Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dibonceng Sepeda Ontel pak Guru Lomba di Kecamatan  (Tamugusi ke - 168)
Boncengan Sepeda

Dibonceng Sepeda Ontel pak Guru Lomba di Kecamatan (Tamugusi ke - 168)

Dibonceng Sepeda Ontel pak Guru Lomba di Kecamatan

Oleh: Siti Nurhayati, M.Pd.

#HGN 2020

Usianya saat itu sekitar 45 tahun. Posturnya sedang, tidak tinggi tidak pendek, tidak gemuk tidak kurus. Wajahnya masuk katagori tampan. Kulitnya pada umumnya orang Jawa adalah sawo matang. Rambutnya pendek, hitam, sedikit bergelombang. Suaranya sangat merdu saat mengajarkan tembang Jawa. Beliau bernama pak Sudar.

Sebagai guru kelas belau harus menguasai semua mata pelajaran SD untuk kelas V kecuali Pendidikan Agama Islam dan Penjaskes ada gurunya tersendiri. Saat sedang menjelaskan setiap materi pelajaran, anak-anak menyimak dengan seksama. Suaranya yang lantang serta gerakannya yang lincah berjalan ke sana ke mari membuat seluruh kelas merasa sedang diperhatikan beliau.

Saat akan ada lomba macapat antar sekolah tingkat kecamatan beliau mengajari kami dua tembang. Tak kenal lelah belaiu ajari kami agar bisa nembang dengan baik dan benar. Pertama di tulis di papan tulis hitam dengan kapur putih dua lirik tembang macapat yakni Mijil dan Dandang Gula. Dengan memegang tuding dari bambu yang ditunjukkan ke baris demi baris lirik tembang tersebut, beliau melafalkan sambil melagukan lalu murid-murid menirukan.

Waktu lomba masih tersisa satu pekan. Pak Sudar meminta saya untuk tidak pulang dulu selepas jam sekolah usai. Beliau melatih saya nembang lagu Mijil dan Dandang Gula hingga hafal dan tidak ada yang keliru. Tante saya yang juga kelas lima SD menemani saya hingga waktu latihan selesai baru kami pulang berdua jalan kaki.

Pak Sudar selalu memuji saya karena saya sangat berbakat di bidang seni. Teman-teman yang lain nabuh gamelan saya yang nyinden, teman-teman memainkan angklung saya nyanyi, juga saat ada pentas Agutusan juga diminta menari dan main drama bersama teman-teman. Tidak heran saya juga yang diminta mewakili sekolah untuk lomba Macapat.

Hari H lomba pun tiba. Hari itu saya diijinkan untuk tidak ikut pelajaran sekolah karena harus ke kecamatan untuk lomba. Pak Sudar dengan sepeda ontel mendatangi rumah saya dan minta ijin ibu saya untuk membawa saya ikut lomba di kecamatan Kalibagor. Ibu saya dengan senang hati membolehkan.

Setelah sarapan dan sudah berseragam merah putih, saya berangkat membonceng sepeda pak guru menuju kota kecamatan. Perjalanan lumayan jauh karena melewati beberapa desa. Kurang lebih lima kilo meter jaraknya. Sambil memedhal beliau memotifasi saya agar jangan takut jangan gugup tetap tenang saat tampil lomba. Kalau gugup bisa lupa apa yang sudah di hafal. Saya hanya mengangguk sambil bilang , “Nggih pak.”

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit kami berdua sampai di kecamatan. Telah ramai berkumpul para peserta lomba dari berbagai sekolah satu kecamatan. Mereka nampak siap dan percaya diri. Jujur saya agak gugup karena baru pertama kali mengikuti lomba macapat di kecamatan.

Saya bergabung di ruang aula kecamatan untuk mendengarkan pengarahan dari para yuri lomba. Kemudian peserta lomba diminta maju untuk mengambil nomor urut lomba. Saya maju dan mendapat nomor urut 10. Saya duduk kembali sambil mendengarkan penjelasan selanjutnya.

Acara lomba dimulai. Satu per satu peserta maju untuk nembang dua lagu. Lagu wajib adalah Mijil lagu pilihan adalah bebas. Para peserta dari sekolah lain cukup bagus performanya. Saya terus menyaksikan mereka tampil sambil berdoa dalam hati. Pak Sudar terus mengamati saya dan memberi bahasa isyarat agar tampil percaya diri.

Tiba giliran saya. Saya mengambil nafas dalam. Berdoa sebentar terus maju berdiri di hadapan yuri. Saya nembang dua lagu dengan percaya diri. Setelah selesai saya tengok pak guru lalu belaiu mengacungkan dua jempolnya. Saat pengumuman saya juara dua.

Pak Sudar memberikan pujian. Beliau nampak senang dan bangga walau saya belum berhasil juara pertama. Sebelum sampai rumah beliau mengehntikan sepedanya di depan warung soto, saya diajak jajan Soto Sokaraja dulu. Rasanya senang tapi malu makan soto berdua dengan pak guru.

Berdua lanjut boncengan lagi setelah kenyang makan soto. Sepanjang jalan pulang beliau cerita banyak hal. Intinya memotifasi saya agar belajar lebih giat lagi supaya ke depan jika ada lomba-lomba bisa juara, juga untuk meraih mimpi indah di masa depan. Tak lama kami pun sampai di rumah saya. Beliau memulangkan saya. Ibu senang melihat saya kembali dengan selamat.

Selamat Hari Guru Nasional 2020

Maguwoharjo, 25 November 2020

Sumber gambar: ikampoeng.wordpress.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post