Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tengok Kampung Suami   ( Tamugusi ke - 76 )
Lamakera Solor Timur

Tengok Kampung Suami ( Tamugusi ke - 76 )

Oleh: Siti Nurhayati, M. Pd.

Pertama kali pulang ke kampung suami rasanya senang banget walaupun penuh perjuangan. Desa Lamakera kecamatan Solor Timur kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur adalah asal suamiku. Letaknya di sebuah pulau kecil yang hanya berisi dua kecamatan yakni Solor Timur dan Solor Barat.

Keuangan kami masih sangat payah, namun karena tekad yang kuat untuk menengok orangtua, maka suami berusaha keras bagaimana pun caranya. Atas ijin Allah, kami bisa pulang, tak lama setelah saya selesai program KKN tahun 1992.

Kami menikah tahun 1989, masih status mahasiswa. Saya semester 5, suami baru selesai KKN. Saya KKN tahun 1992 membawa anak yang masih berumur 18 bulan. Suami mencari nafkah menjadi guru honor dan mengajar ngaji di beberapa tempat. Suami bahkan bisa membeli kendaraan sendiri meski bukan baru. Alhamdulillah kemana-mana naik Vespa PX.

Mencari tiket kapal laut saat itu tidak semudah yang dibayangkan meski sudah ada uang. Suami mendatangi beberapa agen tiket di Yogyakarta, namun hasilnya nihil. Banyak tiket yang diborong calo untuk dijual lagi dengan dinaikkan lagi harganya. Suami putuskan untuk tetap berangkat ke Surabaya dan mencari tiket di sana.. Tentu saja kami belum mampu mencari tiket pesawat terbang.

Bertiga nekad berangkat naik kereta api ekonomi ke Surabaya. Jaman itu PT KAI belum menangani perkeretaapian sebagus sekarang. Kereta api ekonomi pastilah penuh sesak dengan pedagang asongan serta para pengamen. Di dalam gerbong kereta panas sekali. Walau ada kipas angin, namun penumpangnya kebanyakan jadi panas. Jika ada kereta eksekutif lewat pasti kereta yang kami naiki berhenti. Anakku yang belum genap dua tahun rewel karena panas dan tidak nyaman.

Kakak kandung saya kebetulan tinggal di Surabaya maka kami transit dan bermalam di tempat kakak di komplek TNI AL Kenjeran. Keesokan harinya, kami diantar kakak ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Pelabuhan Tanjung Perak penuh sesak orang. Banyak juga yang belum pegang tiket karena susah cari tiket resmi. Tiket diborong sama calo. Berkeliaran calo menawarkan tiket diam-diam ke para calon penumpang kapal.

Suami mencari kenalan orang yang sama-sama mau pulang kampung yang sudah punya tiket untuk bisa pinjam tiketnya sekedar bisa naik ke atas kapal. Caranya adalah dengan pura-pura jadi pengantar lalu membawakan barangnya, setelah itu dipinjam tiketnya untuk ambil istri dan anaknya naik kapal.

Di atas kapal suami langsung menemui awak kapal lapor belumpunya tiket dan mau beli tiket. Sudah berusaha beli di agen resmi tapi tidak dapat sementara harus pulang kampung karena ada urusan yang sangat mendesak. Akhirnya suami dapat tiket di atas kapal dengan harga yang sedikit agak mahal.

Untuk bisa sampai ke kampung halaman suami dengan naik kapal Kelimutu itu rutenya cukup panjang. Bisa dibayangkan lelahnya. Pelabuhan pertama yang disinggahi adalah Pelabuhan Benoa Bali. Berikutnya adalah Lombok, setelahnya baru ke Maumere. Di Pelabuhan Maumere baru kami turun dari kapal.

Saat kapal berlabuh, adalah pemandangan yang mengasyikkan. Yang dari atas kapal turun dulu hingga habis lengkap dengan barang bawaan mereka masing-masing. Setelah itu penumpang yang akan naik dipersilahkan naik ke kapal. Penumpang lain yang masih harus melanjutkan perjalanan juga boleh turun jika waktunya masih cukup. Sekedar untuk jalan-jalan di sekitar pelabuhan, yang penting tiket dibawa dan jangan sampai hilang.

Di pelabuhan Maumere Flores tengah kami turun, karena kapal tidak singgah ke Larantuka namun langsung ke Alor. Dari Maumere terpaksa naik oto untuk lanjut perjalanan ke Ende. Otonya itu sebenarnya adalah truk yang dikasih dikasih atap dan bangku untuk duduk para penumpang. Kami transit di Ende. Kami menginap di penginapan kecil di kota Ende. Namun setelah ketemu paman suami, kami disuruh nginap di tempat paman.

Di tempat paman suami, saya merasakan pusing. Rasanya seperti bumi bergoyang-goyang. Efek goyangan di atas kapal. Apalagi kalau pas kapal melewat selat, sungguh dahsyat hempasan ombak laut menghantam badan kapal, Barang-barang yang di atas kapal sampai berjatuhan. Terpaksa harus bermalam hingga dua malam di Ende karena menunggu saya sehat.

Besoknya lanjut perjalanan Ende ke Larantuka. Sungguh mengerikan perjalanannya. Sudah jalanan sempit, melewati tebing yang berkelok-kelok. kalua papasan kendaran dengan oto lain, satunya harus mengalah agar tidak terjadi tabrakan. Suami yang harusnya menjaga saya malah mabok. Dia muntah hampir sepanjang jalan. Bayangkan, saya harus menahan rasa takut sambil menjaga anak dan suami.

Setelah perjalanan yang mengerikan, kami tiba di Larantuka. kami menuju pelabuhan untuk melanjutkan naik kapal kecil atau speed boat yang mesinnya sangat berisik menuju desa Lamakera. Sekitar 2 jam kami akhirnya sampai di kampung halaman suami.

Kapal kecil itu merapat ke pantai lalu lempar jangkar untuk menahan agar kapal tidak terbawa ombak. Setelah itu penumpang turun. Saat itu saya bingung bagaimana turunnya. Ternyata mereka dari kapal lonpat turun ke pantai. Caranya adalah ketika ombak balik dari pantai ke laut di situ mereka lonpat turun, sehingga tidak basah pakaian yang mereka pakai. Namun jika pas barengan dengan ombak ke pantai bisa dipastikan pakainnya basah. Karena saya takut melompat maka terpaksa saya merelakan diri untuk digendong turun oleh orang-orang yang menyambut kami di pantai.

Untuk sampai ke rumah mertua dari pantai masih harus jalan naik ke atas melewati tangga sebanyak 37 panjatan. Abah sama mama sangat gembira menyambut kami. Saudara-saudara berdatangan ke rumah untuk ngobrol dengan kami.

Saat itu desa suami listrik nyala hanya malam hari. Listrik dari PLN belum ada. Mereka menggunakan Genset. Warga dapat 30 watt per keluarga dan membayar 30.000 rupiah per bulan. Air bersih yang tawar pun susah, harus beli ke pulau seberang. Bersyukur yang hidup di Jawa karena listrik nyala 24 jam. Wajar kalau pulau Jawa padat penduduk karena enak ditinggali.

Yogyakarta, 11 Oktober 2020

Sumber gambar : salampapua.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post