiwa itu malah semakin mendekati saya. Saya teriak-teriak minta tolong karena orang itu benar menuju ke saya dan berhasil memeluk saya. Dia menarik jilbab saya ke belakang hingga wajah saya menghadap ke langit dengan mulut yang ternganga. Dia memaksa saya untuk membuka mulut dan es lilinnya mau dimasukkan ke mulut saya.
Mendengar teriakan saya ada seorang ibu sudah agak sepuh lari keluar rumah untuk menolong saya. Ibu itu mengambil sapu lidi yang berada di samping pintu rumahnya dan berlari ke arah saya dan orang gila itu. Dia mengusir orang itu sambil memukulkan sapu lidi ke badannya. Herannya orang itu kok takut sama sapu lidi. Dia lepaskan saya dan lari terbirit birit menjauh dari saya sambil ngomel-ngomel kepada ibu yang memukul dengan sapu lidi itu.
Saya langsung menyalami ibu sepuh itu sambil mengucapkan terimakasih yang sangat mendalam karena telah menyelamatkan saya dari orang yang sedang mengalami gangguan jiwa itu. Saya disuruh ke rumahnya untuk ditenangkan. Saya masih deg-degan dan pucat pasi karena ketakutan. Saya duduk sejenak di rumah ibu sepuh itu lalu minum segelas air putih hangat. Setelah tenang saya diantar pulang oleh cucunya. Ibu sepuh itu sungguh baik. Allah menolong saya dengan perantaraan ibu sepuh tadi.
Maguwoharjo, 19 Oktober 2020
Sumber gambar : Galeri pribadi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
